Ayahku Guru Hebat, Aku Guru Gagal

AYAHKU seorang guru tulen jaman dulu. Beliau sangat berdedikasi, jujur, disiplin dan tidak pandang bulu ketika mengajar. Merasa ayahnya guru, ketika itu sudah menjabat Kepala Sekolah, saya terkadang keluar nakalnya. Pernah suatu ketika, di luar jam istirahat, saya main gangsingan di luar halaman sekolah, dan kepala saya bocor kena paku gangsing teman saya. Saya pun ngadu ke ayah, dengan harapan teman saya disetrap. Di luar dugaan, ayah saya marah dan menyalahkan saya karena berani melanggar aturan sekolah, tidak boleh keluar dari halaman sekolah di waktu istirahat.

Saya pun disuruh pulang. Saya ngadu ke ibu saya, dan ketika Ayah pulang saya lihat ibu memarahi ayah. Ayah seperti biasa cuma diam dan tidak bereaksi. Saya pun merasa berdosa.

Suatu ketika, setelah lulus dari sebuah SMP swasta di kota kecil, Prembun, saya mendaftar di SMAN Purworejo, sebuah SMA favorit di Jawa Selatan yang tingkat kompteisinya cukup tinggi. Saya agak ragu apa bisa diterima mengingat kampung saya masuk wilayah Kabupaten Kebumen, walaupun jarak kedua kota dari kampung sama hampir sama, sekitar 20-an km. Akhirnya saya diterima, betapa bangganya ayah.

Pulang mendaftar di SMAN Purworejo, saya diajak jalan kaki sambil mencari kendaraan umum melewati SPGN Purworejo yang juga merupakan salah satu SPG terbaik di Jawa Tengah. Ayah pun bertanya ke saya apakah tidak sebaiknya mendaftar ke SPG untuk jaga-jaga jika tidak diteria di SMAN Purworejo.

Tanpa pikir panjang saya nyeletuk “Pak, tidak ada sejarah guru yang kaya”. Saya melihat raup muka ayah saya agak shok mendengar jawaban saya. Namun beliau tidak marah. Beliau diam seribu basa tanpa mengucapkan satu kata pun. Saya tidak tahu apa yang ada di benak ayah. Mungkin beliau menganggap saya kurang ajar. Saya benar-benar merasa berdosa, dan itu saya ingat sampai sekarang.

Walaupun lahir dan besar di sebuah kampung terpencil yang tidak ada listrik, ayah sebenarnya seorang guru yang berwawasan luas dan terkadang sangat liberal. Ketika saya memutuskan untuk masuk Jurusan Bahasa, ayah sama sekali tidak marah dan semua diserahkan kepada saya. “Yang penting kamu menyukainya dan serius”, jawab beliau singkat. Ketika itu, akan menjadi kebangaan tersendiri bagi orang tua jika anaknya diterima di jurusan IPA. Bahkan ada yang melakukan lobi-lobi agar anaknya dapat diterima jurusan IPA.

Singkat cerita saya lulus dengan baik dan diterima di Sastra Inggris UGM. Sebenarnya saya hanya iseng saja mendaftar, karena teman-teman sepermainan saya kebanyakan langsung pergi ke Jakarta untuk mengadu nasib, bahkan ada yang pergi sejak lulus SD. Habis lebaran banyak yang pulang kampung dengan membawa oleh-oleh “keberhasilan Jakarta”. Saya terkadang minder ketemu mereka. Saya begitu terkagum-kagum, ada orang kampung saya yang berhasil mendudukan jabatan sebagai Kepala Bagian di sebuah instansi pemerintah. Nama beliau sangat harum di kampung.

Ada raup muka bahagia di wajah ayah. Saya pun bertanya apakah saya daftar ulang atau pergi ke Jakarta. “Masuk UGM perlu satu Vespa Hid, kamu diterima tanpa uang”, jawab ayah kaget menjawab prtanyaan saya. Ketika itu ada rumor untuk masuk UGM harus menyiapkan dana seharga vespa, sepeda motor paling mewah dan hanya orang kaya yang bisa membeli.

“Bapak kan tidak punya uang”, jawab saya. Di luar dugaan beliau menjawab “Ngutang Hid”. Benar juga, saya berangkat ke Yogya dengan modal uang terbatas untuk membayar kos-kosan dan biaya hidup selama sebulan hasil ayah ngutang para tetangga. Saya merasa punya beban yang sangat berat. Itulah sebabnya saya jarang pulang kampung, dan kalau pun pulang saya hanya di rumah ditemani radio kesayangan. Saya malu dengan tetangga. Mungin itu perasaan saya saja. Ketika itu, tahun 70-an, radio masuk barang mewah. Tidak jarang para tetangga ikut mendengarkan wayang kulit semalam suntuk, apalagi ketika RRI Semarang menampilkan dalang maestro Ki Narto Sabdo dan sinden Nyi Condro Lukito.

Di tengah serba kekurangan, saya akhirnya memberanikan diri mengajar di beberapa Bimbingan Tes dan setelah mendapat ijasah Bachelor of Arts, saya melamar jadi guru dan diterima di SMA Muhammadiyah II (Muha) Yogyakarta, sambil menyelesaikan tingkat doktoralnya.

Sekitar 2 tahun saya mengajar di SMA Muha. Setelahh lulus dan mendapat gelar “doctorandus”, saya mengundurkan diri. Saya merasa saya bukanlah guru yang baik, walaupun saya mengajar dengan serius dan mencoba melakukan terobosan-terobosan. Tetapi karena saya bukan lulusan IKIP, saya merasa beberapa teman guru kurang menyukai cara saya mengajar. Saya terinspirasi oleh seorang profesor dari Amerika yang pernah mengajar saya, bagaimana beliau mencoba memperlakukan mahasiswa sebagai teman. Tetapi cara ini sepertinya kurang pas di masa itu, dan mungkin sekarang.

BERITA REKOMENDASI