Parenting, Kunci Pendidikan Indonesia

CATATAN sejarah akan merekam pandemi Covid-19 sebagai salah satu musibah yang menimbulkan kerugian terbesar bagi masyarakat dunia. Pendidikan merupakan salah satu bidang yang mengalami kerugian tak terkira. Menurut data UNESCO (2021), penutupan lembaga pendidikan akibat pandemi Covid-19 telah mengganggu pendidikan formal lebih dari 1,6 miliar pelajar di dunia. Selain merampas kesempatan anak untuk memperoleh keterampilan dasar, gangguan ini telah mempengaruhi kesehatan mental siswa, dan mencegah sebagian besar dari mereka memperoleh akses sumber nutrisi yang teratur.

UNICEF (2021) dalam laporannya menyebutkan, penutupan lembaga pendidikan menyebabkan 70% anak berusia 10 tahun yang tinggal di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah, kehilangan kesempatan belajar. Hal ini menyebabkan siswa kehilangan kemampuan dalam pembelajaran (learning poverty).

Analisis menunjukkan meningkatnya jumlah siswa yang kehilangan kemampuan dalam pembelajaran seiring dengan lamanya penutupan lembaga pendidikan. Analisis tersebut juga mengungkapkan kerugian yang ditimbulkan diperkirakan lebih signifikan pada ketidakmampuan siswa dalam numerasi dibandingkan membaca. Namun, bila melihat hasil studi Bank Dunia (2021), kerugian yang ditimbulkan pandemi Covid-19 bagi siswa juga berkaitan dengan kesejahteraan mereka di masa depan. Bank Dunia menyebutkan, penurunan kualitas belajar siswa diperkirakan dapat berdampak pada hilangnya potensi pendapatan seumur hidup seluruh mereka. Angkanya tak main-main, potensi pendapatan yang hilang dari seluruh siswa yang saat ini terdampak pandemi Covid-19, mencapai US$ 17 triliun atau setara Rp 242,7 kuadriliun (kurs Rp14.280 per Dollar AS). Proyeksi yang disodorkan UNESCO, UNICEF, dan Bank Dunia memberikan gambaran betapa pandemi Covid-19 menimbulkan dampak buruk pada produktivitas,
pendapatan, dan kesejahteraan generasi saat ini, di masa depan, dan ekonomi dunia.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki populasi siswa lebih dari 68 juta dan 2,7 juta guru. Hal ini menempatkan Indonesia sebagai negara dengan sistem pendidikan terbesar keempat di dunia. Kondisi ini menyebabkan upaya penanganan dampak pandemi Covid-19 di sektor pendidikan di Indonesia menjadi tidak mudah dan tak mungkin diseragamkan.

Akibat penerapan kebijakan pembatasan mobilitas, praktik pendidikan tradisional di seluruh penjuru negeri menjadi terganggu. Kebijakan pembelajaran dalam jaringan (daring) dan jarak jauh, pada praktiknya tak benar-benar dapat menjadi solusi.

BERITA REKOMENDASI