Badai Baru dalam Keluarga: Sandwich Generation

KELUARGA merupakan unit terkecil dari masyarakat yang sangat berperan dalam kehidupan. Keluarga menjadi pilar pertama dan utama dalam membangun ketahanan nasional. Namun, Berbagai masalah tak jarang ditemui berasal dari keluarga. Ketidakutuhan orang tua, situasi toxic dalam keluarga, masalah ekonomi dan berbagai masalah lain menjadi pemicu munculnya berbagai masalah lain dalam kehidupan. Salah satu yang patut diwaspadai adalah masalah yang dikenal dengan istilah sandwich generation.

Sandwich generation merupakan sebutan yang pertama kali diperkenalkan oleh seorang pekerja sosial dari Amerika bernama Dorothy Miller (1981). Istilah tersebut untuk menggambarkan seorang individu yang harus mencukupi kebutuhan ekonomi dalam waktu bersamaan kepada banyak pihak. Secara singkat dan mudah istilah tersebut dapat dipahami sebagai generasi yang “terjepit” serperti roti sandwich yang sering kita lihat. Istilah ini digunakan karena generasi ini “terjepit” oleh beban yang secara bersamaan muncul yaitu orang tua dan anak menjadi beban secara bersamaan. Beban ini muncul sebagai bentuk tanggung jawab untuk merawat, baik secara ekonomi, fisik dan psikologis.

Masalah generasi sandwich ini menjadi penting untuk diketahui dan ditangani karena pada tahun 2025, prediksi dari UNFA Indonesia (2014) jumlah lansia di Indonesia sebanyak 33.7 juta jiwa dan pada tahun 2035 akan menjadi 48,2 juta. Sementara itu, menurut BPS (2021) individu pada usia 0 – 14 tahun atau usia anak-anak mencapai 66.362,8 juta jiwa dari total seluruh populasi penduduk Indonesia. Hal ini menunjukkan penduduk yang perlu untuk mendapatkan bantuan dan memiliki kemungkinan menjadi beban dalam keluarga cukup tinggi. Hal tersebut perlu mendapat perhatian khusus agar tidak terdapat masalah generasi sandwich di Indonesia.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apa yang menjadi penyebab dari terjadinya generasi sandwich ini? Minimal ada tiga penyebab munculnya sandwich generation. Pertama, adalah kebiasaan dan pendidikan finansial tidak memadai serta tidak diajarkan dengan baik dari generasi ke generasi. Kebiasaan dan Pendidikan finansial dianggap sebagai sesuatu yang akan bisa secara langsung dipelajari secara alami seiring perjalanan waktu. Saat masih kanak kanak banyak diantara kita yang terbiasa diberikan atau memberikan uang saku yang terus meningkat jumlahnya, seiring dengan jenjang pendidikan atau perubahan usia. Hal tersebut pada akhirnya membentuk kebiasaan untuk memperoleh pendapatan pasif yang didapatkan oleh orang tua, dan membuat seorang anak atau individu menjadi pribadi money-oriented. Selain itu, ketergantungan model seperti ini akan menyebabkan individu kesulitan mengatur keuangan. Penyebab kedua adalah karena kurangnya kesiapan dan perencanaan terhadap hari tua seorang individu pasca memasuki usia pensiun.

Kebiasaan untuk menabung dan melakukan investasi jangka panjang tidak banyak dilakukan oleh individu. Hal ini tampak dari pola penggunaan keuangan dalam rumah tangga yang masih cenderung menyisihkan dahulu gaji untuk kebutuhan pokok dan baru menyisakan untuk tabungan di hari tua. Belum memikirkan strategi tentang keuangan di esok kemudian hari menjadi masalah yang mendorong terciptanya generasi sandwich ini. Penyebab ketiga adalah, karena dalam keluarga terdapat kecenderungan untuk lebih dahulu memenuhi kebutuhan tersiernya daripada kebutuhan yang primer maupun sekunder. Individu cenderung terjebak dalam masalah yang dikenal dengan istilah BPJS (Biaya Pas-Pasan, Jiwa Sosialita). Individu cenderung untuk mengikuti gaya hidup agar bisa lebih eksis, memperoleh pujian dari orang lain, padahal mereka belum mampu untuk mengikuti standar kehidupan tertentu.

Masalah ini jika tidak ditangani akan menimbulkan dampak lebih besar yang mengancam keutuhan dan ketahanan dalam keluarga. Dampak yang paling akan dirasakan adalah stress dari individu. Individu akan mengalami tekanan yang cukup berat karena harus memikul beban ganda. Tidak tertutup kemungkinan tekanan dan stress ini akan mendorong terjadinya depresi atau bahkan bunuh diri. Selain masalah stress, dampak lain yang akan dirasakan tentu adalah masalah keutuhan rumah tangga. Perceraian bisa terjadi karena individu tidak mampu mengurai masalah beban ganda ini. Hal ini tentu bisa disertai dengan adanya kekerasan terhadap anak, maupun pasangan. Dampak ketiga tentu berkaitan dengan lilitan hutang karena banyak sekali pinjaman untuk menutup berbagai kebutuhan ekonomi dalam keluarga. Hutang yang dilakukan tidak hanya dalam jumlah ratusan, tapi bisa jutaan bahkan puluhan juta.

Masalah ini oleh karena itu harus mendapatkan solusi dengan segera. Terdapat beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk menghindari dan menyelesaikan masalah generasi roti lapis (sandwich) ini. Pertama, perlu segera dilakukan pendidikan finansial bagi generasi muda. Pendidikan bisa dilakukan dengan menyatu pada mata pelajaran atau materi belajar dengan basis problem based learning. Kedua juga perlu untuk penyiapan menghadapi masa pensiun. Penyiapan ini tidak hanya dilakukan dua atau tiga tahun menjelang pensiun. Namun dilakukan justru pada saat individu memasuki usia emas dalam bekerja. Ketiga adalah individu juga harus melepaskan beban psikologi untuk menghindari stress dengan meluangkan waktu untuk tetap memelihara kebahagiaan dan harapan. Individu perlu untuk memulai kehidupan sehat, dengan berolahraga secara rutin, makan makanan sehat dan menjaga pola tidur. Apabila memang sudah tidak mampu menghadapi maka perlu untuk mencari bantuan dari orang lain yang lebih ahli. (Dr. Dody Hartanto, S.,Pd., M.Pd. Wakil Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Dosen Prodi Bimbingan dan Konseling Universitas Ahmad Dahlan)

BERITA REKOMENDASI