Perlukah Sertifikat Halal Kosmetik?

user
Danar W 14 September 2022, 07:10 WIB
untitled

Krjogja.com - ISTILAH halal telah sangat familiar di masyarakat, utamanya berkait dengan makanan dan minuman. Secara istilah halal diartikan sebagai sesuatu yang dibolehkan oleh syariat untuk digunakan. Secara umum, hukum halal meliputi perbuatan dan benda. Nash dari Al Quran dan hadits yang berkait halal haramnya benda/produk adalah berkaitan dengan makanan dan minuman. Seperti misalnya haramnya daging babi, bangkai dan darah untuk dimakan.

Indonesia telah memiliki landasan yuridis untuk menjamin kehalalan produk yang beredar di Indonesia yaitu Undang-undang no 33 tahun 2014 tentang Jaminan produk Halal (JPH). Sejak diundangkannya UU JPH maka semua produk yang beredar di wilayah Indonesia harus bersertifikat halal dan dilaksanakan secara bertahap. Jenis produk yang wajib bersertifikat halal antara lain: makanan, minuman, barang gunaan, obat, kosmetik, barang gunaan, produk rekayasa genetic, produk biologi, produk kimiawi dan jasa.

 

Kosmetika menurut pengertian BPOM adalah bahan atau sediaan yang digunakan pada bagian luar tubuh manusia seperti epidermis, rambut, kuku, bibir dan organ genital bagian luar, atau gigi dan membran mukosa mulut terutama untuk membersihkan, mewangikan, mengubah penampilan dan/atau memperbaiki bau badan atau melindungi atau memelihara tubuh pada kondisi baik. Kosmetika termasuk produk yang sangat banyak digunakan masyarakat. Kebutuhan kosmetika sangat tinggi dan hampir semua golongan umur.

Banyak pertanyaan dari masyarkat, perlukah kosmetika disertifikasi halal? Kosmetika digunakan diluar bagian tubuh dan tidak masuk ke dalam tubuh. Kosmetika memang tidak secara langsung digunakan di dalam tubuh, tetapi kosmetika seperti lipstick, lipbalm yang digunakan di bibir memungkinkan untuk tertelan secara tidak langsung. Selain itu, kosmetika yang digunakan di kulit memungkinkan untuk menghalangi penetrasi air di kulit, sehingga dapat mempengaruhi status sahnya bersuci seorang muslim.

Perkembangan formulasi kosmetika saat ini sangat dinamis. Formulasi kosmetika diharapkan dapat terlihat lebih lama sehingga berkembang formula-formula kosmetika yang waterproof (tahan air), sweatproof (tahan keringat) dan tahan lama (long lasting). Formula kosmetika jenis ini sangat mungkin dapat menghalangi penetrasi air ke dalam kulit. Sehingga dalam proses sertifikasinya diperlukan uji daya tembus air. Dalam hal ini, sertifikasi halal terhadap produk kosmetika tidak hanya menjamin kehalalan bahan baku yang digunakan, tetapi juga harus menjamin bahwa kosmetika yang digunakan tidak menghalangi sahnya ibadah seorang muslim.

Aplikator kosmetika atau alat bantu menggunakan kosmetika juga termasuk bahan yang kritis, karena seringkali berasal dari bahan-bahan yang tidak halal, misal penggunaan bulu babi untuk kuas kosmetika. Penggunaan bahan-bahan dari babi adalah tidak diijinkan, karena babi termasuk najis berat. Bahan-bahan kosmetika yang berasal dari hewan halal, maka hewannya harus disembelih sesuai syariat.

Penggunaan bahan-bahan yang berasal dari bagian tubuh manusia seringkali dijumpai dalam kosmetika, antara lain penggunaan plasenta. Plasenta merupakan bahan yang sering digunakan dalam kosmetika, karena bahan ini diyakini dapat mengencangkan dan meremajakan kulit. Bahan yang berasal dari bagian tubuh manusia ini suci tetapi dilarang digunakan, dengan tujuan untuk memuliakan derajat manusia.

Formulasi kosmetika yang komplek ini merupakan tantangan bagi industri kosmetika yang akan mengembangkan kosmetika yang halal. Industri harus menjamin kehalalan bahan baku yang digunakan, proses produksi yang menjamin tidak adanya kontaminasi bahan non halal dan najis. Demikian juga tahap penyimpanan, dan distribusi pun harus terjamin tidak terjadi kontaminasi dan terjaga kualitasnya.

Pengembangan sistem yang mengatur jaminan halal terhadap bahan, proses, produk dan prosedur yang dikembangkan sangat diperlukan untuk menjamin konsistensi kehalalan produk yang dihasilkan. Selain itu, pembinaan sumber daya manusia yang terlibat dalam keseluruhan proses tersebut juga sangat diperlukan. Komitmen bersama antara konsumen dan produsen kosmetika akan mempercepat laju pertumbuhan sertifikasi halal kosmetika di Indonesia. (Nurkhasanah, Halal Center Universitas Ahmad Dahlan)

Kredit

Bagikan