Belajar dari Kasman Singodimedjo, Tokoh Penting dalam Peristiwa Sumpah Pemuda

Editor: Ivan Aditya

HIDUP itu berjuang” adalah prinsip yang dipegang erat-erat Kasman Singodimedjo sejak ia belia sampai dengan wafatnya. Setelah diusulkan sejak tahun 2012, pada menjelang peringatan 10 November 2018 Kasman telah ditetapkan oleh Pemerintah sebagai Pahlawan Nasional. Menurut sejarawan Anhar Gonggong, tokoh Yudi Latief, dan Mahfud MD, gelar pahlawan tersebut adalah bukti keteladanan, kenegarawanan dan patriotisme seorang Kasman.

Peran Kasman dalam peristiwa Sumpah Pemuda dicatat sebagai salah satu eksponen yang mengantarkan perubahan karakter landasan perjuangan pemuda saat itu dari semula berbasis pada kebanggaan suku dan golongan menjadi perasaan menyatu sebagai sebuah bangsa dan tanah air, yaitu Indonesia.

Profil pribadinya dikenal teguh dalam prinsip tetapi luwes dalam proses mencapai tujuan bersama. Ia lembut hati dan tak pernah dendam, di masa rezim Sukarno, Kasman meskipun beberapa tahun dijebloskan dalam penjara melalui proses yang menurutnya tidak adil dan obyektif, tetapi ia tetap menghargai Sukarno sebagai pemimpin besar dan turut mengantar kepergian Sukarno ke peristirahatan terakhirnya di Blitar pada Juni 1970.

Persahabatannya pada masa dinamika setelah tercapainya kemeerdekaan dengan para tokoh golongan dan kepercayaan lain juga tercatat sangat baik dan mesra. Tercatat, dalam buku Politik Bermartabat Biografi IJ Kasimo, karangan JB Soedarmanta, Kasman dan IJ Kasimo, mampu tetap bersahabat meski lazim berpeda pendapat sangat tajam dan keras dalam sidang-sidang Konstituante. Setelah sidang, keduanya lazim minum kopi bersama karena perasaan satu keluarga bangsa.

Kasman lahir di Purworejo, tanggal 25 Februari 1904. Ayahnya H. Singodimedjo, seorang penghulu, carik (sekretaris desa) dan polisi pamong praja di Lampung Tengah. Kasman wafat di Jakarta, pada 25 Oktober 1982 dan dimakamkan di Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta. Pendidikan yang ditempuhnya mulai HIS Kutoarjo, sampai dengan STOVIA di Jakarta dan Recht Hoge School (Sekolah Tinggi Hukum) Jakarta hingga memperoleh Meester in Rechter (Mr) tahun 1939.

Riwayat perjalanan organisasinya tercatat Ikut mendirikan Jong Java, dan menjadi anggota aktif. Mendirikan Jong Islamieten Bond dan terpilih menjadi ketuanya (1930-1935), Masyumi, dan pada Muktamar 7 November 1945, terpilih menjadi Ketua Muda III bersama tokoh lain KH. Hasjim Asjari (Ketua Umum), Ki Bagus Hadikusumo, KH. Wahid Hasjim, Moh. Roem, M. Natsir dan Dr. Abu Hanifah.

Ia tercatat juga aktif sebagai pengurus Muhammadiyah Perjalanan pengabdiannya sangat beragam meliputi Komandan PETA Jakarta dan Ia adalah tokoh yang mengamankan pelaksanaan pembacaan Proklamasi 17 Agustus 1945 dan rapat umum IKADA. Selanjutnya anggota PPKI yang ditambahkan bersama Wiranatakoesoemah, Ki Hajar Dewantara, Sajuti Melik, Iwa Koesoema Soemantri dan Achmad Soebardjo. Penambahan anggota ini mengubah sifat lembaga ini yang semula bentukan Jepang menjadi sepenuhnya bentukan repubik yang baru berdiri.

Ia juga ikut membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) sebagai organisasi ketentaraan Indonesia, dan terpilih sebagai Ketua BKR Pusat. Karir selanjutnya Ketua KNIP yang merupakani parlemen pertama di Indonesia. Diantara wakilnya tercatat  adalah Adam Malik

Penunjukannya sebagai Jaksa Agung (1945 – 1946) diakui menjadi peletak dasar-dasar pembangun lembaga itu. Ia mengeluarkan Maklumat Jaksa Agung No. 3 Tanggal 15 Januari 1946, yang mengajak para Gubernur, Jaksa dan Kepala Polisim dengan berkeliling Indonesia untuk membuktikan Indonesia adalah negara hukum dengan pengadilan yang cepat dan tepat.

Tercatat ia kemudian menjadi Menteri Muda Kehakiman pada Kabinet Amir Sjarifuddin II dan. Kepala Urusan Kehakiman dan Mahkamah Tinggi pada Kementerian Pertahanan dengan pangkat Jenderal Mayor.Di jalur legislatif ia adalah Ketua Fraksi Islam di Konstituante. Yang beranggotakan Partai Masyumi, Partai Nahdlatul Ulama, Partai Syarikat Islam Indonesia, dan Partai Islam Perti.

