Momok Inflasi

Perencanaan Uang Rupiah
Menurut sumber www.bi.go.id, perencanaan uang Rupiah merupakan rangkaian kegiatan penetapan besarnya jumlah dan jenis pecahan berdasarkan perkiraan kebutuhan Rupiah dalam periode tertentu. Perencanaan jumlah uang Rupiah yang akan dicetak dilakukan dengan memperhatikan asumsi seperti tingkat inflasi, pertumbuhan ekonomi, perkembangan teknologi, kebijakan perubahan harga uang Rupiah, kebutuhan masyarakat terhadap jenis pecahan uang Rupiah tertentu, tingkat pemalsuan. Perencanaan uang Rupiah terdiri dari dua jenis, yaitu perencanaan pencetakan uang Rupiah dan perencanaan uang Rupiah emisi baru.

Pengeluaran dan Peredaran Uang
Menurut Teori Kuantitas Uang dari Irving Fisher (MV = PT), jumlah uang beredar (M) berbanding lurus dengan perubahan harga (P) karena adanya asumsi paham Ekonomi Klasik (Say’s Law). Dengan demikian, kebijakan Bank Indonesia dalam mengelola Perencanaan Uang Rupiah yang rangkaian tahapan kegiatannya antara lain pengeluaran dan peredaran Uang Rupiah menjadi penting karena menjadi faktor yang memengaruhi perubahan harga sebagai indikator inflasi. Pengeluaran Uang Rupiah merupakan rangkaian kegiatan menerbitkan Rupiah sebagai alat pembayaran yang sah di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bank Indonesia memiliki wewenang dalam mengeluarkan Uang Rupiah dalam bentuk emisi baru, Uang Rupiah desain baru, dan Uang Rupiah khusus. Pengedaran Uang Rupiah merupakan suatu rangkaian kegiatan mengedarkan atau mendistribusikan Rupiah di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kegiatan pengedaran Uang Rupiah mencakup distribusi Uang Rupiah dan layanan kas.

RDG BI dan Momok Inflasi
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia beberapa waktu yang lalu memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,50%, suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75%, dan suku bunga Lending Facility  sebesar 4,25%. Keputusan ini sejalan dengan perlunya pengendalian inflasi dan menjaga stabilitas nilai tukar, serta tetap mendorong pertumbuhan ekonomi, di tengah tingginya tekanan eksternal  terkait dengan ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina serta percepatan normalisasi kebijakan moneter di berbagai negara maju dan berkembang.

Secara tahunan, inflasi IHK April 2022 tercatat 3,47% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya yang sebesar 2,64% (yoy), seiring dengan peningkatan harga komoditas global, mobilitas masyarakat, dan pola musiman Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN). Inflasi inti tetap terjaga di tengah permintaan domestik yang meningkat, stabilitas nilai tukar yang terjaga, dan konsistensi kebijakan Bank Indonesia dalam mengarahkan ekspektasi inflasi.

BERITA REKOMENDASI