Menumbuhkan Jiwa Kreatif Mahasiswa di Masa Pandemi

Editor: Ivan Aditya

KREATIVITAS merupakan aspek penting yang harus dimiliki seorang mahasiswa. Kreativitas, atau disebut juga dengan istilah “daya cipta” , tidaklah lahir secara instan dalam diri seseorang, melainkan diperoleh dengan perjuangan yang panjang dan proses yang berliku. Seorang mahasiswa yang ber-jiwa kreatif harus mampu menumbuhkan motivasi di dalam dirinya (self motivation) dan memiliki ketahanan diri dalam menghadapi berbagai situasi, serta berusaha untuk meninggalkan zona nyaman demi melakukan suatu perubahan. Yang tidak kalah penting adalah konsistensi dalam melangkah dan mengambil keputusan, dengan memaknai mentalitas “Orang Bersepeda” sebagaimana pernah disamapaikan oleh Mantan Presiden Indonesia Ke-3 Prof. Dr. BJ. Habibie. Bahwa mentalitas bersepeda itu, manakala kita berhenti maka kita akan terjatuh, ada saatnya berhenti tapi tetap harus berjalan agar segera tercapai tujuan.

Saat ini, salah satu tantangan serius bagi mahasiswa yang memiliki jiwa kreatif adalah situasi Pandemi Covid-19 yang memunculkan problem di berbagai sektor. Sebagian besar orang mungkin berpandangan bahwa pandemi dapat menghambat laju kreativitas mereka. Pemilik jiwa-jiwa kreatif yang sejati tidak akan pernah terhalang oleh situasi dan kondisi apa pun, termasuk pandemi ini, bahkan justru keadaan inilah yang berpotensi menumbuhkan dan memunculkan kreativitas yang luar biasa secara alamiah. Singkatnya, pemilik jiwa kreatif akan berlomba-lomba menciptakan inovasi-inovasi baru dalam rangka melepaskan diri dari jerat karena masalah pandemic dan berupaya memberikan yang terbaik demi masa depan yang cerah.

Menumbuhkan jiwa kreatif mahasiswa di masa seperti ini merupakan sesuatu yang sangat penting, tidak mudah memang, namun bisa dilakukan, tentunya membutuhkan strategi atau kiat-kiat tertentu agar kreativitas dapat tumbuh dan tidak mengarah pada pelanggaran terhadap norma-norma tertentu. Factor internal dan eksternal sama sama memiliki peranan penting dalam strategi menumbuhkan kreativitas bagi mahasiswa, factor internal adalah membangkitkan motivasi dan rasa percaya diri mahasiswa, sedangkan factor eksternal adalah dalam bentuk dukungan dari berbagai pihak terutama kampus sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya pemikiran bagi mahasiswa agar kreatif dan berfikir maju.

Strategi yang pertama: dari aspek mental, seorang mahasiswa harus meyakini bahwa akan ada hikmah pada setiap kejadian atau peristiwa, tidak terkecuali pandemi ini. Harus diyakini bahwa ini merupakan cara Allah untuk menaikkan derajat kemampuan dan kreativitas manusia dalam menghadapi masalah-masalah baru. Bagi orang-orang kreatif, masa-masa sulit seperti sekarang harus dipandang sebagai titik balik lahirnya inovasi-baru dari tangan mereka.

Kedua, menanamkan optimisme dalam diri. Hal ini berkaitan dengan kiat pertama, sebab ketika seorang mahasiswa telah terbiasa memandang sebuah masalah itu dari sisi yang positif, maka ia akan didapatkan adalah sebuah karya fikir yang positif, karena berpikir positif merupakan “pupuk” dari sebuah optimisme. Begitupula sebaliknya, jika seseorang terbiasa dengan berfikir negative maka yang akan didapat adalah sebuah pesimisme yang disadari atau tidak ini akan menganggu proses berfikir kreatif. Oleh karenanya seorang mahasiswa harus menanamkan optimism dalam dirinya agar menghasilkan sebuah karya-karya inovatif.

Ketiga, Bersiap diri lahir menjadi orang hebat baru. Setelah meyakini akan ada hikmah positif dari sebuah peristiwa dengan diikuti rasa optimis, seorang mahasiswa harus bersiap menjadi orang hebat yang baru: mereka harus yakin bahwa kelulusan tidak pernah lahir tanpa adanya sebuah ujian, dan dia harus yakin akan mampu melewati ujian itu dengan baik. Karena dia tau keberhasilan sudah menunggu di depan mata.

Prestasi hanya akan menjadi milik orang-orang yang kuat dan kreatif. Tidak pernah ada prestasi bagi mereka yang berjiwa pemalas. Pendayagunaan pikiran secara terus-menerus sangat berpengaruh positif pada fungsi otak kita agar bekerja dan berkembang, sehingga ide-ide kreatif dan inovasi baru akan tetap lahir, bahkan dalam situasi sulit seperti pandemi sekalipun. Inilah power dari kreativitas!

Dalam upaya menumbuhan kreativitas mahasiswa di masa pandemi, andil kampus pun kian dibutuhkan. walaupun tidak mudah karena pembatasan dan aturan-aturan baru, dukungan dan dorongan harus tetap diberikan, terlebih berbagai kompetisi yang diselenggarakan oleh Ditjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), atau lembaga-lembaga lainnya juga sangat banyak dengan berbagai inovasinya.

Karena sistem pembelajaran dilakukan secara daring (dalam jaringan) maka dukungan kampus terhadap mahasiswa juga harus disesuaikan sehingga mahasiswa tetap dapat berkreasi dan belajar sesuai dengan kebutuhannya, tentunya dalam situasi pandemi ini, kegiatan offline terbatas yang harus dilaksanakan
dengan tetap mematuhi protokol kesehatan (prokes) yang ketat. Artinya, dukungan harus diberikan dalam berbagai wujud, mulai dari dorongan, informasi, izin kegiatan, bimbingan, hingga yang bersifat anggaran kegiatan.

Dr. Gatot Sugiharto, S.H., M.H
Dosen Fakultas Hukum dan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni

BERITA REKOMENDASI