Pembelajaran Daring : Akankah Mempermudah Menyandang Status Mahasiswa ?

Editor: KRjogja/Gus

*) Oleh: Bedjo Santoso (Rektor Universitas Islam Sultan Agung)

Dari survey angkatan kerja Nasional Badan Pusat Statistik Indonesia pada Februari 2021, ditemukan fakta bahwa hanya 10,3% angkatan kerja Indonesia memiliki akses ke pendidikan setingkat perguruan tinggi. Padahal pendidikan tinggi adalah salah satu faktor penting dalam usaha meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia unggul yang mampu bersaing di kancah internasional.

Staf khusus wakil presiden bidang reformasi Birokrasi dan Pendidikan, Mohamad Nasir, Rabu (2/9/2020) mengatakan jumlah masyarakat yang masuk perguruan tinggi hanya mencapai 34,58 persen dari keseluruhan warga Indonesia. Jumlah ini sangat sedikit jika dibandingkan negara Asia lainnya. Sebanyak 47 persen warga negeri Jiran Malaysia telah menempuh pendidikan tinggi. Sementara Singapura, 78 persen warganya menempuh jenjang perguruan tinggi. Kemudian Korea Selatan sudah 98 persen dan hampir seluruh rakyat Korea Selatan usia 18 sampai 23 tahun itu sudah mengenyam pendidikan tinggi.

Penyebab utama keterbatasan akses ini adalah kendala biaya dan lokasi. Kebanyakan angkatan kerja belum mampu membayar biaya kuliah yang cukup besar. Belum lagi lokasi perguruan tinggi yang kebanyakan hanya di kota-kota besar dan belum tersebar luas di seluruh wilayah Indonesia. Lokasi perguruan tinggi yang bermutu baik yang berjauhan dengan lokasi asal mahasiswa akan menyebabkan tambahan biaya yang cukup besar yakni biaya sewa kos, biaya makan di luar kota dan biaya transportasi yang kadang-kadang biaya tersebut per bulannya melebihi biaya UKT pada setiap perguruan tinggi. Dan ini diperkirakan penyebab utama rendahnya angkatan kerja mendapatkan pendidikan setara pendidikan tinggi.

Pembelajaran online berbasis learning management system (LMS) sebagai solusi

Solusi terbaik untuk mengatasi masalah tersebut adalah penerapan Learning Management System (LMS), yaitu sebuah sistem pembelajaran terpadu berbasis internet. Dengan sistem ini pembelajaran setingkat perguruan tinggi dapat diakses dengan biaya lebih terjangkau dan tidak dibatasi ruang dan waktu. Tidak sedikit perguruan tinggi Indonesia yang sudah mulai menerapkan LMS ini, namun masih sebatas untuk memperluas akses kegiatan belajar mengajar. Belum banyak yang memanfaatkan potensi-potensi LMS yang lain seperti :

Pertama : LMS yang efisien murah, terintegrasi yang didukung dengan ICT center yang berada masing-masing di perguruan tinggi. Device yang dimiliki oleh setiap dosen dan mahasiswa diharapkan dapat menghubungkan komunikasi antara dosen, mahasiswa, sumber belajar, kurikulum, dan capaian pembelajaran secara efisien dan efektif merupakan solusi yang tepat. Device yang dimaksud yakni satu set peralatan komunikasi dan multimedia berbasis internet dengan metode e-learning namun seolah-olah jarak mahasiswa dan dosen menjadi dekat. Device tersebut berupa laptop, kamera (depan belakang) dan suara, walapun kuliahnya jarak jauh seolah-olah hubungan dosen dan mahasiswa berada dalam satu ruangan seperti tatap muka langsung.

Kedua: Di samping itu perguruan tinggi perlu mendigitalkan perpustakaan ke dalam perpustakaan maya yang berisi ribuan judul e-book/ textbook, artikel, jurnal, skripsi, tesis dan disertasi secara terintegrasi. Hal tersebut akan mempermudah mahasiswa akses ke sumber belajar dengan cepat dan biaya murah. Perguruan tinggi diberikan hak untuk mendigitalkan textbook dan sumber belajar lainnya, namun hanya untuk kalangan terbatas di dalam internal kampus.

Ketiga: Perguruan tinggi perlu memperkuat implementasi sistem Rencana Pembelajaran Semester ( RPS) model Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), yang memuat beberapa item: Capaian pembelajaran Prodi, Capaian pembelajaran mata kuliah, Capaian setiap tahapan pembelajaran, kemampuan akhir pembelajaran, bahan kajian, penilaian, indikator dan kriteria penilaian, bentuk pembelajaran, metode pembelajaran, penugasan mahasiswa, materi pembelajaran, dan bobot penilaian. Tentu saja semua materi pembelajaran sudah di sediakan secara digital yang bisa di lacak mandiri oleh mahasiswa.

