Mewujudkan Kedewasaan Dalam Beragama Dengan Ilmu

Editor: Agus Sigit

 

Oleh: Suparno, S.Ag. M.S.I.
Dosen Fakultas Psikologi UNDIP

AKHIR-akhir ini kita dihebohkan dengan berbagai kasus yang menggambarkan ketidakdewasaan dalam beragama, baik kasus itu berkaitan dengan internal umat Islam sendiri seperti kasus kekerasan seksual, penyimpangan ajaran Islam maupun kasus eksternal seperti intoleran terhadap agama lain.

Dengan melihat berbagai kasus ini, terjadi salah satunya disebabkan oleh keterbatasan pemahaman umat Islam dalam memahami ajaran agamanya. Oleh karena itu, dimensi intelektual atau pemahaman agama menjadi sangat penting dalam mengamalkan ajaran Islam yang mulia ini. Maka ilmu menjadi kata kunci penting dalam memahami dan mengamalkannya.

Kata ilmu berasal dari bahasa Arab ilm yang berarti pengetahuan, merupakan lawan dari kata jahl yang berarti ketidaktahuan atau kebodohan. Dalam al-Qur’an kata ilm menurut perhitungan dalam kitab Al-Mujam al-Mufahras li al-Fadz al-Quran al-Karim ditemukan tidak kurang dari 800 kali disebutkan, baik dalam bentuk madhi, mudhari, mashdar, fail dan lainnya (Abdullah Ali, 1997 : 27). Apabila kata disebutkan berulang-ulang dalam al-Qur,an menunjukkan betapa pentingnya kata tersebut dalam kehidupan manusia.

Manusia tidak akan mampu berkembang dalam kehidupan dan dalam melaksanakan ajaran agamanya tanpa membekali dirinya dengan ilmu. Begitu sentralnya ilmu dalam ajaran Islam sehingga umat Islam tidak bisa dipisahkan dengan ilmu. Harus disadari bahwa ilmu yang diberikan manusia sangatlah sedikit dibandingkan dengan ilmunya Allah SWT, namun dengan ilmu yang sedikit itu saja manusia mampu berbuat banyak.

Beragama Memerlukan Ilmu

Cara pandang ilmu pengetahuan vis a vis agama secara dikotomik sudah sejak lama ditinggalkan orang, bahkan dalam sejarah pemikiran Islam, jalan pikiran seperti itu ditengarai menjadi sebab terjadinya kemunduran umat Islam sejak abad ke-12 yang lalu (Imam Suprayogo, 2005: 213). Untuk memahami sebuah makna yang tersurat dalam teks-teks suci tidaklah akan mendekati kebenaran apalagi sampai pada tataran makna yang tersirat sangatlah diperlukan ilmu.

Rasulullah saw pernah bersabda jika segala sesuatu tidak diserahkan pada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya. Kita bisa melihat begitu banyak faham-faham yang menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI) dikatakan sesat, hal ini sebagian besar dikarenakan karena faktor kedangkalan ilmu (mereka memahami ajaran agama secara parsial/sepenggal-sepenggal saja). Hal tersebut menunjukkan betapa pentingnya sebuah ilmu sebagai alat/media untuk memahami sebuah ajaran agama (Islam).

Salah satu yang membedakan antara Islam dan agama lainnya adalah penekanannya terhadap masalah ilmu. Al-Quran dan as-Sunah mengajak untuk mencari/mendapatkan ilmu, dan Allah akan menempatkan manusia yang berilmu pada derajat yang mulia/tinggi. Menjadi hal yang sangat wajar ketika Allah dan Rasul-Nya mewajibkan umat Islam agar mencari ilmu. Bahkan dalam wahyu Allah yang pertama kali turun-pun berbicara tentang ilmu, bukan berbicara yang lainnya, sebagaimana yang tercantum al-Quran Surat al-Alaq ayat 1-5. Hal ini sangat bisa dipahami jika dikaitkan dengan kondisi sosio cultural masyarakat Arab. Pada masa itu masyarakat Arab terkungkung dengan kondisi kejahiliyahan. Selain itu, wahyu ini sangat menarik untuk diperdalam karena Allah mensejajarkan keilmuan dengan tauhid dalam satu waktu proses penurunannya. Karena itu tidak seorangpun yang dapat menangkap pesan-pesan wahyu kecuali orang-orang yang memiliki ilmu dan menggunakan akalnya (QS. Ali Imran/3:7).

Kekurangan ilmu yang benar dapat menggiring manusia untuk berlaku sombong kepada Allah (QS. al-Anam/6:108), bahkan bisa menyembah Tuhan selain Allah (QS. Al-Hajj/22 :7). Iqra adalah perintah untuk membaca, karena membaca adalah pintu pertama dibukakannya ilmu pengetahuan. Maka orang yang membaca adalah orang yang mengamalkan ayat tersebut. Iqra terambil dari kata yang berarti menghimpun. Dari kata tersebut lahir aneka makna seperti ; menyampaikan, menelaah, meneliti, mengetahui ciri sesuatu dan membaca baik teks tertulis maupun tidak tertulis (M.Quraish Shihab, 1997 : 433).
Wahyu pertama itu tidak menjelaskan apa yang harus dibaca, karena al-Qur’an menghendaki umatnya “membaca apa saja selama bacaan tersebut bismirabbik, dalam arti bermanfaat bagi kemanusiaan. Pengulangan perintah membaca pada wahyu yang pertama ini tidak sekedar bahwa untuk mendapatkan kecakapan, membaca harus dilakukan berulang-ulang pula. Tetapi hal itu untuk mengisyaratkan mengulang-ulang bacaan bismirabbik (demi Allah) akan menghasilkan pengetahuan dan wawasan yang baru, walaupun yang dibaca adalah sama.

