Digitization: Katalis Pasar Modal Tahun 2022

PANDEMI covid-19 yang merebak hampir 2 tahun belakangan mendorong masyarakat terus beradaptasi dengan penggunaan teknologi informasi. Berdasarkan Laporan Badan Pusat Statistik (BPS), sektor Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) pada tahun 2020 mencatat pertumbuhan sebesar 10,58%. Optimalisasi penggunaan teknologi informasi dilakukan di berbagai sektor, salah satunya Pasar Modal.

Pada tahun 2021, di sektor Pasar Modal telah dilakukan berbagai pengembangan dalam mengoptimalkan digitalisasi, seperti e-IPO untuk memudahkan akses investor dan transparansi, e-RUPS untuk membuat terselenggaranya kegiatan RUPS secara elektronik, dan e-Proxy sebagai media pendukung. Dengan adanya inovasi tersebut, meskipun jumlah IPO hingga November 2021 lebih rendah dibandingkan 2020, namun terdapat peningkatan yang signifikan pada nilai IPO yaitu Rp 51,6 Triliun.

Digitalisasi juga mempermudah masyarakat menjadi Investor di Pasar Modal. Hal ini ditandai dengan perubahan skema Know Your Customer yang semula harus menggunakan e-form, saat ini dapat dilakukan dengan e-face-to-face. Adanya kemudahan dalam registrasi tersebut membuat peningkatan jumlah investor.

Menurut data Bursa Efek Indonesia, jumlah investor Pasar Modal meningkat 8 kali sejak tahun 2016, dengan total investor saham meningkat 6,2 kali. Kenaikan tersebut didominasi generasi milenial dan gen Z yang mencapai 2.614.328 investor atau sejumlah 80,4% dari total investor. Pertumbuhan Pasar Modal di 2021 yang mengedepankan penggunaan teknologi tersebut diprakirakan masih berlanjut pada 2022. Digitization di berbagai sektor tidak lagi menjadi disruptif, namun menjadi hal yang digandrungi karena memudahkan masyarakat.

Dengan maraknya digitalisasi di sektor Pasar Modal, pada tahun 2022, Pasar Modal tidak hanya dapat dijangkau oleh perusahaan besar namun juga oleh Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selaku regulator akan terus mendorong UMKM untuk turut serta meramaikan pasar modal melalui pendanaan equity/securities crowdfunding.

Sejalan dengan OJK, Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai Self Regulatory Organization (SRO) juga mengoptimalkan akses digital dalam melakukan meeting virtual dalam untuk edukasi pada tahun 2021. Strategi ini nampaknya akan terus digunakan pada 2022 mengingat efektivitasnya kegiatan tersebut dalam menambah jumlah investor tidak hanya di kota-kota besar saja namun hingga ke daerah yang susah terjangkau.

Prospek digitalisasi di 2022 dapat menjadi daya tarik bagi perusahaan teknologi untuk bergabung pada industri pasar modal. Dukungan akan hal tersebut dilakukan OJK dan BEI dengan penerbitan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (“POJK”) No 22/POJK.04/2021 tentang Penerapan Klarifikasi Saham dengan Hak Suara Multipel oleh Emiten dengan Inovasi dan Tingkat Pertumbuhan Tinggi yang melakukan Penawaran Umum Efek Bersifat Ekuitas Berupa Saham.

Tujuan terbitnya POJK ini adalah mengantur penerapan saham dengan hak suara multipel, sehingga dapat melindungi visi misi perusahaan sesuai tujuan founder mengembangkan kegiatan perusahaan. Dengan adanya POJK tersebut, bukan hanya perusahaan besar maupun UMKM yang turut serta meramaikan pasar modal, namun perusahaan teknologi dengan status unicorn-pun mendapat kesempatan sama.

BERITA REKOMENDASI