Percepatan Vaksinasi dan Pemulihan Ekonomi

SAMPAI dengan tanggl 27 Juli 2021 jumlah orang yang sudah menerima vaksin menurut data Kemenkes baru mencapai 21,86% vaksin pertama dan 9,05% vaksin kedua. Penambahan vaksin pertama pada tanggal yang sama sebanyak 436.608. Jumlah ini masih jauh dari target 200 juta lebih rakyat Indonesia. Apabila laju vaksinasi 0,5% atau sekitar 1 juta jiwa maka masih dibutuhkan waktu sekitar 160 hari untuk untuk mencapai target herd imunity. Apabila target pemerintah vaksinasi 2 juta dosis pada bulan Agustus perhari maka dibutuhkan waktu 80 hari kedepan. Namun target terlalu optimistik melihat capain hari ini baru 0,25% per hari. Apa sebenarnya yang menjadi permasalahan sehingga laju vaksinasi masih rendah?.

Ada beberapa faktor penting yang dalam proses vaksinasi, yaitu ketersediaan vaksin dan rantai pasok, keengganan penerima vaksin, biaya pelaksanaan dan ketersediaan tenaga kesehatan. Ketersediaan vaksin jelas masih ada masalah, pasokan ke daerah sangat terbatas sehingga pelayanan vaksinasi tidak dapat berjalan cepat. Hal ini mengakibatkan antrian di pusat-pusat pelayanan kesehatan menjadi sangat panjang. Bahkan semenjak vaksinasi untuk anak-anak 12 tahun ke atas, para orang tua berusaha keras untuk bisa mendapatkan jatah vaksin mengingat tahun ajaran baru kelas luring sudah dibuka.

Pemerintah berupaya keras untuk mempercepat vaksinasi dengan melibatkan Kementerian, TNI/Polri, KADIN, dan asosiasi dunia usaha, dan kelompok-kelompok masyarakat. Pelibatan tersebut mengakibatkan pemanfaatan vaksin tidak fleksibel di daerah. Karena vaksin yang tersedia di gudang milik banyak instansi yang sudah ditetapkan dari Kementerian Kesehatan. Dalam hal ini pemerintah harus segera mengubah kebijakan dengan meniadakan penetapan kuota di pusat. Pemanfaatan vaksin biar diatur oleh Pemerintah Daerah dengan memadukan alokasi berdasarkan skala prioritas dan insentif kinerja bagai instansi daerah yang terlibat dalam proses vaksinasi.

BERITA REKOMENDASI