Indeks Keyakinan Konsumen

KETIDAKPASTIAN perekonomian global dihantui inflasi, stagflasi, pengetatan moneter, dan krisis energi. Kekhawatiran ini perlu dimitigasi dan diantisipasi Indonesia agar tidak menular pada perekonomian Indonesia yang masih rentan. Stagflasi di Amerika ditandai dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi yang disertai dengan pengangguran yang meningkat. Pertumbuhan ekonomi negatif 1,5 persen di kuartal I tahun 2022. Bahkan IMF merevisi perkiraan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat dari 3,7 persen menjadi 2,9 persen. Pertumbuhan ekonomi berbagai negara, seperti AS, Eropa, Jepang, China, dan India diprakirakan lebih rendah dari proyeksi sebelumnya. Volume perdagangan dunia juga diperkirakan lebih rendah dari perkiraan sebelumnya.

Inflasi Amerika yang mencapai 8,6 persen yang merupakan tertinggi selama empat dekade terakhir sudah diwaspadai oleh The Fed dengan mengendalikan suku bunga acuannya. Dilihat dari indeks keyakinan masyarakat Amerika pun diperkirakan mengalami penurunan menjadi 100,9 dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 106,4. Pesimisme ini tentu beralasan karena perekonomian Amerika dan beberapa negara Eropa terdampak krisis Rusia-Ukraina.

Berbanding terbalik dengan Indonesia. Indeks keyakinan konsumen (IKK) dari meningkat tajam dari 111.0 pada maret menjadi 128,9 di Mei 2022. Hal ini mengindikasikan ada harapan baru perbaikan ekonomi kedepan, terutama setelah meredanya pandemi covid-19. Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2022 diprakirakan tetap berada dalam kisaran proyeksi Bank Indonesia pada 4,5-5,3%.

Namun hal yang perlu diwaspadai adalah pemicu-pemicu ekonomi yang dilakukan pemerintah ditengah upaya perbaikan ekonomi seringkali membuat ekonomi berbalik arah. Rencana pemerintah yang akan menaikkan harga LPG 3kg, Pembatasan pembelian pertalite, dan kenaikan tarif dasar listrik merupakan pemicu yang akan merusak arah positif tersebut.

BERITA REKOMENDASI