Muhibah Budaya Jalur Rempah Untuk Upaya Memperkokoh Poros Maritim Dunia

TOME PIRES seorang apoteker Portugis 1512, dalam catatannya ‘Suma Oriental”, “Mencatat: para pedagang Melayu mengatakan kepada saya, bahwa Tuhan menciptakan Timor untuk cendana; Maluku untuk cengkeh, Banda untuk buah pala, dan tidak ada daerah lain di dunia ini menghasilkan komoditas di atas selain di pulau-pulau yang disebutkan”. Dari pulau-pulau tersebutlah awal mula rempah-rempah berasal, kemudian menyebar ke berbagai belahan dunia. Untuk itulah tidak berlebihan kiranya Indonesia disebut sebagai the mother of spices.

Untuk membuktikan klaim tersebut, diperlukan penelitian yang komprehensif yang melibatkan berbagai disiplin ilmu. Berdasarkan sumbernya, dapat dipetakan sebagai berikut: Pertama adalah sumber dari India. Kitab Ramayana yang ditulis oleh Walmiki pada abad ke-4 SM, dan Kitab Jataka telah menyebutkan hubungan antara India dan Nusantara. Di dalam kitab tersebut tertulis nama-nama seperti Javadvipa dan Swarnadvipa yang merupakan sumber emas dan rempah-rempah.

Beberapa abad kemudian, kepulauan barat terkenal dengan lada. Salah satu tanaman obat yang menggunakan lada panjang dipelajari oleh dokter dari Yunani sebelum ekspedisi Iskandar Zulkarnaen ke India Utara. Banyak resep obat ditulis dalam buku Susruta dan Caraka. Hal yang penting juga adalah bahwa Kamper atau Kapur Barus dalam kitab Jataka dan Ramayana dikatakan sebagai obat penyakit mulut. Di India tumbuhan Nusantara ini disebut sebagai karpura.

Sumber kedua adalah catatan musafir China. Situasi berlayar ke Timur khususnya ke China, yang berkembang pada awal abad ke-5 dijelaskan oleh dua pengelana Fa Shien dan Gunavarman. Fa Shien pertama kali melakukan perjalanan dari Sri Lanka ke Cina pada tahun 413 M melalui laut. Fa Shien berlayar pada bulan Mei dari Ye po ti (Javadvipa) di Nusantara ke Cina. Gunavarman kembali ke China dari Samudera Hindia melalui rute yang sama. Pada abad ke-3 orang Tionghoa berdagang ke Asia Tenggara, melalui Funan. Bumbu yang diperdagangkan itu diyakini chi-she, nama awal yang digunakan adalah ting hsiang atau cengkeh.

Ketiga adalah sumber Arab atau Timur Tengah. Dalam catatan kitab-kitab di Timur Tengah banyak menyebut rempah-rempah sebagai bahan obat, bumbu masakan dan tentu berkaitan dengan simbol status sosial. Sebut saja misalnya Kitab Al- Aqrabadhin al Kindi dan Kitab Al Aqrabadhin al Saghir yang ditulis sekitar abad ke-9; Kitab Al Tabikh dan Kitab Tibb al Fuqara’wal Masakin ditulis sekitar abad ke 10. Dalam kitab-kitab tersebut selalu menyebutkan tentang ramuan rempah-rempah dalam setiap resep yang disajikan. Ketika Dinasti Abbasiyah mencapai kejayaannya, perdagangan ke Negeri timur dengan komoditas rempah-rempah telah terjadi pula. Sumber keempat tentu sumber-sumber dari Eropa dengan masa yang lebih kemudian. Terutama sumber-sumber dari Spanyol, Portugis, Belanda dan negara Eropa yang lainnya. Tentu sumber-sumber yang lainnya masih mungkin untuk dikaji lebih teliti lagi.

BERITA REKOMENDASI