Anggaran Pelatnas Asian Games 2018 Dipotong, PB/PP Gelisah

JAKARTA, KRJOGJA.com – Menpora Imam Nahrawi dalam sosialisasi menjanjikan akan mendukung persiapan kontingen Indonesia menghadapi Asian Games 2018 dengan target menembus 10 besar. Namun, induk cabang olahraga (PB/PP) tetap saja gelisah terkait masalah anggaran pelatnas yang tidak sesuai harapan. 

"Kalau pasokan anggaran pelatnas yang kita usulkan terlalu banyak dipotong dan jumlahnya tidak mencukupi yah terpaksa jadi penyelenggara saja. Apalagi, kita dituntut mempertanggung jawabkan penggunaan anggaran negara tersebut," kata Ketua Umum Pengurus Besar Modern Penthatlon Indonesia (PB MPI), Anthony Sunarya di Jakarta.

Persiapan menuju Asian Games 2018, kata Anthony Sunarya, PB MPI telah mengajukan program pelatnas untuk delapan atlit dengan anggaran Rp20 miliar. Anggaran tersebut meliputi akomodasi, pembelian peralatan latihan dan tanding, uji coba keluar negeri, honor atlit dan pelatih serta offisial pendukung. 

"Kita memang menyadari MPI itu memang olahraga yang baru berkembang dan tidak bisa menjanjikan target medali. Jadi, kita tidak terlalu banyak menuntut. Tapi, jika Tim Verifikasi Anggaran melakukan potongan mencapai 70 persen itu sangat jauh dari harapan. Minimal kita harus dapat pasokan anggaran Rp10 miliar. Untuk biaya peralatan latihan dan tanding saja yang praktis harus dibeli saja sudah mencapai Rp3 miliar," jelasnya. 

Kegelisihan juga dialami cabang olahraga Kurash. Sekjen Pengurus Besar Kurash Indonesia (PB KI), Lukman Husein yang dihubungi secara terpisah mengatakan, pihaknya hanya mendapat anggaran Rp4,5 miliar dari Rp17 Miliar yang diusulkan. Apalagi, dana itu hanya dialokasikan membiayai tujuh atlit pelatnas dari 14 atlit pelatnas yang diusulkan.

Yang sangat disayangkan Lukman, Tim Verifikasi Anggaran, melakukan pemotongan anggaran dengan hanya membiayai tujuh atlit tanpa melihat masalah teknis pertandingan. 

"Kita merekrut  empat belas atlit pelatnas yang tampil di tujuh kelas itu biar ada sparring partner. Sebagai tuan runah, kita jelas dirugikan dengan hanya menurunkan 7 atlit tampil di tujuh kelas berbeda sementara negara lain menurunkan 2 atlit setiap kelas. Ini kan masalah teknis. Kasihan atlit kita kalau sampai menghadapi dua peserta dari satu negara ," kata Lukman. (Fon)

BERITA REKOMENDASI