Era Baru Kegiatan Belajar-Mengajar Matematika, Berbasis Kebudayaan Indonesia

TERDAPAT sejumlah irisan atas kelebihan gagasan Freudhenthal terkait Realistics Mathematics Education (RME) dan D’Ambrosio tentang Ethnomathematics. Keduanya juga memiliki tujuan dan semangat yang sejalan untuk menciptakan pembelajaran matematika yang memudahkan siswa dalam memahami konsep dasar setiap topik dalam matematika. Kemudahan akan membuat siswa menemukan sendiri pembelajaran untuk memahami kegunaan ilmu pengetahuan yang dipelajarinya dalam upaya meresponse realitas kehidupan disekitarnya. Selama ini, pendekatan RME telah diimplementasikan dengan salah satu karakteristiknya adalah menggunakan konteks nyata yang digunakan sebagai titik awal dalam proses pembelajarannya. Namun, konteks tersebut hanya digunakan sebagai alat untuk membantu siswa menemukan konsep matematika. Padahal, jika kita mampu mengeksplorasi suatu konteks nyata yang berasal dari kebudayaan di sekitar kita, maka dalam konteks tersebut terkandung nilai-nilai sosio-kultural yang bermanfaat untuk siswa, jika dapat dieksplorasi lebih jauh sebelum digunakan sebagai konteks dalam pembelajaran yang menggunakan pendekatan RME.

Di sisi lain, terdapat pendekatan lain, yaitu Ethnomathematics, yang telah banyak diterapkan dalam kegiatan belajar-mengajar matematika, namun, sejauh ini, sejumlah peneliti dan pendidik masih belum nyaman dengan peran Ethnomathematics dalam pembelajaran tersebut. Belum menemukan prosedur implementasi konteks hasil eksplorasi Ethnomathematics menjadi alasan. Sehingga kesulitan untuk mencapai kegiatan belajar mengajar yang dapat membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna. Gap tersebut mendorong, saya untuk mencoba menggabungkan teori RME dan Ethnomathematics dengan menitikberatkan pada kelebihan dari masing-masing pendekatan yang dimiliki mereka. Gabungan dari kedua teori tersebut, diberi nama Ethno-Realistic Mathematics Education (E-RME). Harapannya, penggabungan kedua pendekatan ini, dapat menjadi solusi alternatif dalam menutupi gap tersebut.

Pertanyaan berikutnya yang muncul adalah, bagaimana framework atau tahapan belajar menggunakan pendekatan E-RME? Tulisan sederhana ini mencoba untuk mengkonstruksi hal tersebut agar dapat dijadikan landasan bagi para peneliti dan pendidik yang nantinya akan mengimplementasikan pendekatan RME. Pendekatan ini akan menghasilkan eksplorasi Ethnomathematics sebagai konteks yang digunakan dalam pembelajaran. Hal ini akan berakibat pada terciptanya pembelajaran matematika realistics yang mengandung nilai-nilai sosio-kultural guna membangun karakter dan etika siswa dalam menggunakan ilmu pengetahuan, khususnya matematika.

E-RME sebagai pendekatan pembelajaran matematika realistik yang menekankan pada penggalian nilai sosio-kultur. Konteks real sosio-kultur tersebut digunakan menjawab permasalahan pendidikan matematika yang masih terpengaruh oleh pembelajaran matematika baru yang mekanistik, anti-didaktikal, dan kurang membangun karakter dan etika siswa sebagai penggguna matematika. Penggabungan kedua teori ini akan memudahkan siswa memahami konsep matematika sesuai dengan strategi dan level berfikir siswa. Mereka akan memiliki nilai-nilai sosio-kultur yang dapat diresapi untuk membangun karakter dan etika siswa sebagai pengguna matematika. Dengan begitu ilmu yang mereka gunakan dapat memberikan kebermanfaatan bagi peradaban dunia. Adapun implementasinya dalam pembelajaran, E-RME mengadopsi prinsip dan karakteristik RME serta inti dari kurikulum trivium pada Ethnomathematics.

UAD

BERITA REKOMENDASI