Ramadhan, UMK dan Inflasi

user
Danar W 02 April 2023, 11:56 WIB
untitled

Krjogja.com - SETIAP bulan Ramadhan roda kegiatan ekonomi dan bisnis terasa bergerak lebih cepat (Ramadhanomics). Dampak pengganda (multiplier effect) berimbas positif bagi akvitas usaha baik skala Mikro, Kecil, Menengah dan Besar. Artikel pendek ini membahas dampak aktivitas bulan Ramadhan terhadap Usaha Mikro dan Kecil (UMK) dan inflasi.

Seperti diketahui, datangnya bulan Ramadhan biasanya diikuti dengan peningkatan konsumsi masyarakat. Kondisi tersebut terkait dengan bertambahnya kebutuhan masyarakat untuk berbuka, termasuk buka bersama (bukber). Kegiatan berbagi dalam rangka infaq, sedekah dan zakat juga dapat mendorong konsumsi. Peningkatan konsumsi yang signifikan terutama pada produk pangan dan makanan. Dengan meingkatnya komsumsi produk tersebut tentu menjadikan pendapatan pemasok dan penjual, termasuk UMK, meningkat.

Di banyak kota, termasuk Yogyakarta, muncul pasar sore Ramadhan. Pasar sore di Kampung Kauman dan Jogokaryan merupakan contoh pasar Ramadhan yang sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu. Penulis memperoleh informasi bahwa rata-rata omzet sebagian besar penjual/pedagang lebih tinggi dibandingkan pada saat berjualan di luar jadwal pasar sore Ramadhan. Kondisi tersebut menguatkan pendapat bahwa momentum Ramadhan menjadikan pendapatan UMK mneningkat.

Bazar yang diselenggarakan di mal atau pusat perbelanjaan juga membawa berkah bagi UMK, khususnya yang berjualan pakaian/sandang dan sejenisnya. Di samping pangan/makanan, produk pakaian/sandang juga mengalami kenaikan permintaan. Pada umumnya peningkatan omzet tersebut diperoleh pedagang mulai dua minggu menjelang hari Lebaran.

Pengamatan penulis, pedagang pasar tradisional juga memberoleh “Berkah Ramadhan”. Di beberapa pasar, pedagang telor ayam, daging ayam, dan daging sapi omzet penjualannya meningkat. Menurut mereka omzet mereka akan meningkat menjelang hari Lebaran. Peningkatan omzet juga diperoleh pedagang yang menjaual bahan baku kue dan roti. Kondisi ini dapat diduga berkaitan dengan meningkatnya permintaan kue dan roti pada bulan Ramadhan sampai dengan menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Di samping beberapa produk tersebut, terdapat produk lain yang mengalami lonjakan permintaan di bulan Ramadhan sampai menjelang hari Lebaran. Produk termaksud antara lain jasa angkutan umum, smartphone, parsel (hampers), aksesoris dari emas, dan sepeda motor (baru dan bekas). Lonjakan permintaan beberapa produk tersebut dapat mendorong terjadinya inflasi.

Bulan Ramadan tahun 2020, saat itu terjadi inflasi sebesar 0,08 persen. Kemudian pada tahun 2021, terjadi inflasi sebesar 0,13 persen pada bulan Ramadhan. Di tahun berikutnya, bulan Ramadhan bertepatan dengan bulan April 2022. Saat itu terjadi inflasi sebesar 0,95 persen. Besarnya tingkat inflasi tersebut didorong oleh melonjaknya harga komoditas minyak goreng, bensin, daging ayam ras, tarif angkutan udara, bahan bakar rumah tangga, dan telur ayam ras.

Penulis yakin bahwa Pemerintah (Pusat/Daerah) dan pemangku kepentingan lain (termasuk Bank Indonesia) yang tergabung dalam Tim Pengendalian Inflasi Nasional/Daerah (TPIN/TPID) telah melakukan monitoring dan pengendalian harga-harga selama bulan Ramadhan. Pengendalian tersebut dilakukan dengan menambah pasokan barang dan menjamin kelancaran distribusi, khususnya sembako, sehingga dapat memenuhi naiknya permintaan. Jika lonjakan permintaan tersebut mampu diimbangi dengan meningkatnya pasokan maka harga di pasar akan relatif stabil atau terkendali.

Seringkali muncul pertanyaan, mengapa di bulan Ramadhan sampai menjelang hari Lebaran terjadi kenaikan harga? Kemungkinan yang pertama, lonjakan permintaan tidak mampu diimbangi dengan tambahan pasokan. Kedua, pasokan di pasar tetap atau menurun padahal permintaan terhadap barang melonjak. Ketiga, permintaan meningkat dan sudah diimbangi dengan tambahan pasokan namun harga tetap naik.

Untuk fenomena yang ketiga tersebut dimungkinkan terjadi karena ekspektasi dari penjulan/pedagang maupun pembeli. Penjual dengan “sengaja” menaikkan harga meskipun harga sebenarnya tidak naik. Di sisi lain, pembeli “memaklumi” kenaikan harga harga tersebut. Kedua faktor tersebut menjadikan kenaikan harga tetap terjadi meskipun pasokan di pasar mencukupi kebutuhahn permintaan yang meningkat tersebut. Penulis berharap bulan Ramadhan tahun ini tetap menjadikan “berkah” bagi UMK dan inflasi lebih rendah dibandingkan Ramadhan tahun kemarin. (Dr. Y. Sri Susilo. Dosen Prodi Ekonomi Pembangunan FBE UAJY, Pengurus Pusat ISEI, Pengurus KADIN DIY & Pengurus API DIY)

Kredit

Bagikan