Selanjutnya, dari wahyu pertama al-Qur,an diperoleh isyarat bahwa ada dua cara perolehan dan pengembangan ilmu, yaitu Allah mengajar dengan pena yang telah diketahui manusia lain sebelumnya dan mengajar manusia (tanpa pena) yang belum diketahuinya. Cara pertama adalah mengajar dengan alat atau atas dasar ikhtiar manusia (ilmu kasbi). Sedangkan cara kedua dengan mengajar tanpa alat dan tanpa usaha manusia (ilmu ladunni) seperti yang diinformasikan oleh Allah dalam QS. Al-Kahfi/18 : 65.

Dari beberapa ayat di atas yang memiliki relevansi untuk dijadikan daya dorong mencari ilmu pengetahuan adalah selain QS. Al-Alaq/96: 1-6 juga beberapa hadits nabi Muhammad saw; “para ulama adalah pewaris para nabi, barang siapa menginginkan kebahagiaan di dunia maka ia harus memiliki ilmunya, barang siapa menghendaki kebahagiaan di negeri akherat, ia harus memiliki ilmunya dan barang siapa yang menghendaki kebahagiaan pada keduanya maka hendaklah ia memiliki ilmunya, pada hari kiamat ditimbanglah tinta ulama dengan darah syuhada, maka tinta ulama dilebihkan dari darah syuhada, barang siapa mati ketika sedang menempuh ilmu untuk menghidupkan Islam,maka di surga ia sederajat di bawah nabi saw dan masih banyak hadits nabi Muhammad SAW yang memberikan motivasi agar umat Islam senantiasa menuntut ilmu.

Islam adalah agama yang menempatkan ilmu pengetahuan sebagai hal yang sangat sentral, maka menjadi wajar ketika Allah akan menempatkan manusia yang berilmu pada posisi yang sangat tinggi lagi mulia (Al Mujadilah/58:11). Selain itu dalam ayat lain yaitu QS. Al-Zumar/39: 9 juga berfirman yang artinya : …”Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Berawal dari ayat tersebut sudah semestinya manusia yang beriman dan berilmu pengetahuan akan mendapatkan tempat yang tinggi lagi mulia.

Keberagamaan Sehat dan Sakit
Menurut kebanyakan umat manusia semua orang yang beragama pastilah posistif, baik, sehat dan normal-normal saja sehingga sub tema di atas menjadi hal yang tidak lazim. Tetapi keyakinan tersebut dipatahkan oleh kenyataan perilaku empiris sebagian umat beragama yang ternyata memang bermacam-macam, tidak semuanya positif dan sehat. Ada juga perilaku beragama yang tidak sehat/sakit. Kita akan dikejutkan oleh bukti-bukti di meja pengadilan, pada waktu demo yang dibarengi perbuatan anarkis dan mereka menggunakan simbul-simbul keagamaan (seperti Allahu Akbar) diteriakkan dengan penuh keyakinan dan semangat untuk melegitimasi tindakan-tindakan yang tidak manusiawi (Amin Abdullah, 2006: 8) .

Pada akhir-akhir ini kita dikagetkan dengan tindakan-tindakan yang intoleran terhadap agama lain yang kemudian viral di media sosial. Kira-kira satu abad yang lalu ahli psikologi agama, William James membuat kategori keberagamaan yang sehat (Healthy minded) dan keberagamaan yang sakit (Sick soul).
Tanda-tanda keberagamaan yang yang sehat antara lain mempunyai sikap dan pandangan dunia yang optimistic (penuh harapan, besar hati, berpandangan luas, melihat dunia tidak selebar daun kelor), extrovert (terbuka, luwes bergaul dengan siapa saja, memiliki sense of humor, tidak suka menyembunyikan perasaan jengkel, persahabatan yang luas tanpa sekat-sekat primordialisme) dan gradual (selalu sabar, lebih menekankan proses yang bertahap dan berkesinambungan, tidak instan dalam mencapai cita-cita dalam kebaikan). Sedangkan ciri keberagamaan yang sakit antara lain adalah pesimistik (kecil hati, tidak mempunyai harapan masa depan yang cerah dan baik, berwajah muram-murung), introvert ( tertutup, tidak banyak bicara, tidak humoris, tidak mudah bergaul, persahabatan dan pergaulan yang terbatas pada kelompok sendiri) dan non gradual (jika ingin punya keinginan cepat tercapai, tidak sabar, instan, tidak memperhatikan proses yang panjang yang harus dilalui jika mempunyai keinginan/cita-cita) (Wlliam James, 1958).

