Transformasi Industri Ritel di Era New Normal

user
Ivan Aditya 30 Desember 2022, 20:17 WIB
untitled

Krjogja.com - Akhir tahun 2022 sebentar lagi usai. Kita selanjutnya akan menapaki tahun 2023 dengan segala perjalanan yang telah dilalui di masa-masa pandemi Covid-19 dengan dinamika dan perubahan yang sangat cepat terjadi di semua aspek kehidupan. Pada kesempatan kali ini, penulis akan menyajikan tinjauan ekonomi mengenai industri ritel pasca pandemi, permasalahan yang terdapat di industri tersebut, serta strategi yang ditempuh untuk dapat bertahan di tengah perubahan yang sangat cepat terjadi.

Industri ritel merupakan mata rantai yang penting dalam proses distribusi barang dan merupakan mata rantai terakhir dalam suatu proses distribusi. Melalui ritel, suatu produk dapat bertemu langsung dengan penggunanya. Industri ritel disini didefinisikan sebagai industri yang menjual produk dan jasa pelayanan yang telah diberi nilai tambah untuk memenuhi kebutuhan pribadi, keluarga, kelompok, ataupun pemakai akhir. Produk yang dijual kebanyakan adalah pemenuhan dari kebutuhan rumah tangga, termasuk sembilan bahan pokok.

Lingkungan bisnis yang semakin bergejolak, kompleks, dan semakin tidak pasti menjadi salah satu perhatian utama bagi ekonom dan pembuat kebijakan. Fluktuasi siklus jangka pendek akibat dari pandemi Covid-19 telah mengguncang hampir seluruh sektor perekonomian, termasuk salah satunya industri ritel. Pandemi telah menyebabkan banyak gerai ritel, baik modern maupun tradisional sepi pengunjung, bahkan tutup dan gulung tikar. Menjadi menarik disini adalah tumbangnya peritel-peritel besar yang mungkin tidak diperkirakan sebelumnya. Salah satu retail besar yang sangat terdampak adalah PT. Hero Supermarket Tbk (HERO) yang menutup seluruh gerai Giant per Juli 2021. Selain adanya kerugian, penutupan seluruh gerai ini juga dikarenakan HERO akan lebih memfokuskan usahanya pada bisnis merk dagang lain seperti IKEA, Guardian, dan Hero Supermarket. Strategi ini diambil sebagai respon adaptasi HERO atas dinamika trend konsumsi yang menunjukkan turunnya popularitas format hypermarket di pasar Indonesia ataupun pasar global. Selain HERO, Matahari Departement Store juga memutuskan untuk mengurangi beberapa gerai usahanya. PT. Matahari menutup 25 gerai pada tahun 2020. Penutupan ini dikarenakan adanya penurunan kinerja perusahaan. Tidak hanya di lingkup nasional, tutupnya gerai-gerai ritel akibat Covid-19 ini juga terjadi di negara-negara lain.

Namun demikian, di sisi lain pandemi juga telah mempercepat transisi industri ritel ke dunia digital. Apa saja yang sebenarnya terjadi di industri ritel? Strategi dan kebijakan apa yang diterapkan untuk mengatasi fase kontraksi akibat pandemi di sektor tersebut? Berikut akan diulas satu per satu.

Perubahan yang sangat cepat terjadi dalam berbagai sektor ritel mendorong dinamika dan perubahan yang jauh lebih cepat dan beragam dibandingkan apa yang sudah dihadapi selama ini. Pada awal-awal pandemi, banyak gerai ritel baik modern maupun tradisional sepi pengunjung. Hal ini dikarenakan orang menghindari kerumunan karena takut tertular virus Covid-19. Pembatasan mobilitas masyarakat dan menurunnya daya beli yang signifikan tentu membuat bisnis-bisnis usaha retail harus dengan cepat menyesuaikan strategi bisnis mereka.

