Menafsir Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19

PANDEMI covid-19 menyebabkan perubahan besar dan mendadak di seluruh dunia. Pandemi ini juga merupakan musibah terburuk bagi sistem pendidikan nasional dalam beberapa dasawarsa yang ditandai dengan penutupan sekolah terlama dan diperparah dengan resesi ekonomi. Hal Ini
tentu akan menghambat kemajuan pembangunan global, terutama yang fokus pada pendidikan. Krisis ekonomi akibat pandemi sudah pasti akan mengarah pada penghematan fiskal, peningkatan kemiskinan, dan berkurangnya ketersediaan sumber daya manusia yang berkualitas sebagai
investasi pembangunan bangsa serta menurunnya ketangguhan ekonomi bagi banyak keluarga. Kesulitan ekonomi ditandai dengan banyaknya pengajuan dispensasi pembayaran atau bahkan pengunduran diri. Semua ini akan menyebabkan krisis pembangunan manusia yang berlangsung
lama. Gangguan pada sistem pendidikan selama hampir dua tahun terakhir telah menyebabkan kerugian dan ketidaksetaraan dalam pembelajaran.

Tulisan ini merupakan refleksi pengalaman pribadi dalam menghadapi pembelajaran di masa pandemi dan sekaligus menyajikan bahan diskusi bagi kita sebagai pihak yang mempunyai tanggungjawab atas keberlangsungan program mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan tinggi. Hal ini harus dilakukan sebagai upaya kehati-hatian di tengah ketidakpastian akan berakhirnya pandemi. Karena tulisan ini bersifat refleksi, maka tulisan ini berdasar pada fakta dan pengalaman selama berinteraksi dengan sesama kolega dan mahasiswa.

Upaya yang jamak dilakukan oleh hampir seluruh lembaga pendidikan tinggi dalam rangka untuk tetap melangsungkan pembelajaran adalah dengan melakukan pembelajaran online atau disebut juga dalam jaringan (daring) dengan format blended (campuran) baik synchronous maupun asynchronous. Upaya ini patut dipuji, karena memang menawarkan banyak kemudahan seperti lebih praktis dan lebih fleksibel. Praktis karena materi kuliah atau tugas dapat dikirim kapan saja dan dari mana saja dan sebaliknya mahasiswa juga dapat mengakses materi kuliah atau tugas dari
mana saja dan kapan saja dengan lebih cepat. Tetapi model pembelajaran ini merupakan pengganti pembelajaran tatap muka (konvensional) yang sangat buruk. Pembelajaran daring telah menyebabkan keterlibatan mahasiswa dalam proses pembelajaran sangat rendah. Hasil penelitian
Fahmalatif (2021) menunjukkan bahwa hanya 50% saja siswa yang aktif mengikuti pelajaran dari awal sampai akhir, sementara 33% mengaku aktif terlibat dan 17 % mengaku tidak aktif atau tidak berpartisipasi.

Efek negatif dari model pembelajaran daring juga berimbas bagi dosen. Berdasarkan data fakta lapangan yang diperoleh melalui diskusi evaluasi proses belajar mengajar setiap semester, terjadi overload beban pekerjaan dosen. Kemudian dosen juga kesulitan memilih model pembelajaran
yang tepat, kesulitan mengontrol proses pembelajarannya, kesulitan mengontrol proporsi pembelajaran tatap muka dan pembelajaran daring karena kurikulum telah didesain untuk pembelajaran tatap muka. Hal tersebut diperparah dengan kurangnya resources pendukung pembelajaran daring, kesulitan mendesain bahan ajar, kesulitan melakukan assessmen atau evaluasi hasil belajar, dan tentu saja masih banyak lagi permasalahan lainnya. Dari beberapa permasalahan tersebut, ujungnya adalah kualitas capaian pembelajaran (CPL) yang patut dipertanyakan. Sangat dikhawatirkan CPL akan sangat tereduksi.

Sementara dari pihak mahasiswa, kesulitannya tidak jauh berbeda. Mahasiswa juga merasakan beban kuliah daring semakin berat. Tugas dan deadline bisa datang bersamaan dari beberapa mata kuliah yang mengakibatkan cognitive load mahasiswa bertambah berat. Keadaan ini diperparah dengan kondisi atau lingkungan belajar yang tidak mendukung terutama bagi sejumlah mahasiswa yang kurang beruntung secara ekonomi. Cara belajar yang baru/berbeda dengan yang biasanya sebagai akibat dari platform belajar yang berbasis jaringan juga menimbulkan permasalahan bagi mahasiswa. Dari kebiasaan belajar konvensional ke model belajar virtual ini dirasakan kurang interaktif. Akibatnya perhatian terhadap perkuliahan dengan mudah terganggu atau bahkan hilang.

Tentu saja dampak dari pembelajaran daring tidak hanya berimbas kepada dosen-mahasiswa, tetapi jauh lebih luas spektrumnya. Karena keterbatasan porsi ruang tulisan ini, sebagai penutup, ada baiknya direnungkan bahwa: Apapun dampak yang ditimbulkan oleh pembelajaran daring
ini, kehadiran Covid-19 telah memaksa dunia untuk mengubah pembelajaran. Dan yang sering menjadi pertanyaan adalah apa dampak jangka panjang dari model pembelajaran daring ini dan akan seperti apa pendidikan pascapandemi. Akankah Covid-19 menjadi periode pembuka era virtual learning dan akhir dari classroom-based learning? Ataukah kita akan mengadopsi keduanya? Melihat kecenderungan dan gejalanya, dan mempertimbangkan kelebihan dan kekurangannya, rasa-rasanya keduanya akan diadopsi. Waallahu’alam. (Drs. Nizam Ahzani, M.Hum., Dekan Fakultas Sastra, Budaya dan Komunikasi UAD)

BERITA REKOMENDASI