Pentingnya Keselamatan Pasien di Puskesmas pada Era Universal Health Coverage

Editor: Ivan Aditya

PUSKESMAS sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan dan di era universal health coverage (UHC) maka Puskesmas menjadi pintu masuk pertama atau bisa dikatakan yang pertama kali di akses oleh masyarakat ketika sakit. Maka, Puskesmas harus senantiasa menjaga dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dan salah satunya dengan cara menjamin keselamatan pasien. Puskesmas wajib melaksanakan pelayanan kesehatan yang aman, berkualitas, tidak diskriminatif, dan efektif, dengan mengutamakan kepentingan pasien. Puskesmas wajib memenuhi hak pasien untuk memperoleh keamanan dan keselamatan selama dalam perawatan di Puskesmas.

Keselamatan pasien merupakan suatu sistem di mana Puskesmas sebagai primary health care mampu membuat suatu sistem asuhan pasien yang aman. Selain itu, mampu melakukan pencegahan kejadian cedera yang diakibatkan karena adannya kesalahan tindakan ataupun karena tidak dilakukannya suatu tindakan. Pada hakekatnya keselamatan pasien bukan berarti harus tidak ada risiko sama sekali agar semua tindakan medis dapat dilakukan. Keselamatan pasien merupakan komponen penting dari kualitas pelayanan kesehatan, dengan memperhatikan kewaspadaan secara terus menerus.

Puskesmas sebagai pemberi pelayanan strata pertama menghadapi banyak tantangan di lingkungan perawatan kesehatan dalam rangka menjamin keselamatan pasien di era universal health coverage.

Perawatan kesehatan yang aman adalah mengubah budaya dari menyalahkan seseorang karena kesalahan atau error yang dianggap sebagai kegagalan perorangan menjadikannya sebagai peluang untuk memperbaiki sistem dan mencegah terjadinya cedera atau kejadian yang tidak diharapkan.

Kebijakan yang mendasari pentingnya keselamatan pasien di Puskesmas diantaranya adalah Akreditasi Puskesmas, klinik pratama, tempat praktik mandiri dokter dan tempat praktek mandiri dokter gigi sudah di atur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 46 Tahun 2015. Peraturan ini untuk memberikan kepastian layanan bagi pasien sehingga mereka menerima pelayanan yang berkualitas dan terstandar, karena keselamatan pasien adalah prioritas utama. Selain supaya Puskesmas memberikan pelayanan terstandar kepada pasien, akreditasi juga merupakan cara untuk meningkatkan tata kelola fasilitas pelayanan kesehatan dan tata kelola klinis.

Adanya status akreditasi, maka Puskesmas dapat meningkatkan mutu pelayanan secara berkelanjutan dan melindungi pasien peserta jaminan kesehatan Nasional (JKN) dari asuhan yang tidak aman. Berdasarkan data dari kementrian kesehatan republik indonesia pada tahun 2020 terdapat 9.153 atau 89.17 persen Puskesmas sudah terakreditasi.

Selain akreditasi, kebijakan yang digunakan sebagai dasar regulasi pentingnya implementasi keselamatan pasien di Puskesmas adalah Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 11 Tahun 2017 tentang keselamatan pasien, dan Keputusan Menteri nomor HK.01.07/MENKES/503/2020 tentang Komite Nasional Keselamatan Pasien. Berdasarkan keputusan tersebut tugas komite nasional keselamatan pasien tidak hanya di rumah sakit tapi juga memiliki kewenangan terhadap keselamatan pasien di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan yang ada di Indonesia. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 2016 tentang fasilitas pelayanan kesehatan, yang dimaksud dengan fasilitas pelayanan kesehatan salah satunya puskesmas (Pusat kesehatan Masyarakat), dengan demikian tugas komite keselamatan pasien mencakup juga keselamatan pasien di Puskesmas.

Upaya yang dapat dilakukan Puskesmas untuk meningkatkan keselamatan pasien

Upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan dapat diartikan segala upaya dan aktifitas yang secara menyeluruh dan terintegrasi memantau dan menilai kualitas pelayanan. Salah satu upaya peningkatan mutu pelayan yang dapat dilakukan adalah dengan membangun dan mempromosikan budaya keselamatan pasien di Puskesmas. Upaya yang dapat dilakukan untuk membangun budaya keselamatan pasien di Puskesmas diantaranya adalah :

1. Kepemimpinan yang efektif, di mana pimpinan puskesmas memahami bahwa lingkungan puskesmas adalah lingkungan yang berisiko tinggi, sehingga mampu mengintegrasikan keselamatan pasien pada visi dan misi serta kompetensi staf dan sumberdaya keuangan, manusia serta sarana dan prasarana.

2. Membudayakan Kerjasama tim, yaitu semua petugas kesehatan harus selalu memberikan motivasi antar petugas kesehatan, serta bekerjasama sebagai sebuah tim untuk mengimplementasikan keselamatan pasien.

3. Adanya komunikasi efektif, seluruh staf di Puskesmas harus mampu melakukan komunikasi dengan baik, karena dengan komunikasi yang baik maka dapat mewujudkan budaya keselamatan pasien di Puskesmas meningkat, serta dapat menjamin bahwa seluruh staf memiliki hak dan kewajiban untuk berbicara tentang segala sesuatu terkait kepentingan pasien.

4. Belajar dari kesalahan, petugas kesehatan yang ada di Puskesmas harus senantiasa dapat belajar dari kesalahan yang pernah dilakukan dan dapat mencari adanya celah untuk upaya perbaikan.

5. Kerjasama antar unit di Puskesmas, bekerjasama antar unit dan saling mendukung staf di dalam unit, bekerjasama saat beban kerja semakin banyak, saling menghargai dan juga saling membantu, maka jika setiap unit dalam Puskesmas saling bekerjasama dan berkoordinasi maka akan dapat memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasien dan dapat menjamin keselamatan pasien.

Dengan demikianmengembangkan budaya keselamatan pasien merupakan salah satu prinsip pada kegiatan keselamatan pasien.

Siti Kurnia Widi Hastuti, SKM., MPH.
Mahasiswa Program Doktor Prodi Kesehatan Masyarakat Universitas Sebelas Maret & Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan

BERITA REKOMENDASI