Terbatasnya pergerakan masyarakat untuk menghindari penyebaran virus Covid-19 ini berdampak besar pada penurunan pertumbuhan industri ritel. Penurunan paling tajam sempat terjadi di tahun 2020 pada sektor industri pariwisata yang menurun hingga 80% dan industri ritel offline yang mengalami penurunan 45-89%. Tidak heran apabila kedua industri ini yang paling merasakan dampaknya. Pasalnya, kedua industri tersebut sangat bergantung pada perpindahan dan pergerakan manusia agar bisnisnya tetap produktif. Namun demikian, penurunan ini juga disebabkan oleh faktor internal seperti kurangnya inovasi produk baru, kurangnya pemanfaatan digital, dan sistem operasional yang kurang optimal. Turunnya produktivitas ini berdampak pada turunnya daya beli masyarakat yang selanjutnya juga berpengaruh pada turunnya profitabilitas pelaku industri.

Migrasi konsumen ke online selama masa pandemi menjadi kesempatan bagi para produsen untuk melebarkan sayap perusahaan ke ranah digital. Hal ini sekaligus menjadi cara bertahan perusahaan selama krisis Covid-19 dan untuk tetap eksis di mata konsumen. Pandemi membuat aktivitas belanja online mengalami peningkatan. Jika sebelumnya, konsumen berbelanja di e-commerce hanya untuk kebutuhan sekunder bahkan tersier, kini konsumen juga berbelanja kebutuhan bahan pokok yang merupakan kebutuhan primer di e-commerce. Oleh karena itu, pembukaan official store di berbagai e-commerce merupakan strategi tepat dan berdampak positif di masa pandemi. Tak heran, banyak brand besar telah membuka official storenya masing-masing di berbagai e-commerce.

Inovasi terhadap nilai dilakukan dengan meluncurkan product bundling dengan harga yang kompetitif untuk mendongkrak ketertarikan konsumen membeli produk yang dijual. Perusahaan harus paham betul apa yang dibutuhkan konsumen saat ini. Kejelian dalam melakukan inovasi nilai-nilai yang dibutuhkan konsumen sangat penting disaat krisis, terutama melalui product bundling yang sesuai dengan kebutuhan konsumen. Hal penting dari inovasi yang dilakukan perusahaan ritel adalah kecepatan mengembangkan produk ketika preferensi konsumen bergeser akibat Covid-19.

Begitu juga dengan inovasi produk, penting untuk membuat produk yang baik dengan harga yang dapat diterima oleh target konsumen. Dengan terus membuat produk yang relevan maka produk bisa bertahan dan terus digunakan oleh konsumen. Kuncinya adalah pada kualitas, harga, dan relevansi produk di pasar.

Sedangkan inovasi terhadap saluran penjualan mutlak dilakukan oleh perusahaan ritel ketika konsumen harus tinggal di rumah dan tak bisa mengunjungi gerai ritel, maka creative channel menjadi satu-satunya cara untuk menjangkau konsumen. Layanan home delivery service menjadi salah satu pilihan yang bisa dilakukan dengan membangun jaringan online dan memanfaatkan jaringan logistiknya. Di era pasca pandemi dan new normal, bisa jadi layanan ini akan terus berkembang dan menjadi kenormalan baru.

Inovasi-inovasi seperti inilah yang perlu dilakukan oleh perusahaan yang ingin tetap bertahan di era new normal. Kemampuan adaptasi dengan mengutamakan higienitas, minim sentuhan (low-touch), mengurangi keramaian (less crowd), dan mengurangi mobilitas (low mobility) akan membawa perusahaan pada keberhasilan melewati pandemi.

Tim Penulis :

-Dedy Dwiantoro, S.E. (Mahasiswa Program Pasca Sarjana)
-Prof. Dr. M. Irhas Effendi, M.Si. (Rektor/Dosen Pengajar)
-Dr. Purbudi Wahyuni, M.M. (Dosen Pengajar)

Jurusan Manajemen, Program Studi Magister Manajemen, Universitas Pembangunan Nasional (UPN) ‘Veteran’ Yogyakarta

Kredit

Bagikan