Loyalitas Karyawan di Masa Pandemi

Editor: Ivan Aditya

DALAM sebuah organisasi, loyalitas karyawan merupakan aspek penting yang berkaitan dengan sifat setia seorang karyawan terhadap organisasi atau institusi yang ia tempati. Membicarakan loyalitas berarti membicarakan sejauh mana seseorang, sebagai elemen dari suatu organisasi, berupaya sebaik mungkin melakukan hal-hal yang memberikan manfaat pada organisasinya. Ketika loyalitas meningkat, engagement akan terbentuk, sehingga secara otomatis seorang karyawan akan rela berusaha semaksimal mungkin berkorban bagi organisasinya, baik berkorban waktu, tenaga, privasi, dan sebagainya. Loyalitas karyawan memegang peranan vital dalam pengelolaan sebuah organisasi.

Karyawan yang memiliki ikatan kuat dengan institusi akan melindungi, membela, dan menjaga nama baik organisasinya. Akan tetapi, lahirnya loyalitas dan keterikatan tentu mengalami proses yang tidak sebentar, serta dipengaruhi oleh berbagai faktor. Loyalitas karyawan harus ditumbuhkan oleh organisasi itu sendiri.

Apabila menggunakan perspektif Maslow, loyalitas karyawan dimungkinkan apabila kebutuhan primer—seperti gaji misalnya—telah terpenuhi. Loyalitas akan berjalan beriringan dengan situasi ketika organsisasi menyediakan lebih dari sekadar kebutuhan primer tersebut. Semakin banyak yang diberikan organisasi—tidak hanya kebutuhan primer—maka semakin baik pula keterikatan karyawan di dalamnya. Hal-hal di luar kebutuhan primer tersebut, misalnya: kultur yang terbangun dengan baik antar elemen di dalam kantor; dukungan pimpinan kepada anggota organisasinya; kesempatan pengembangan diri dan beberapa bentuk perhatian lainnya. Artinya, ada perlakuan positif, baik dari segi finansial maupun non-finansial (apresiasi, dukungan, kepemimpinan), terhadap para karyawan. Secara singkat, dapat dikatakan bahwa harus ada keseimbangan (balance) antara yang diberikan oleh karyawan dengan yang disiapkan oleh organisasi. Loyalitas hanya dimungkinkan dalam situasi balance.

Keseimbangan penting diperhatikan, mengingat hari ini banyak fenomena “bajak-membajak” karyawan, di mana seseorang terkadang diiming-imingi institusi lain dengan fasilitas yang lebih memadai dibandingkan dengan institusi yang saat ini ia tempati. Akan tetapi, lagi-lagi bahwa kultur dan leadership yang bagus dalam sebuah organisasi tentu dapat meminimalisasi terjadinya hal tersebut. Lantas, bagaimana kita melihat loyalitas karyawan di masa pandemi seperti sekarang ini?

Harus diakui, bahwa dalam konteks organisasi, fenomena ini cukup berbeda dan bukanlah sesuatu yang normal. Organisasi menghadapi tantangan berat untuk menjaga stabilitasnya agar dapat bertahan.

Potensi ketidakstabilan dalam tubuh organisasi menjadi lebih besar, sehingga salah satu efeknya adalah kurang atau tidak terpenuhinya kebutuhan primer Sumber Daya Manusia (SDM) seperti saat kondisi normal. Organisasi harus melakukan berbagi langkah efisiensi agar tetap bisa survive, salah satu yang dilakukan adalah mengurangi jumlah pekerja.

Lebih jauh, sebagaimana pemberitaan masif saat ini, terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) besar-besaran oleh beberapa perusahaan karena imbas dari Pandemi Covid-19. Dalam situasi ini, organisasi tentu akan lebih memilih untuk mempertahankan pekerjanya yang memiliki loyalitas lebih tinggi.

Dalam kondisi normal, tingkat loyalitas seseorang mungkin tidak menjadi diperhatikan utama, namun ketika situasi-situasi krusial, perhatian terhadap rekam jejak dan loyalitas SDM justru akan membantu organisasi menyelesaikan masalah. Perusahaan akan melihat bahwa karyawan yang memiliki loyalitas pasti memberikan support, menjaga, atau tetap membantu organsasi—misalnya dengan bersedia berkorban untuk organisasi dsb.—sebab mereka tidak hanya berpikir untuk kepentingan pribadinya. Kenyataan di luar, bahwa situasi seperti ini tidak hanya dialami satu-dua organisasi saja, juga akan mendukung lahirnya kesadaran bahwa sikap loyal kian dibutuhkan di masa-masa seperti sekarang ini.

Institusi harus memberikan harapan dan penyadaran terhadap karyawan, bahwa turbulensi seperti saat ini adalah keniscayaan dalam dinamika organisasi. Langkah tersebut penting dilakukan guna menghindarkan para karyawan dari tekanan yang hebat (stres dan depresi). Efeknya, karyawan yang memiliki loyalitas akan dengan tulus membersamai organisasi berproses melewati masa-masa sulit, dan bukan justru berupaya menggerogotinya dari dalam. Akan tetapi, jika kondisinya kemudian luar biasa mendesak, sehingga mereka yang loyal pun terpaksa harus diberhentikan, maka mereka yang dalam track records-nya telah memiliki jiwa loyal dapat dipastikan takkan kesulitan untuk “bertualang” di tempat lain di kemudian hari.

Demikianlah pentingnya loyalitas, sehingga perlu disinggung pula, bahwa tidak sedikit organisasi yang kita saksikan justru lebih memperhitungkan attitude karyawan dibandingkan pencapaian lain seperti prestasi akademik yang tinggi. Artinya, mereka yang memiliki kepedulian terhadap organisasi jauh lebih dibutuhkan dalam situasi ini. Mereka yang loyal pada institusi, akan rela hati terlibat dalam aktivitas-aktivitas organisasi. Hal tersebut sekaligus menjadi timbal balik bagi sang karyawan, sebab seluruh aktivitasnya tentu akan terbaca dalam track record-nya, entah oleh pimpinan, supervisi, atau elemen-elemen lain, yang notabene memberikan poin-poin atau penilaian bagus dalam rekam jejaknya. Dengan demikian, orang-orang pun akan menjadi lebih percaya terhadap kinerjanya.

Utik Bidayati SE MM
Wakil Rektor Bidang Keuangan, Kehartabendaan dan Administrasi Umum

BERITA REKOMENDASI