Bawahan Gaptek? Ini Yang Harus Dilakukan Pimpinan

Editor: Ivan Aditya

DALAM sebuah instansi, terlebih insatnsi pemerintahan masih banyak pegawai yang mengeluh akan sistem birokrasi yang serba digital. Kebanyakan yang mengeluh itu dari kaum baby boomer yang memang tidak pernah merasakan teknologi sebelumnya alias gaptek (gagap teknologi).

Kaum baby boomer merupakan generasi yang dikelompokkan berdasarkan tahun lahir yang mana lahir diantara tahun 1946 – 1964 atau selepas Perang Dunia II. Hal ini sudah menjadi patokan oleh seluruh dunia. Pew Research Center, adalah lembaga riset asal Amerika Serikat yang telah mendefinisikannya.

Saat ini pemerintah memang sedang gencar-gencarnya meningkatkan kualitas pelayanan berbasis teknologi dan semua pegawai dituntut untuk menguasai teknologi tersebut guna menciptakan birokrasi yang efektif dan efisien.

Tidak dipungkiri lagi bahwa perkembangan teknologi saat ini terus berkembang. Sistem komunikasi telah terbentuk seiring meningkatnya penggunaan internet. Di Indonesia sendiri, menurut kominfo jumlah pengguna internet mencapai 202,6 juta orang per Januari 2021. Ada kenaikan 15,5% atau lebih dari 27 juta orang dalam kurun waktu 12 bulan bila dibandingkan dengan jumlah pengguna internet pada tahun sebelumnya.

Data dari Hootsuite dan We Are Social, jumlah penduduk RI menyentuh di angka 274,9 juta jiwa. Itu artinya ketika ada 202,6 juta pengguna internet, sekitar 73,7% warga Indonesia sudah asyik berselancar di dunia maya.

Ini merupakan celah bagi Pemerintah yang mempunyai tujuan untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia berbasis teknologi digital. Jadi, bagaimana dengan para kaum baby boomer yang masih gaptek?

Generasi baby boomer memang terlahir di masa teknologi belum secanggih sekarang. Jika ingin bertahan, mau tidak mau mereka harus belajar dan beradaptasi dengan sistem teknologi saat ini. Akan tetapi, beberapa sudah berupaya untuk mengikuti arus dengan mempelajari sistem teknologi.

Namun, seorang pemimpin juga diperlukan untuk terlibat dalam proses adaptasi yang dilakukan oleh kaum baby boomer ini. Peran yang sangat krusial yang bisa menjadikan organisasi maju dan berkembang dengan adanya teknologi yang mendampinginya. Selaras dan sejalan dengan tujuan dari organisasi.

Birokrasi dengan sistem digital sangat dibutuhkan di masa sekarang ini, terlebih saat ini masih ditemui birokrasi yang rumit dan bertele – tele. Birokrasi dituntut untuk lebih efektif dan efisien. Hal ini yang menjadi dasar sebuah institusi pemerintahan mengembangkan sistem berbasis teknologi.

Apa Yang Harus Dilakukan Pemimpin?

Pemimpin memang salah satu faktor penentu dalam organisasi, yang mana keputusan yang diambil akan menentukan nantinya mau dibawa ke mana instansi yang dia pimpin. Pemimpin mempunyai peran penting dalam menjaga keselarasan dalam organisasinya.

Tipe pemimpin transformasional menjadai idaman bagi para bawahannya saat ini. Maka dari itu, pemimpin harus mempunyai cara bagaimana meningkatkan kualitas dari para bawahannya, sehingga tidak menyusahkan bawahan tersebut dan malah berbalik mendukung kepemimpinannya.

Pertama, pemimpin harus mempunyai visi yang jelas. Sampaikan dengan tegas dan jelas kepada bawahan tentang visi yang akan dia pakai untuk memimpin organisasi dan sejalan dengan tujuan dari organisasi. Terutama kepada kaum baby boomer yang notabene generasi yang mungkin sedikit susah untuk diberitahu karena merasa bahwa kaum baby boomer ini sudah tua dan sudah tidak mampu untuk berfikir berat.

Dengan melakukan komunikasi personal dengan bawahan, akan membuat bawahannya menjadi percaya diri dengan kemampuannya bahwa dirinya bisa melakukan hal tersebut. Dan juga merupakan salah satu cara dalam menyampaikan visi dari organisasi. Dengan demikian menjadi semangat dalam beradaptasi dengan teknologi saat ini.

Kedua, pemimpin harus mensosialisasikan sistem – sistem baru yang telah dikembangkan. Sosialisasi adalah salah satu kegiatan yang saat ini digunakan untuk memberikan informasi mengenai suatu hal baru. Dalam hal ini mensosialisasikan sistem – sistem baru yang sudah dikembangan oleh bagian IT dari instansi tersebut.

Ketiga, mengadakan pelatihan tentang kesisteman. Memberikan pelatihan bagi bawahan yang belum mengetahui bagaimana cara mengoperasikan sistem yang baru tersebut. Butuh kesabaran dan kesinambungan dari seorang pemimpin untuk memberikan edukasi kepada bawahannya, agar terbiasa dengan adanya sistem baru dalam organisasi.

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tidak hanya memerintah dan memberi tugas kepada bawahannya, akan tetapi juga memberikan edukasi dan dorongan semangat untuk tercapainya visi dan misi dari instansi tersebut. Selain itu menjadi role model bagi bawahannya, sehingga bawahannya yakin dan percaya dengan pimpinan yang akan memimpin mereka.

Mengkomunikasikan segala hal yang berkaitan dengan tugas dan fungsi, menjadi perhatian lebih bagi pimpinan sehingga bawahan merasa diperhatikan dan yang pasti akan meningkatkan motivasi kinerja dari bawahan tersebut.

Tipe Pemimpin Transformasional

Tipe pemimpin ini mempunyai kharismatik dan karakteristik yang mumpuni untuk memimpin sebuah organisasi. Selain itu, Bernard Morris Bass seorang pendiri Leadership Quarterly di Amerika Serikat, mengatakan bahwa pemimpin transformasional juga mempunyai beberapa komponen yang mendukung dalam memimpin organisasi.

Yang pertama adalah Inspirational Motivation. Seorang pemimpin harus mempunyai visi yang jelas dan mampu menjadi inspirasi bagi bawahannya serta menjadi motivasi bawahan untuk bekerja lebih baik.

Yang kedua adalah Intellectual stimulation. Seorang pemimpin harus bisa mendorong kreatifitas dari bawahannya, sehingga menciptakan sebuah inovasi baru bagi organisasi.

Yang ketiga adalah Individualized Consideration. Menyeimbangkan proses komunikasi dengan bawahan. Hal ini membuat bawahan merasa selalu diperhatikan, sehingga bawahan dengan mudahnya menyampaikan ide-ide segar untuk kemajuan organisasi.

Yang keempat adalah Idealized Influence. Pemimpin yang baik tidak hanya bertindak menyuruh bawahan saja. Akan tetapi menjadi role model bagi bawahan, sehingga kinerja bawahan meningkat serta bawahan selalu berpikir positif.

Latief Bugi Windarto
Mahasiswa S2 Ilmu Komunikasi di Universitas Sebelas Maret Surakarta

BERITA REKOMENDASI