50 Persen Wisatawan Dunia, Generasi Millenial

YOGYA, KRJOGJA.com – Kemajuan teknologi digital dengan munculnya banyak aplikasi yang memudahkan manusia, membawa pengaruh bagi sektor pariwisata. Saat ini kecenderungan berwisata tidak lagi dilakukan secara konvensional dalam jumlah besar (rombongan), tapi bergeser dilakukan sendiri memanfaatkan teknologi digital (gadget/aplikasi).

Menurut Guru Besar Arsitektur dan Perencanaan Pariwisata UGM Prof Wiendu Nuryanti, fenomena yang terjadi di sektor pariwisata dunia saat ini, wisatawan didominasi generasi millenial yang usianya di bawah 35 tahun. Mereka memanfaatkan teknologi digital saat traveling. "Hampir separuh wisatawan adalah generasi millenial yang punya karakteristik berbeda dengan era sebelumnya," terang Prof Wiendu saat menjadi pembicara kunci dalam International Conference of Critical Tourism Studies Asia Pasific (CTS-AP) di University Club, Universitas Gadjah Mada (UC UGM) Yogyakarta, Minggu (4/3/2018).

Menurut Prof Wiendu, wisatawan millenial ini tidak lagi memanfaatkan iklan-iklan wisata konvensional dalam menentukan destinasi, melainkan memanfaatkan trip advisor dari gadget. Selain itu mereka lebih suka mengunjungi objek wisata terpencil yang bisa langsung berinteraksi dengan warga asli. "Traveling sepertinya sudah menjadi DNA para generasi millenial, mereka mengumpulkan uang tidak untuk memiliki aset, namun supaya bisa berkeliling dunia," katanya.

Adanya pergeseran paradigma dalam berwisata, menjadi tantangan para stakeholders dan pelaku wisata di Indonesia untuk mengenali karakter dan keinginan dari wisatawan millenial ini. Seminar yang dihadiri pakar-pakar pariwisata tingkat dunia, menurut Prof Wiendu menjadi momentum berharga untuk berbagi konsep dan gagasan tentang pengelolaan pariwisata modern. "Kita saling berbagi cara membangun komunikasi dengan turis millenial ini. Apalagi pariwisata di kawasan Asia Pasifik saat ini menjadi yang teraktif di  dunia," katanya.

Dr Mark Hampton dari University of Kents UK mengatakan, sumber daya wisata alam dan budaya Indonesia sangat luar biasa besar, yang menjadi daya tarik wisatawan dunia untuk berkunjung. Menurutnya tantangan yang dihadapi Indonesia adalah bagaimana mengelola kekayaan wisata tersebut secara berkelanjutan (sustain) dan dinikmati masyarakat (komunitas). "Jangan sampai hanya mengejar keuntungan, malah merusak alam," katanya.

Menurut Mark, dalam mengelola pariwisata jangan hanya mementingkan kuantitas (jumlah kunjungan), tapi yang lebih penting justru kualitasnya. Ketika kualitas pengelolaan wisata bagus, otomatis wisatawan akan datang dan tak ragu mengeluarkan uangnya untuk menikmati objek wisata, contohnya wisata Komodo yang sangat diminati wisatawan dunia.

Deputi Bidang Pengembangan dan Pemasaran Pariwisata, Kementerian Pariwisata I Gde Pitana mengatakan, sektor pariwisata sangat mungkin menjadi tulang punggung peremonomian Indonesia di masa yang akan datang. Di tengah menurunnya sektor komoditas (batu bara, kelap sawit) akibat dampak lesunya perekonomian global, sektor pariwisata justru stabil bahkan tumbuh. Salah satu cara mempromosikan pariwisata Indonesia adalah dengan memperbanyak event-event bertaraf internasional, seperti olimpiade atau pertemuan tingkat dunia. (Dev)

BERITA REKOMENDASI