Fobia Inflasi

user
danar 28 Agustus 2022, 09:10 WIB
untitled

PHOBIA inflasi melanda dunia, tidak terkecuali Indonesia. Berbondong-bondong merespon dengan menaikkan suku bunga. Bank Indonesia juga merespon juga dengan meningkatkan suku bunga acuan 25 basis poin. Bahkan sebelum pengumuman suku bunga pun direspon dengan melemahnya nilai tukar rupiah yang melemah sembilan poin ke level Rp 14.901 per dolar AS di pasar spot. Phobia inflasi ini yang mengarah pada resesi ekonomi di berbagai negara, tidak tekecuali negara Eropa dan Amerika.

Target inflasi yang ditetapkan 3 persen plus minus satu tembus melewati sejak juni di angka 4,35 persen dan meningkat menjadi 4,94 persen di bulan juli. Sehingga sangatlah beralasan bila suku bunga acuan hanya dinaikkan 25 poin. Ini menunjukkan bahwa Bank Indonesia tidak tertular phobia inflasi dunia. Meskipun demikian, hal yang perlu diperhatikan adalah pencabutan subsidi BBM yang menelan anggaran 550 trilyun dari angka 170 trilyun sebelumnya. Subsidi tersebut ditujukan untuk beberapa jenis barang. Antara lain LPG 3 kg dan tarif listrik dengan kapasitas di bawah 3.000 VA, serta Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis pertalite yang kini dijual Rp 7.650.

Pencabutan subsidi ini sudah jelas akan menjadi bahan bakar bagi kenaikan inflasi jauh melambung dari bulan juli ini. Belum lagi inflasi ini pasti akan mengena pada kelompok masyarakat menengah bawah yang mengkonsumsi LPG 3 kilogram dan jenis pertalite. Sadarkan pemerintah menurunnya daya beli ini tidak akan sembuh dengan pemberian bantuan tunai yang selama ini dijadikan jurus reflek dari pemerintah sebagaimana pada saat terjadi gonjang ganjing minyak goreng.

Sadarkah bahwa penurunan daya beli ini akan menekan pendapatan pemerintah dari pajak. Pajak merupakan bagian dari belanja yang dilakukan berbagai lapisan masyarakat. Penurunan pajak ini tentunya tidak akan berarti banyak melalui pemangkasan subsidi. Lalu blundernya adalah apakah kita akan mempertahankan subsidi untuk menjada inflasi? Ini juga tidak benar. Tapi janganlah pencabutan subsidi ini dengan membandingkan harga BBM dinegara lain yang tingkat pendapatan masyarakatnya berkali lipat di atas Indonesia dan negara itu bukan pula penghasil migas. Ini pernyataan yang kurang bijak dan salah dalam melakuka perbandingan.

Di Amerika Serikat, IHK tembus 9,1 persen secara tahunan. Angka inflasi ini tercatat inflasi paling tinggi sejak 1981. Lonjakan ini membawa sebagian besar masyarakat tertekan, bahkan mengalami kesulitan dalam memenuhi konsumsi hariannya.

Sampai dengan saat ini, negara maupun ekonom masih menuduh inflasi sebagai tersangka tunggal resesi, defisit anggaran, penarikan subsidi, dan melonjaknya hutang, bahkan kesulitan pangan. Bayangkan bila inflasi Turki mencapai 78 persen, bahkan di beberapa negara Afrika mencapai dua ratus persen. Ekonom pun menjadi phobia terhadap inflasi yang akan meraih 7 persen pada akhir tahun ini. Ada momen mahasiswa memulai kuliah, liburan akhir tahun, perayaan natal, dan pesta tahun baru. Inilah yang membuat ekonom dan pemerintah gemetaran mengalami phobia inflasi. Belum lagi selama ini inflasi di Indonesia salah satu pemicunya adalah dari belanja pangan. Akhir tahun ini dikhawatirkan terjadi gangguan iklim yang memperburuk produksi pangan. Inipun pemicu terjadinya inflasi.

Phobia inflasi ini sangatlah beralasan dan mungkin saja melekat pada pemerintah, tapi janga pula phobia ini direfleksikan dalam kebijakan yang serampangan dan berdampak kburuk pada masyarakat, terutama masyarakat menengah bawah. Tepatlah bila Bank Indonesia ikut menaikkan suku bunga acuan, tapi dilakukan perlahan dan berhati-hati.(Dr. Suparmono, Ketua STIM YKPN Yogyakarta, Pengurus ISEI Yogyakarta dan dan Peneliti Senior Sinergi Visi Utama Consulting Group)

Kredit

Bagikan