Muhibah Budaya Jalur Rempah Untuk Upaya Memperkokoh Poros Maritim Dunia

user
danar 30 Juni 2022, 11:40 WIB
untitled

TOME PIRES seorang apoteker Portugis 1512, dalam catatannya ‘Suma Oriental”, “Mencatat: para pedagang Melayu mengatakan kepada saya, bahwa Tuhan menciptakan Timor untuk cendana; Maluku untuk cengkeh, Banda untuk buah pala, dan tidak ada daerah lain di dunia ini menghasilkan komoditas di atas selain di pulau-pulau yang disebutkan”. Dari pulau-pulau tersebutlah awal mula rempah-rempah berasal, kemudian menyebar ke berbagai belahan dunia. Untuk itulah tidak berlebihan kiranya Indonesia disebut sebagai the mother of spices.

Untuk membuktikan klaim tersebut, diperlukan penelitian yang komprehensif yang melibatkan berbagai disiplin ilmu. Berdasarkan sumbernya, dapat dipetakan sebagai berikut: Pertama adalah sumber dari India. Kitab Ramayana yang ditulis oleh Walmiki pada abad ke-4 SM, dan Kitab Jataka telah menyebutkan hubungan antara India dan Nusantara. Di dalam kitab tersebut tertulis nama-nama seperti Javadvipa dan Swarnadvipa yang merupakan sumber emas dan rempah-rempah.

Beberapa abad kemudian, kepulauan barat terkenal dengan lada. Salah satu tanaman obat yang menggunakan lada panjang dipelajari oleh dokter dari Yunani sebelum ekspedisi Iskandar Zulkarnaen ke India Utara. Banyak resep obat ditulis dalam buku Susruta dan Caraka. Hal yang penting juga adalah bahwa Kamper atau Kapur Barus dalam kitab Jataka dan Ramayana dikatakan sebagai obat penyakit mulut. Di India tumbuhan Nusantara ini disebut sebagai karpura.

Sumber kedua adalah catatan musafir China. Situasi berlayar ke Timur khususnya ke China, yang berkembang pada awal abad ke-5 dijelaskan oleh dua pengelana Fa Shien dan Gunavarman. Fa Shien pertama kali melakukan perjalanan dari Sri Lanka ke Cina pada tahun 413 M melalui laut. Fa Shien berlayar pada bulan Mei dari Ye po ti (Javadvipa) di Nusantara ke Cina. Gunavarman kembali ke China dari Samudera Hindia melalui rute yang sama. Pada abad ke-3 orang Tionghoa berdagang ke Asia Tenggara, melalui Funan. Bumbu yang diperdagangkan itu diyakini chi-she, nama awal yang digunakan adalah ting hsiang atau cengkeh.

Ketiga adalah sumber Arab atau Timur Tengah. Dalam catatan kitab-kitab di Timur Tengah banyak menyebut rempah-rempah sebagai bahan obat, bumbu masakan dan tentu berkaitan dengan simbol status sosial. Sebut saja misalnya Kitab Al- Aqrabadhin al Kindi dan Kitab Al Aqrabadhin al Saghir yang ditulis sekitar abad ke-9; Kitab Al Tabikh dan Kitab Tibb al Fuqara’wal Masakin ditulis sekitar abad ke 10. Dalam kitab-kitab tersebut selalu menyebutkan tentang ramuan rempah-rempah dalam setiap resep yang disajikan. Ketika Dinasti Abbasiyah mencapai kejayaannya, perdagangan ke Negeri timur dengan komoditas rempah-rempah telah terjadi pula. Sumber keempat tentu sumber-sumber dari Eropa dengan masa yang lebih kemudian. Terutama sumber-sumber dari Spanyol, Portugis, Belanda dan negara Eropa yang lainnya. Tentu sumber-sumber yang lainnya masih mungkin untuk dikaji lebih teliti lagi.

Pada era sebelum kolonialisme di setiap titik perlintasan pelabuhan, perdagangan rempah-rempah mendorong terjadinya pertukaran budaya baik dalam bentuk adaptasi maupun akulturasi. Bentuk pertukaran budaya tersebut berupa makanan, fashion, teknologi tradisional, adat istiadat, ritual, kepercayaan dan sebagainya. Dengan demikian, perdagangan dan pelayaran rempah-rempah telah mendorong berkembangnya berbagai ilmu dan budaya yang tidak hanya menjadi warisan budaya bagi Indonesia, tetapi juga warisan budaya bagi dunia. Karena posisi geo-politik dan geo-ekonominya yang strategis dan terletak di antara dua benua dan dua samudra, Indonesia menjadi "titik pertemuan global". Jadi dari rempah-rempah itulah sebenarnya, budaya Indonesia telah menciptakan peradaban dunia.

