Menolak Kerja

user
Danar W 28 September 2022, 19:55 WIB
untitled

Krjogja.com - TREND dikalangan milenial untuk menolak bekerja atau quiet quitting, semakin marak sebagai dampak dari tekanan pandemi selama lebih dari dua tahun. Keinginan untuk bekerja seperlunya, sebatas jam kerja dan menolak lembur serta tidak adanya keinginan mengejar karir serta acuh terhadap produktivitas. Dengan dalih meningkatkan quality of life, gejala ini ditandai pula pekerja tidak bersedia dihubungi melalui ponsel pintar diluar jam kerja, padahal saat ini hampir seluruh pekerjaan sangat bergantung pada ponsel pintar ini. Mereka merasa bahwa selama pandemi ini meskipun mereka bsa bekerja dari rumah, tapi bukan berarti beban dan tekanan pekerjaan menjadi berkurang. Bekerja dari rumah justru menuntut pekerja milenial harus melewati jam kerja seharusnya.

Berhenti diam-diam dan bekerja sesuai keinginan ini dapat berdampak buruk pada kinerja perusahaan. Bagaimana tidak, perusahaan dituntut untuk memulihkan kinerja akibat ancaman kebangkrutan akibat krisis pandemi, tapi di sisi lain, pekerja yang menjadi asset intangible perusahaan malah bertindak sebaliknya. Sebagian besar berusaha memulihkan kinerja keuangannya, bahkan kondisi bertahan pun terasa sulit. Belum lagi ancaman ekonomi global beresiko inflasi yang mengakibatkan penurunan daya beli masyarakat dan ancaman krisis ekonomi global. Bahkan diprediksikan Indonesia berpotensi untuk masuk dalam negara beresiko masuk dalam jurang krisis.

Dengan kerja keras seluruh elemen perusahaan pun, tantangan untuk menuju keberhasilan pun masih belum pasti. American Psychological Association menemukan bahwa kelelahan dan stres para pekerja saat pandemi memuncak, bahkan di Inggris, akibat tekanan bekerja ekstra dikondisi sulit selama pandemi, membuat 20 persen pekerja keluar dari pekerjaannya. Bank Indonesia merilis bahwa pascapandemi masih menyisakan bekas luka (scarring effect) jangka menengah panjang pada produktivitas dengan adanya tantangan pada pasar tenaga kerja dan pendidikan, Pandemi mengakibatkan terjadinya disrupsi pasar tenaga kerja.

Parahnya lagi, gejala ini diikuti pula oleh pekerja yang sebelum dan selama pandemi tidak bekerja secara optimal tanpa produktivitas. Kelompok ini menganggap bahwa urusan karir dan produktivitas adalah urusan pribadinya sendiri. Padahal bagi perusahaan, kelompok ini menjadi beban kolektif bagi kemajuan perusahaan. Bagaimana tidak, perusahaan harusnya dapat mengalihkan beban biaya yang dikeluarkan untuk kelompok ini untuk dibelanjakan pada pekerja yang jauh lebih produktif yang saat ini banyak tersedia dengan segudang kompetensi diluar sana.

Perusahaan tentunya dirugikan bila gejala ini terus berlanjut dikalangan pekerja, perusahaanpun merespon dengan quiet firing. Tindakan ini dilakukan dengan mengabaikan karyawan secara perlahan, sehingga mereka akan berhenti dengan sendirinya. Karyawan yang mengalami quiet firing berarti dikeluarkan dari proyek perusahaan yang diidam-idamkan. Mereka juga tidak akan bisa mengikuti perkembangan terbaru dari pekerjaan yang dijalani. Dampaknya, lama-kelamaan karyawan akan merasa tidak kompeten, terisolasi, tidak dihargai, sehingga memutuskan resign atau mundur. Dari sisi perusahaan, kata Dilber, quiet firing membawa sejumlah manfaat. Salah satunya, perusahaan tidak perlu memikirkan pesangon yang seharusnya diberikan saat memecat karyawan.

Dikotomi antara quiet quitting dan quiet firing ini menjadi trend tarik menarik antara pekerja dan perusahaan. Dengan masing-masing motif yang dapat dikatakan rasional. Jalan tengahnya adalah bahwa perusahaan harus mampu mengadopsi perkembangan teknologi untuk mendorong produktivitas pekerja dengan memberikan keleluasaan pada pekerja. Disisi lain, perusahaan pun bisa menggunakan indikator kinerja yang menjadi standar bagi pekerja dalam mengukur produktivitasnya. Kompetensi dan standarisasi menjadi kata kunci untuk mengatasi disrupsi di pasar tenaga kerja. (Dr. Suparmono, M.Si. Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN Yogyakarta, Peneliti Senior Sinergi Consulting Grup, dan Pengurus ISEI Yogyakarta)

Kredit

Bagikan