Kerjasama Industri Kreatif Indonesia – Korea Selatan : Bersifat Bilateral dan Tak Merugikan

Editor: Ivan Aditya

KERJASAMA Internasional dilakukan guna meningkatkan hubungan bilateral maupun multilateral yang berguna untuk mencapai tujuan nasional masing-masing negara. Sementara itu, di dalam menjalankan kerjasama antara negara satu dengan lainnya harus dilandasi dengan kerjasama yang saling menguntungkan satu sama lain, seperti halnya kerjasama Indonesia dengan Korea Selatan.

Hubungan kerjasama bilateral Indonesia dengan Korea Selatan ditandai dengan penandatanganan pembukaan hubungan diplomatik kenegaraan tingkat konsuler pada Mei 1966 yang berbuah pembukaan Konsulat Jenderal Korea di Jakarta pada tahun yang sama. Pada tahun 1988 Indonesia juga membuka Konsulat Jenderal di Seoul. Kemudian pada tanggal 18 september 1973 hubungan kedua negara semakin diperkuat ke tingkat Diplomas. Kerjasama keduanya berlangsung dengan baik dan memberi kontribusi yang baik bagi Indonesia.

Adanya persaingan global dan semakin tipisnya sumber daya alam, membuat negara-negara di dunia mulai mencari sumber alternatif untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi negaranya, salah satu cara untuk mewujudkan hal tersebut adalah dengan memilih untuk menggunakan ekonomi kreatif. Dalam hal ini, Indonesia juga berusaha menjalin kerjasama dengan beberapa negara di dunia, salah satunya adalah dengan Korea Selatan. Kerjasama Indonesia dan Korea Selatan dalam bidang Industri kreatif telah dimulai sejak saat penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) pada tanggal 16 Mei 2016 oleh Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) Indonesia dan Kementerian kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan.

Kerjasama Indonesia-Korea Selatan hingga saat ini telah terjalin dengan sangat baik, namun banyak pihak di Indonesia menganggap bahwa kerjasama Indonesia-korea Selatan ini alih-alih memberi keuntungan bagi industri kreatif Indonesia namun justru hanya akan memberikan benefit atau keuntungan bagi semakin pesat dan besarnya perkembangan industri kreatif Korea Selatan. Jika dilihat berdasarkan survei penelitian melalui wawancara online tertulis yang penulis lakukan, asumsi tersebut timbul sebab adanya suatu kegemaran dan kegandrungan terhadap industri kreatif Korea Selatan khususnya di kalangan kaum millenial di Indonesia.

Kegandrungan tersebut lazim kita dengar dengan sebutan Korean Wave. Berbagai macam produk industri kreatif Korea Selatan mulai dari bidang musik, perfilman, hingga kemudian style atau fashion telah berhasil mencapai target pasar dunia khususnya Indonesia. Kejadian tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan, apakah kerjasama industri kreatif Indonesia-Korea Selatan benar bersifat liberal dan menguntungkan bagi Indonesia? Atau justru indonesia hanya menjadi alat bagi semakin berkembangnya industri kreatif Korea Selatan?

Sebagaimana disebutkan diatas, dalam menjalin kerjasama bidang industri kreatif, Indonesia-Korea Selatan telah menuangkan kesepakatan dalam MoU yang ditandatangani oleh BEKRAF Indonesia dan Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea pada 16 Mei 2016 dengan isi sebagai berikut:

• Adanya timbal balik dalam bidang teknologi produksi terutama dalam produksi perfilman, produksi konten-konten penyiaran dan konten-konten yang berbasis digital.
• Adanya Pertukaran dalam aspek informasi mengenai penelitian pasar dan penelitian
dalam pembuatan suatu kebijakan.
• Saling berbagi pengalaman dalam hal mengenai pembangunan prototype pendanaan
ekonomi kreatif, termasuk juga sumber dari pendanaan dan investasi tersebut.
• Memberikan bantuan teknik dalam pengembangan seni pertunjukan, musik, drama, dan
teknologi terkait bioskop.
• diselenggarakannya acara pameran dan adanya keikutsertaan dalam pasar yang bertujuan
untuk mempromosikan kerjasama dalam bisnis.
• Memfasilitasi program-program dan memasarkan produk-produk serta jasa kreatif.
• Joint Venture antara proyek-proyek industri kreatif di kedua Negara.

Selama menjalin kerjasama di bidang industri kreatif, Indonesia-Korea Selatan telah berhasil melancarkan beberapa implementasi program seperti Jakarta Fashion Week 2017: Kolaborasi Fesyen Indonesia-Korea, Indonesia-Korea Cinema Global Networking, Festival Film Indonesia, Indonesia Cinema di Busan International Film Festival, pameran lukisan Institut Kesenian Jakarta di Media Hill, pameran batik, mebel, dan kerajinan bertema I love Indonesia di Korsel, Indonesian Food Festival, Joint Venture NET TV dengan KBS dan CJ Entertainment dan lain-lain. Dalam program tersebut, terdapat banyak keuntungan yang dapat disimpulkan menjadi dua kontribusi utama terhadap industri kreatif Indonesia.

Pertama, sebagai pusat pembelajaran dan media pengembangan, pemasaran, serta peningkatan kualitas industri kreatif Indonesia, melihat industri kreatif Korea Selatan yang dinilai berhasil dan tak lagi diragukan di kancah internasional. Hingga saat ini, peningkatan terbesar kerjasama Indonesia-Korea Selatan dalam perkembangan industri kreatif Indonesia ialah dalam bidang perfilman.

Kedua, menarik serta meningkatkan minat dan investasi negara-negara khususnya Korea Selatan dalam bidang industri kreatif, dan beberapa bidang lainnya seperti ekonomi, politik, pendidikan, sosial budaya hingga ketenagakerjaan. Selain itu, kerjasama Indonesia-Korea Selatan ini juga mempererat hubungan baik antar kedua negara.

Jika kita kupas dengan analisis teori, hubungan bilateral Indonesia-Korea Selatan ini termasuk ke dalam teori liberal. Hal tersebut dikarenakan tujuan-tujuan dari program kerjasama kedua negara sesuai dengan asumsi liberal yang berkaitan erat dengan demokrasi dan interdependensi yang menyokong sebuaah kebebasan individu dan kesejahteraan. Selain itu, ketergantungan antar kedua negara dalam hubungan perdagangan merupakan salah satu cara untuk mencapai integrasi dan kepentingan nasional masing-masing tanpa menimbulkan konflik.

Paham liberal institusional berpendapat bahwa negara-negara berkumpul dan membentuk sebuah institusi agar dapat melakukan kepentingan umum dan mencapai tujuan masing-masing, yaitu utamanya tujuan ekonomi. Kerjasama bidang industri kreatif Indonesia-Korea Selatan merupakan kerjasama yang menguntungkan bagi kedua negara, artinya kerjasama tersebut tidak merugikan Indonesia.

Adanya asumsi yang timbul sebab Korean Wave merupakan dampak dari tanggapan atau respon dari personality masyarakat Indonesia yang terlalu terbuka terhadap budaya lain. Hal tersebut tak hanya terjadi terhadap Korea, sebelumnya juga pernah terjadi terhadap budaya India, dan juga Barat. Maka kerjasama industri kreatif antara Indonesia dengan Korea Selatan merupakan kerjasama Bilateral yang bersifat Liberal dan menguntungkan bagi kedua negara, artinya kerjasama tersebut tidaklah merugikan Indonesia.

Ulya Nuril Fajri
Mahasiswi Jurusan Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia
Alumni PP Darul Muttaqien Temanggung

BERITA REKOMENDASI