Lost Follow Up ODHA Semakin Tinggi, Salah Siapa?

user
agus 27 Agustus 2022, 21:46 WIB
untitled

KASUS HIV/AIDS di Indonesia ibarat gunung es yang semakin banyak meleleh dengan lelehan air terlihat semakin banyak dan meluas.

Penemuan Jumlah Kasus AIDS di Indonesia terbesar berturut turut di tahun 2021 adalah Jawa Tengah, Bali, Jawa Timur, Kalimantan Timur dan Banten. Hal ini menjadikan tugas cukup berat yang perlu diatasi oleh Kementrian kesehatan RI.

Beberapa alasan belum terpenuhi target yang telah ditentukan, salah satunya karena ODHA yang "lost follow Up" pengobatan ARV di pelayanan fasilitas kesehatan. Pengobatan ARV tersedia di rumah sakit rujukan bagi ODHA yang tersebar di Indonesia di setiap provinsinya. Rumah sakit bagi ODHA dimaksudkan agar menyediakan fasilitas dan menyiapkan tenaga kesehatan terlatih khusus HIV/AIDS dalam perawatan ODHA serta terjamin ketersediaan obat antivirus dalam pengobatan ODHA yang dikenal dengan pelayanan CST (Care, Support And Treatment) atau layanan PDP (Perawatan, Dukungan dan Pengobatan).

Visi mengenai Program Penanggulangan HIV/AIDS dalam menghentikan AIDS tahun 2030 target 90-90-90 yang artinya 90% mengetahui status HIV, 90% mendapatkan pengobatan dan 90% mendapatkan ARV virusnya tersuspensi. Cakupan pengobatan ARV di Indonesia sampai September 2021 sebesar 85% dari 24.944 orang.

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Nurina Dyah Larasaty SKM MKes dan Ragil Kharisma dengan menggunakan kualitatif research method menunjukkan beberapa alasan ODHA Lost Follow Up salah satu rumah sakit di Purwodadi antara lain ODHA merasa bahwa dia sehat segar bugar, tak ada virus yang menyerang dalam tubuhnya saat diketahui status HIV positif.

Tak menyangkal jika kondisi ini bagaikan "petir disiang bolong". Keadaan denial (pengingkaran) akan statusnya menjadi alasan penolakan dalam pengobatan ARV. Penolakan pengobatan ARV masih terdapat sangkut pautnya belum open status kesehatan pada anggota keluarganya. Beberapa efek samping yang terjadi setelah pengobatan ARV, menimbulkan spekulasi sendiri dari diri ODHA untuk beralih dan lebih menggandrungi obat herbal daripada pengobatan yang telah disediakan pemerintah.

Para tenaga kesehatan di Pelayanan CST terus berupaya memberikan konseling dan motivasi pada ODHA, yang tak lepas juga dari pendampingan Kelompok Dukungan Sebaya agar tidak putus obat bagi orang HIV positif. Mereka sudah mengupayakan tetapi tetap terjadi penolakan pada beberapa ODHA, hingga akhirnya ketika kondisi kesehatan menurun, melakukan pengobatan kembali dan lagi lagi putus obat.

Kondisi perekonomian yang memburuk belakangan juga membuat ODHA malas untuk melakukan pengobatan di fasilitas kesehatan penyedia. Walaupun di daerah dia sudah menggratiskan biaya pengobatan bagi ODHA tetapi jarak tempuh untuk melakukan pengobatan di fasilitas kesehatan sebagai pemberat ODHA mengeluarkan uang.

Berdasarkan penuturan para Pendamping Kelompok Dukungan Sebaya, mengatakan ODHA merasa tidak sakit. HIV dianggap biasa biasa saja. Meteka merasa sehat, diobati atau tidak itu tidak beda. Rumah jauh tidak ada uang, kondisi pekerjaan yang berpindah pindah, menaklukkan nasib di kota besar menjadikan beberapa alasan lost follow up bagi orang yang berstatus HIV positif.

Lelah dan jenuh harus bolak balik mendapatkan obat antivirus inilah yang mematahkan semangat pengobatan ARV . Akibat rendahnya pendidikan yang dimiliki sebagian ODHA menyebabkan lemah dalam penguasaan pengetahuan tentang HIV/AIDS.

Pemerintah gencar dalam menangani dan dalam penanggulangan HIV di Indonesia melalui terlaksananya pelayanan CST di rumah sakit Rujukan ODHA yang optimal sebagai upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan ODHA. Namun, pada kenyataannya masih ada berbagai faktor kendala belum terpenuhinya target pengobatan ARV bagi ODHA. Padahal pengobatan ARV sangat menguntungkan bagi orang dengan HIV positif, karena terapi ARV obat obatan inilah yang dapat menghambat perkembangan HIV dan dapat menghambat proses menjadi AIDS.

Target Pengobatan ARV dapat berhasil jika ODHA secara patuh minum obat antivirus, dan habis, sesuai jadwal dengan melakukaan follow up ke pelayanan CST rumah sakit Rujukan ODHA. Selain pentingnya pengawasan dari tenaga kesehatan dan pendamping kelompok dukungan sebaya diperlukan juga dukungan keluarga sebagai pengawas minum obat (PMO). Dukungan seperti ini dapat menjadikan pecut motivasi ODHA untuk secara teratur melakukan pengobatan sehingga kualitas hidup tetap terjaga. Kita berharap, semoga ke depan angka lost follow up ODHA bisa semakin turun bahkan hingga pada pada angka nol (zero case). *

Lost Follow Up ODHA Semakin Tinggi, Salah Siapa?

Nurina Dyah Larasaty SKM MKes

Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Muhammadiyah Semarang Unimus (Unimus)

Kredit

Bagikan