Dalam romatika perjuangannya ia juga tercatat beberapa kali masuk jeruji besi atas kasus politik. Pengalaman pertamanya terjadi setelah Kasman meneriakkan kalimat “Untuk Indonesia Merdeka!” pada Konferensi Muhammadiyah se-Jawa Barat di Bogor, Mei tahun 1940. Di masa kemerdekaan ia bersama Hamka, Moh. Roem, Mochtar Lubis, Prawoto dan Anak Gede Agung pernah dituduh terlibat dalam PRRI/Permesta yang kemudian tuduhan itu tidak pernah terbukti.

Untuk masa kekinian ada beberapa karakter atas peran seorang Kasman Singodimedjo yang mungkin dapat menjadi tauladan bagi kita. Pertama, ia memiliki jiwa petarung dan pejuang yang dibuktikan pada kegigihannya menyelesaikan MULO di Magelang dengan rela menjadi pembantu rumah tangga. Saat dicabut bea siswanya di STOVIA karena aktivitas politiknya, ia juga mau bekerja serabutan apa saja untuk menyelesaikan Pendidikan hukumnya.

Pada pengumuman kekalahan Jepang oleh Jenderal Mayor Mabuchi menjelang proklamasi kemerdekaan, ia diperintah menyerahkan semua persenjataan kepada militer Jepang. Namun ia justru mengadakan rapat gelap untuk mengabaikan perintah pelucutan senjata tersebut. Kasman berteriak “Barang siapa yang menyetujui gagasan saya, silahkan melaksanakan tugas tersebut. Tetapi mereka yang tidak menyetujui, jangan merintangi. Barang siapa yang merintangi, saya tembak!”

Kedua, ia berkarakter pembaharu/pelopor Sejarah mencatat sebelum 1925, organisasi kepemudaan hampir selalu didirikan dengan semangat kebanggaan etnis dan golongan. Ia bersama-sama JIB dan tokoh kepemudaan lain pelan-pelan mengikis kebanggan akan etnis dan golongan itu menuju kebanggaan sebagai satu bangsa dan tanah air, yang berujung pada hasil Konggres Pemuda ke II berupa Sumpah Pemuda.

Ketiga, ia bukan pemimpin biasa/rutin. Ia adalah pemimpin di masa kritis. Dalam buku Sekitar Perang Kemerdekaan, Nasution menyebut, “hanya dengan pimpinan Soekarno-Hatta-Kasman Singodimedjo rakyat dapat digerakkan secara massal, dan kegiatan tanpa disertai ketiga pemimpin ini, dewasa itu akan merupakan suatu gerakan yang hanya setengah-setengah saja,” bahwa “dewasa itu sangat diperlukan pimpinan dari yang telah memegang kepercayaan rakyat dan tentara serta telah mempunyai kedudukan berkomando, yakni Soekarno-Hatta-Kasman Singodimedjo,” dan bahwa “perwira-perwiranya (PETA) taat sepenuhnya kepada Kasman.

Keempat, pemersatu bangsa dan toleran terhadap perbedaan. Kasman adalah tokoh yang berhasil meredakan ketegangan perdebatan antara kelompok Muslim dan non-Muslim dalam perumusan dasar negara. Ada tiga tokoh non-Muslim dalam PPKI, yang berkeberatan dengan pencantuman tujuh kata “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” pada Piagam Jakarta.

Sementara wakil umat Islam, Ki Bagoes Hadikusumo yang juga tokoh Muhammadiyah bersikeras menolak penghapusan tujuh kata itu karena telah diputuskan bersama oleh Panitia Sembilan. Dalam bahasa Jawa halus Kasman menyampaikan, “Kiai, tidakkah bijaksana jikalau kita sekarang sebagai umat Islam yang mayoritas ini sementara mengalah, yakni menghapus tujuh kata termaksud demi kemenangan cita-cita kita bersama, yakni tercapainya Indonesia Merdeka sebagai negara yang berdaulat, adil, makmur, tenang, tenteram, diridhai Allah swt,” (Artawijaya dalam Belajar dari Partai Masjumi (2014).

Demikianlah kita kemudian boleh berharap kondisi negara ke depan dapat lebih baik apabila penyelenggara negara dan unsur non pemerintah termasuk pemuda dapat mentauladani sikap dan tindakan seorang Kasman Singodimedjo yang berbakti kepada nusa bangsa dengan kondisi telah selesai dengan dirinya dan mempunyai nawaitu ikhlas berbuat untuk kebaikan bangsanya.

Raden Hary Sutrasno
Anggota Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia (IKPNI) Korwil Yogyakarta. Pendidikan Magister Hukum UGM

BERITA REKOMENDASI