Menumbuhkembangkan Spiritualitas Mahasiswa di Masa Pandemi

Menggunakan Epistemologi Al-Jabiri

Sejatinya, lewat epistemologi bayani, burhani, dan irfani yang dikembangkan oleh Abed Al-Jabiri, pendidikan tinggi Islam sejak awal telah mempunyai strategi tersendiri dalam menghadapi potensi degradasi spiritualitas, baik karena faktor dari dalam diri manusia (internal) maupun faktor eksternal seperti pandemi saat ini. Artinya, ada strategi-strategi yang ditawarkan untuk menumbuhkembangkan spiritualitas secara berkontinuitas dalam proses pendidikan.

Pertama, pendekatan bayani yang sifatnya lebih tekstual, digunakan untuk memberikan wawasan-wawasan seputar Al-Qur’an, hadis, tahsin, akidah, fikih ibadah, akhlak, dan seterusnya. Pendekatan ini sifatnya benar-benar tekstual-informatif, atau dalam taksonomi Bloom, sepadan dengan proses pemanfaatan daya kognisi yang ada dalam diri manusia. Penekaanannya adalah aspek pengetahuan. Pendekatan pertama akan menjadi basis bagi proses-proses dalam pendekatan berikutnya.

Kedua, pendekatan burhani kita dapati dalam materi-materi perkuliahan yang berusaha memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai pertautan antarilmu, dalam hal ini antara ilmu keislaman dengan disiplin ilmu-ilmu lainnya (Islam interdisipliner). Jadi, eksplorasinya mengarah pada pemahaman bahwa keislaman tidak hanya berhenti pada norma-norma, melainkan juga diintegrasikan dengan ilmu-ilmu lain. Sebagai contoh kecil, dalam perintah salat, kita dapati kaitan dari ibadah tersebut dengan aspek-aspek seperti kiblat dan aktivitas bersuci (taharah), di mana kedua aspek ini kian bertautan dengan pemahaman perihal: ilmu perbintangan (falak) guna penentuan arah; kesehatan sebagai manfaat positif dari berwudu; manajemen air untuk menghindari terjadinya mubazir; dan lain sebagainya. Singkatnya, ketika pendekatan bayani digerakkan arah burhani, kita mendapati kaitan yang sangat variatif. Pendekatan burhani adalah proses mendialogkan keimanan seseorang dengan realitas di sekitarnya.

Ketiga, pendekatan irfani memungkinkan pengetahuan atau wawasan yang didapatkan dalam proses bayani—misalnya tentang ibadah salat—mengarahkan seseorang kepada aspek spiritualitas, yakni penanaman nilai-nilai dan keyakinan di hati kita, bahwa salat pada hakikatnya adalah mikrajnya seorang muslim: merasa benar-benar berhadapan dengan Tuhan-Semesta-Alam, karena sejatinya seluruh doa dalam aktivitas tersebut adalah doa-doa yang mendekatkan kepada Allah. Dalam bahasa Al-Qur’an: dengan mendirikan salat, sejatinya kita meninggalkan perbuatan keji dan mungkar. Efek dari salat tersebut sudah merambah pada aspek psikomotorik, yang artinya bukan sekadar ritual lagi, melainkan masuk kepada nilai yang bersifat lebih operasional.

UAD

BERITA REKOMENDASI