Joki Skripsi: Pencegahan dan Cara Mengatasinya

JOKI skripsi sudah bukan barang baru bahkan tabu di dunia pendidikan tinggi tanah air. Sejak zaman baheula hingga sekarang, supply dan demand-nya terus terjaga. Hal ini menandakan bahwa bisnis joki skripsi ini sudah begitu mengakar kuat. Pertumbuhan Internet dan sosial media turut andil menjadi katalisator pertumbuhan gurita bisnis jasa joki ini.

Di sisi lain, sudah tak terhitung artikel dan berbagai ulasan yang membahas tentang fenomena jasa gelap ini. Semua isinya kebanyakan mengecam, menyayangkan, namun nihil solusi konkrit.

Di sisi lain, walau sebagian pelaku sudah pernah ada yang diseret ke meja hijau, ancaman maupun sanksi sudah dikeluarkan, namun tidak lantas membuat praktik jasa ini mengecil. Bahkan ditengarai, semasa pandemi Covid-19 ini omset mereka malah makin meroket.

Sebagai seorang Dosen, penulis kerap menemukan mahasiswa yang menggunakan joki skripsi. Gemes, marah, kecewa, sedih dan kasihan campur aduk menjadi satu. Pendidikan tinggi adalah penyelenggara proses pendidikan. Mahasiswa yang masuk dalam proses pendidikan adalah raw input yang akan diproses hingga menjadi insan yang berpengetahuan dan berketerampilan.

Oleh karena itu, penulis meyakini bahwa pasti ada salah satu bagian dalam proses pendidikan tinggi kita yang menyisakan celah sehingga menyebabkan praktik joki ini masih terus eksis dan tumbuh subur. Ya, karena joki skripsi merupakan dampak dari kebijakan atau proses Skripsi yang sudah diterapkan di hampir seluruh kampus di tanah air tercinta. Oleh karena itu pada tulisan ini penulis mengusulkan beberapa cara pencegahan guna mengatasi praktik joki skripsi.

BERITA REKOMENDASI