Menjadi Mahasiswa

PADA bulan Agustus dan September ini sebagian lulusan SMA/SMK dan sekolah lain yang sederajat melanjutkan studi di perguruan tinggi, dan dengan demikian mereka menjadi mahasiswa. Di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, mahasiswa disebut sebagai anggota sivitas akademika yang diposisikan sebagai insan dewasa yang memiliki kesadaran sendiri dalam mengembangkan potensi diri di perguruan tinggi untuk menjadi intelektual, ilmuwan, praktisi, dan/atau profesional.

Setiap mahasiswa perlu memahami pengertian tersebut, yang merupakan kristalisasi pandangan dari berbagai pihak terutama pemerintah dan anggota DPR yang memroses merumuskan, membahas, dan akhirnya menetapkannya sebagaimana tercantum dan tersurat di dalam undang-undang tersebut. Anggota masyarakat seperti pemerhati dan pakar pendidikan tinggi, serta pihak perguruan tinggi yang terlibat dalam perumusan dan pembahasan tentu juga mempunyai pandangan yang sama tentang mahasiswa. Sedangkan pihak mahasiswa yang studi di perguruan tinggi ketika dan setelah Undang-undang tersebut dinyatakan berlaku, harus mengenal, mengerti atau memahaminya. Pemahaman setiap mahasiswa terhadap pengertian konsep “mahasiswa” dapat menjadi pedoman dan penentu arah “operasional” dalam melaksanakan pendidikan di perguruan tinggi.

Dari definisi mahasiswa di atas, mahasiswa diposisikan sebagai insan dewasa. Orang yang dewasa berarti memiliki kesadaran sendiri dalam mengembangkan potensi diri di perguruan tinggi untuk menjadi intelektual, ilmuwan, praktisi, dan/atau profesional. Namun dalam realitasnya, setiap mahasiswa termasuk mahasiswa baru mempunyai tingkat kedewasaan yang beragam dari yang belum dewasa sampai dengan sudah bahkan sangat dewasa. Hal ini tidak lepas dari kedewasaan diri setiap orang mahasiswa dalam proses pendidikan sebelumnya sewaktu di SMA/SMK sederajad, terutama pemahaman, praktik, dan kebiasaan masing-masing dalam berinteraksi sosial dan dalam proses belajar meningkatkan kemampuan pikiran, hati, fisik, rohani, iman, dan moralitas sebagai integritas (keutuhan, keseluruhan). Pihak sekolah yaitu kepala sekolah dan staf, guru, tenaga kependidikan dan karyawan lain tentu berharap setiap orang ketika menjadi siswa semakin menunjukkan kedewasaan atau kematangannya sebagai pribadi di dalam semua aspek tersebut. Tetapi sampai dengan lulus SMA, SMK dan sekolah sederajad, keragaman kedewasaan setiap siswa masih terbawa ketika mereka memasuki institusi pendidikan tinggi pilihan akhirnya, ketika mulai menjadi mahasiswa.

BERITA REKOMENDASI