Blended Learning Sebagai Salah Satu Alternatif

Pro-kontra tentang efektivitas pembelajaran daring masih terjadi, kelompok yang kontra di wakili dari pihak yang menyelenggarakan skill-lab teknik dan kesehatan, serta pihak yang mengajarkan value dan keagamaan. Namun demikian model blended learning diharapkan dapat menjadi solusi. Blended learning adalah sebuah kemudahan pembelajaran yang menggabungkan berbagai cara penyampaian, model pengajaran, dan gaya pembelajaran, memperkenalkan berbagai pilihan media dialog antara fasilitator dengan orang yang mendapat pengajaran. Blended learning juga sebagai sebuah kombinasi pengajaran langsung (face-to-face) dan pengajaran online, tapi lebih daripada itu sebagai elemen dari interaksi sosial. Manfaat dari penggunaan e-learning dan juga blended learning dalam dunia pendidikan saat ini adalah memberikan fleksibilitas dalam memilih waktu dan tempat untuk mengakses pelajaran-mahasiswa tidak perlu mengadakan perjalanan menuju ke kampus, e-learning bisa dilakukan dari mana saja baik yang memiliki akses ke Internet ataupun tidak. Jadi metode Blended menggabungkan kebaikan dua model pembelajaran yakni pembelajaran daring dan luring. Disamping itu model blended mengeliminasi kelemahan model daring dan luring.

E-learning memberikan kesempatan bagi mahasiswa secara mandiri memegang kendali atas keberhasilan belajar. Mahasiswa bebas menentukan kapan akan mulai, kapan akan menyelesaikan, dan bagian mana dalam satu modul yang ingin dipelajarinya terlebih dulu. Seandainya, setelah diulang masih ada hal yang belum ia pahami, mahasiswa bisa menghubungi instruktur, nara sumber melalui email, chat atau ikut dialog interaktif pada waktu-waktu tertentu. Bisa juga membaca hasil diskusi di message board yang tersedia di LMS (Learning Management System).

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim mengatakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) telah dilaksanakan akhir-akhir ini. Mendikbud telah mengeluarkan peraturan tentang pembelajaran daring dan bekerja dari rumah untuk pencegahan penyebaran COVID-19 dengan Nomor: 36962/MPK.A/HK/2020. Disamping itu telah diperkuat dengan keputusan bersama menteri pendidikan dan kebudayaan, menteri agama, menteri kesehatan, dan menteri dalam negeri Republik Indonesia nomor 03/KB/2021, nomor 384 tahun 2021, nomor HK.01.08/MENKES/4242/2021, nomor 440-717 tahun 2021 tentang panduan penyelenggaraan pembelajaran di masa pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Pemanfaatan teknologi dalam kegiatan belajar-mengajar akan menjadi hal yang mendasar. Pemanfaatan teknologi ini akan memberikan kesempatan bagi universitas melakukan berbagai macam modeling kegiatan belajar. Hal tersebut akan dapat meningkatkan penduduk Indonesia agar banyak yang berkuliah karena saat ini Indonesia memiliki persentase yang sedikit dalam tingkat Asia Tenggara pada perguruan tinggi.

Untuk itu perlu dilakukan kemudahan dalam berkuliah sehingga akan memiliki efisiensi dari segi biaya dan waktu. Kesempatan kita untuk melakukan berbagai macam efisiensi dan teknologi dengan software dengan aplikasi dan memberikan kesempatan bagi dosen dan mahasiswa untuk melakukan berbagai macam hybrid model atau school learning management system yang potensinya sangat besar. Hal ini terbukti dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh akhirnya mencoba beradaptasi dan bereksperimen memanfaatkan teknologi untuk kegiatan belajar. Jadi ini merupakan sebuah tantangan dan ke depan akan menjadi suatu kesempatan untuk kita. Kemendikbud juga menyusun kurikulum dan assesmen. Kurikulum itu disusun dengan mempertimbangkan penyederhanaan belajar dan fokus kepada aspek literasi, numerasi, dan pendidikan berkarakter. Selain kurikulum PJJ, Kemendikbud juga menyiapkan modul pembelajaran. Dengan modul tersebut, mahasiswa dapat belajar di rumah secara mandiri dan dapat membantu dosen.

Dengan adanya kebijakan dari pemerintah maka akan membuat mahasiswa Indonesia semakin mudah dalam mengikuti perkuliahannya. Meskipun tidak tatap muka secara langsung di kampus, namun hal ini akan tetap membuat mahasiswa belajar dari jarak jauh. Apalagi ada program pemerintah bantuan kuota internet gratis sebesar 15 GB setiap bulan untuk membantu mahasiswa dalam pembelajaran daring. (sgi)

 

BERITA REKOMENDASI