Selain William James, ahli Psikologi Sosial Keagamaan Gordon W. Allport juga mempunyai kategori keberagamaan manusia yang bersifat intrinsik dan ekstrinsik. Keberagamaan yang instriksik lebih menekankan pada hal-hal yang terkait langsung dengan tujuan akhir keberagamaan umat manusia, yaitu nilai-nilai dasar yang dapat menopang kehidupan bersama antar umat manusia secara baik.

Dengan berpegang teguh pada nilai-nilai intrinsik yang fundamental ini, maka sikap-sikap ingin menangnya sendiri, buruk sangka terhadap orang lain di luar kelompoknya, sikap yang hanya mengklaim kelompoknya yang paling benar akan sedikit dapat dihindari. Sedangkan keberagamaan yang bersifat ekstrinsik cenderung terjebak pada simbul-simbul agama. Agama hanya dilihat sebagai alat dan bukan sebagai tujuan. Bersikap buruk sangka pada pengikut kelompok lain, mempertebal perasaan tidak suka kepada kelompok lain, pengkotak-kotakan masyarakat, fanatisme kelompok yang sangat berlebihan dan seterusnya (Gordon W. Allport, 1960: 257). Keberagamaan yang sakit ini mudah sekali menjadi target bidikan dan makanan empuk bagi sebagian besar para provokator yang dengan kepentingan sendiri atau kelompoknya ingin mengail di dalam air yang keruh.

Manfaat Ilmu dalam Mewujudkan Kedewasaan Beragama

Pemahaman terhadap agama diperlukan ilmu yang mumpuni guna melahirkan sebuah pemahaman yang mendekati kepada kebenaran. Pemahaman agama yang cenderung mengedepankan akal yang subyektivitas akan melahirkan pemahaman yang subyektif pula. Oleh karena itu, di sinilah letak betapa pentingnya ilmu digunakan sebagai alat bantu untuk memahami agama. Di dalam kehidupan masyarakat, banyak ditemukan realita keberagamaan manusia, karena cenderung tidak menjadikan akal sebagai alat untuk memahami agama maka akan melahirkan keberagamaan yang cenderung fatalistis (lihat faham jabariyah). Dengan demikian al-Qur’an memberikan tuntunan tentang penggunaan akal dengan mengadakan pembagian tugas dan wilayah kerja pikiran dan kalbu. Daya pikir manusia menjangkau wilayah pisik dan masalah-masalah yang relatif, sedangkan kalbu memiliki ketajaman untuk menangkap makna-makna yang bersifat metafisik dan mutlak. (Abdullah Ali, 1997 :12).

Sebagai upaya memahami Islam, akal memiliki kedudukan dan fungsi sebagai berikut : Pertama, Akal sebagai alat yang strategis untuk mengungkap dan mengetahui kebenaran yang terkandung dalam al-Qur’an dan As-Sunnah Nabi Muhammad SAW. Kedua, Akal merupakan modal dan potensi yang melekat pada diri manusia untuk mengetahui maksud-maksud yang tercakup dalam pengertian al-Qur’an dan As-Sunnah. Ketiga, Akal juga berfungsi untuk menangkap pesan dan semangat al-Quran dan As-Sunnah untuk dijadikan acuan dalam mengatasi dan memecahkan persoalan umat manusia. Dan yang keempat, Akal akan berfungsi untuk menjabarkan pesan-pesan al-Quran dan As-Sunnah dalam kaitannya manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Akal yang dalam aktivitasnya melibatkan pikiran dan qalbu, akan selalu berkaitan dengan dimensi fikr dan dzikr. Atas dasar itulah optimalisasi penggunaan akal dalam memahami agama adalah suatu keharusan. Bahkan al-Qur’an menegaskan bahwa hanya dengan akallah dapat memahami dan menangkap pesan yang ada dalam agama Islam. Hanya dengan akal manusia akan mampu mengendalikan hawa nafsu, sebaliknya akal yang tidak berfungsi, menjadikan qalb (hati) manusia tertutup, sehingga manusia kehilangan kekuatan dan kemampuannya untuk memahami kebenaran (QS. Al-Jasiyah/45: 23).

Kedewasaan dalam beragama hanya akan dapat diwujudkan manakala semua umat beragama di dalam memahami dan mengamalkan agamanya tidak meninggalkan akal dalam batas-batas tertentu. Kebanyakan umat beragama yang tidak memiliki pandangan yang luas karena keterbatasan terhadap pemahaman agamanya akan melahirkan manusia-manusia yang sempit pandangan dan cenderung ashobiyah dan sulit menerima perbedaan dalam kehidupannya. Di sinilah letak pentingnya mengapa Allah mewahyukan ayat yang pertama kali turun berkenaan dengan masalah ilmu pengetahuan dan sekaligus masalah tauhid (semangat yang kembar). Agar manusia mampu mengamalkan ajaran agamanya dengan maksimal dan Islam mampu menjadi rahmatan lil alamin maka kita harus senantiasa mengedepankan keduanya dan tidaklah kita boleh meninggalkannya.***

BERITA REKOMENDASI