Batasi BBM

user
danar 06 Juli 2022, 08:30 WIB
untitled

SELURUH dunia tahu bahwa BBM adalah komoditas yang sangat terbatas. Hanya ada beberapa negara saja yang dikaruniai persediaan BBM di dalam wilayah negaranya oleh Tuhan yang Maha Pengasih dan Indonesia termasuk salah satunya. Tidak mengherankan beberapa negara mudah bermusuhan, bahkan berperang, gara-gara rebutan minyak bumi.

Sebagai komoditas yang persediaannya terbatas alias suatu saat akan habis dan tidak bisa ada lagi, maka bagaimanapun, BBM harus dibatasi penggunaannya, dengan berbagai cara. Di Indonesia, BBM ada banyak jenis, namun yang digunakan untuk kendaraan bermotor ada dua kelompok besar, yaitu untuk mesin bensin (Premium, Pertalite, Pertamax, dengan berbagai variannya) dan mesin disel (solar, biosolar, dan variannya).

Kualitas BBM untuk mesin pembakaran bensin ditentukan oleh nilai oktan atau Research Octane Number (RON). Premium memiliki RON 88 dan sekarang sudah mulai sangat dikurangi produksinya. Oktan Pertalite sebesar 90 merupakan BBM yang paling banyak dipakai pada berbagai jenis kendaraan dan Pertamax merupakan BBM dengan RON 92 berstandar internasional dan harganya paling mahal. Sedang kualitas solar ditentukan oleh nilai oktannya yang dalam bahan bakar diesel disebut Cetane Number (CN). Solar memiliki CN paling rendah di antara ketiga bahan bakar tersebut, yakni hanya 48. Sedangkan Dexlite memiliki CN 51 dan Pertamina Dex CN 53. Semakin tinggi nilai CN-nya, semakin mahal harganya.

Selama ini, pembelian BBM di Indonesia boleh dibilang tidak dibatasi. Pemilik kendaraan mewah yang harusnya memakai Pertamax atau Pertamina Dex, ikut mengkonsumsi BBM kualitas di bawahnya. Bahkan ketika harga Pertamax dinaikkan, sejumlah mahasiswa melakukan demo yang terasa aneh, karena biasanya mahasiswa memihak wong cilik, kali ini malah membela golongan berada. Karena tidak dibatasi, orang bisa saja membeli sesuka hatinya. Memang bagi kita yang di Pulau Jawa, sangat dimanjakan dengan ketersediaan BBM, karena sangat jarang terjadi antrian panjang ketika membeli BBM di SPBU. Tapi dalam dua minggu terakhir ini saya berada di Kalimantan, Sulawesi, dan NTT, ditambah sebelum pandemi saya ke Bengkulu dan Riau, hampir setiap SPBU terjadi antrian panjang, bahkan antri satu jam untuk membeli BBM adalah hal biasa. Ini menggambarkan bahwa di banyak daerah di Indonesia, BBM memang sudah menjadi barang langka.

Batasi konsumsi BBM

Oleh karenanya, sangat tepat bila Pertamina membatasi pembelian BBM dan salah satu cara yang paling jitu adalah menggunakan aplikasi, yaitu MyPertamina. Saya sudah menggunakan MyPertamina sejak aplikasi ini tersedia di Android. Cara penggunaannya sangat praktis dan hampir semua SPBU sudah bisa menerima pembayaran melalui aplikasi ini. Memang satu-dua SPBU di daerah sepi, terkadang tidak bisa karena koneksi Internet yang tidak stabil. Tapi aplikasi ini sebelumnya tidak bisa membatasi pembelian. Kali ini, dengan versi terbarunya, MyPertamin bisa membatasi siapa saja yang berhak membeli BBM murah (bersubsidi).

Kalau ada yang berkeberatan dengan alasan banyak kendaraan umum (bis, truk, angkot) sopirnya tidak punya email atau gadget, bisa didaftarkan melalui perusahaannya atau melalui konter-konter yang disediakan Pertamina. Pembelian juga tidak harus membawa ponsel, karena bisa memakai cetakan atau QR code. Pembeli tidak perlu mengakses Internet. Ini merupakan langkah cerdas Pertamina untuk membatasi penggunaan BBM yang sangat rentan terhadap situasi politik dunia, misalnya tawuran antara Rusia-Ukraina.

Apa berikutnya?

Menurut saya, setelah uji coba MyPertamina ini berhasil, perlu dilanjutkan dengan langkah berikutnya, yaitu bekerja sama dengan Ditlantas Polri maupun Dinas Pendapatan Daerah, untuk memperketat pembelian BBM, yaitu kendaraan yang sudah mati pajaknya, sebaiknya tidak boleh membeli BBM lebih dari sekian liter misalnya. Namun perlu ditawarkan solusi menarik juga, misalnya untuk membayar pajak kendaraan, tidak harus satu tahun penuh, tapi bisa dibayar per bulan. Dengan aplikasi, hal itu sangat mudah dilakukan.

Masyarakat pada awalnya akan kaget bahkan menolak, tetapi kalau dijelaskan bahwa ini demi keuntungan masyarakat banyak, pasti akan menerima juga. Di lingkungan yang maju dan beradab, memang akan semakin banyak aturan yang harus dijalani dan itu hal biasa di seluruh dunia. (Dr. Wing Wahyu Winarno, MAFIS, Dosen STIE YKPN Yogyakarta dan pengurus Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia Cabang Yogyakarta)

Kredit

Bagikan