Berdasarkan catatan-catatan tersebut, sebagian besar ditulis oleh orang asing, sehingga peran masyarakat di kepulauan Indonesia ditulis sangat minim. Aktor utama dari perdagangan tersebut seolah-olah adalah para pedagang asing. Sementara masyarakat lokal yang sebenarnya sebagai aktor utama justru ditempatkan sebagai obyek dari perdagangan dan peradaban global. Di sisi lain berbagai penelitian khususnya tentang rempah-rempah dan dinamikanya, sebagian besar ditulis oleh peneliti asing dan menggunakan sumber asing tentunya. Peneliti dalam negeri relatif masih sedikit. Ini adalah tantangan dan peluang bagi para peneliti Indonesia untuk mengembangkan kajian tentang rempah-rempah dan dinamikanya terutama pada periode pra kolonial.

Dalam bidang ekonomi, sebagai the mother of spices, ternyata nilai ekspor rempah-rempah Indonesia masih kalah jika dibandingkan dengan India. Sebagai contoh dalam tahun 2020 ekspor rempah-rempah Indonesia sebesar 618,4 juta dollar sedangkan India yang menyebut dirinya sebagai the home of spices mencatat nilai ekspornya 3,62 milyar dollar. Berkaca dari sejarah dan kondisi riil di atas maka sudah waktunya untuk mengubah paradigma berpikir tentang laut dan dinamikanya. Laut adalah masa depan dan laut adalah halaman depan.

Menuju Warisan Budaya Dunia

Dalam upaya membumikan gagasan poros maritim dunia dan rempah-rempah sebagai komoditas yang sangat penting bagi bangsa Indonesia baik pada masa lalu, masa kini dan masa depan, maka perlu dibuat kegiatan yang berkaitan dengan pembudayaan tentang budaya bahari dan juga jalur rempah, dengan melibatkan para generasi muda dan bersifat lintas sektor. Kegiatan Muhibah Budaya Jalur Rempah adalah sebuah pelayaran dengan kapal latih legendaris TNI AL Dewaruci, yang melayari Pelabuhan Surabaya, Makasar, Bau-bau, Ternate-Tidore, Banda, Kupang dan kembali ke Surabaya. Pelayaran dari tanggal 1 Juni hingga 2 Juli 2022 dengan melibatkan para laskar rempah yang merupakan perwakilan dari 34 provinsi. Tujuan pelayaran adalah ingin memberikan pengalaman yang nyata bagi generasi muda untuk ikut merasakan pelayaran sehingga semangat para nenek moyang dapat dirasakan. Setelah berlayar diharapkan para laskar rempah yang sebagian besar generasi muda dapat menyebarluaskan pengalamannya melalui berbagai media yang ada dan dapat memahami dinamika kehidupan di laut. Dalam kegiatan ini juga akan diadakan berbagai festival kebudayaan yang berisi tentang kuliner, fashion, kriya, seni dan berbagai seminar yang melibatkan pemerintah daerah, komunitas, media dan para akademisi.

Upaya ‘menghidupkan dan menghidupi kembali‘ jalur rempah sebagai memori kolektif secara berkelanjutan dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, akan memberikan edukasi tentang beberapa hal, antara lain: kedudukan rempah-rempah yang asalnya dari kepulauan Indonesia sebagai kekuatan pemersatu dan pembentuk perkembangan peradaban di nusantara bahkan dunia; Nusantara merupakan simpul penting pertukaran antar budaya yang menyatukan berbagai ide, pengetahuan, agama, bahasa, bahkan adat istiadat selama berabad-abad. Untuk itulah pelabuhan sebagai penghubung antara hinterland dan entreport telah menjadi ruang pertemuan antar budaya yang sangat penting pula.

Berdasarkan sejarah rempah-rempah yang panjang, maka sudah waktunya kita bergerak Bersama untuk mengusulkan jalur rempah sebagai warisan budaya dunia kategori Jalur Budaya (culture route). Penelitian yang mendalam untuk melengkapi atribut yang mendukung nilai bersama yang luar biasa (outstanding universal value), yang menyangkut jalur budaya yang diusulkan, jalur komunikasi antar budaya, baik di darat, air, atau jenis lainnya, yang ditandai dengan adanya fungsi yang spesifik, dinamis dan kesejarahan, yang tentu didasarkan pada ketentuan UNESCO dan International Council on Monuments and Sites (ICOMOS) harus segera dilakukan. Hal ini juga sebagai penanda bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa pelaut sejak jaman dulu. (Restu Gunawan, Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Kemendikbudristek; Pengurus Masyarakat Sejarawan Indonesia)

Credits

Bagikan