Saka Galih Juara Linduaji Championship 2018

YOGYA, KRJOGJA.com – Prestasi membanggakan diraih fighter Yogyakarta asal Joglo Camp, Saka Galih (30) yang turun di ajang kickboxing nasional LAC Linduaji Championship XV 2018. 

Galih berhasil menang KO atas petarung Jakarta Deni Aprilia dan berhak atas juara kelas 63 kilogram. Dalam kejuaraan yang dilangsungkan di Boyolali 15 Desember lalu, Galih harus menghadapi lawan yang secara postur lebih tinggi dengan jangkauan kaki dan tangan yang tentu lebih jauh. Namun begitu, fighter asli Suryowijayan, Mantrijeron Yogyakarta ini mampu tampil tenang dan menang KO di ronde kedua. 

Galih di Joglo Camp, Selasa (18/12/2018) menceritakan pengalaman menariknya meraih juara di ajang paling bergengsi di Kickboxing Indonesia. Saat mulai timbang badan, Galih mengaku tidak menyangka lawan yang dihadapi bertinggi badan jauh melebihi dirinya. 

"Ketika masuk octagon kok ternyata tinggi sekali dan besar, meski sama-sama 63 kilogram ya sempat berpikir juga. Tapi kemudian bisa fokus dan ternyata bisa menang KO di ronde kedua,” ungkapnya tersenyum. 

Jab tangan kiri awalnya membuat sang lawan terjatuh, tapi masih bisa meneruskan pertandingan. Namun sebuah middle kick di ronde kedua ternyata membuat sang lawan tak mampu meneruskan pertarungan dan wasit menyatakan Galih sebagai juara kelas 63 kilogram. 

“Kaget juga bisa menang apalagi dengan KO lagi. Sangat bersyukur karena persiapan yang saya lakukan tiga tahun terakhir tidak mengkhianati. Ini memotovasi saya kedepan untuk mengembangkan diri,” sambung fighter yang sempat berprofesi sebagai penjaga travel agen ini. 

Cerita Galih pun lantas berlari jauh ke belakang sebelum akhirnya terjun sebagai fighter profesional di Joglo Camp. Menjadi petarung jalanan yang tak kenal menghargai lawan pun sempat dilalui sebelum akhirnya memutuskan masuk dalam dunia profesional. 

“Bisa dikatakan dulu saya itu ya berangkat dari jalanan. Gaya-gayaan berkelahi di jalan sering tapi kemudian berpikir untuk serius. Belajar serius dan masuk Joglo Camp. Akhirnya malah menemukan makna sebenarnya olahraga bertarung ini, bukan lagi gaya-gayaan tapi bagaimana menguasai diri sendiri,” lanjutnya tersenyum. 

Kini, setelah meraih gelar tertinggi di kejuaraan kickboxing tanah air, Galih masih berkeinginan untuk bisa masuk ke ajang tarung bebas One Pride MMA yang reguler digelar di salah satu televisi swasta nasional. Latihan keras, pengorbanan waktu, fisik, teknik dan mental dilakukan demi meraih cita-cita menang di ajang tersebut. 

“Saya masih akan terus memacu diri saya, mudah-mudahan bisa menang di MMA, pokoknya sampai tubuh saya tidak mampu. Baru setelah itu saya ingin menularkan ilmu dan pengalaman yang saya miliki pada junior-junior yang tertarik dengan olahraga ini. Ada penerus saya, intinya,” lanjut dia. 

Sementara pemilik Joglo Camp, Andi Joglo mengaku siap mendukung penuh fighter-fighter DIY yang berniat mendulang prestasi di olahraga kickboxing, muangtai maupun tarung bebas. Ia berharap keseriusan yang dilakukan Joglo Camp mampu menginspirasi banyak pihak untuk mengembangkan olahraga beladiri tersebut di DIY. 

“Kami memang mungkin satu-satunya di DIY yang eksis ke kejuaraan nasional. Kami apresiasi raihan Galih ini dan kebetulan memang kami punya alat lengkap dan trainer yang cukup handal, jadi siapa saja yang tertarik bisa bergabung. Yang suka berkelahi jangan hanya di jalanan tapi di sini, kita arahkan dengan positif,” ungkapnya. 

Prestasi fighter Joglo Camp Yogyakarta sendiri bukan kali pertama ini saja diukir. Sebelumnya, salah satu m fighter Joglo yakni Tri Suwarno juga berhasil menang di kelas 70 kilogram kejuaraan tarung bebas One Pride MMA. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI