Covid-19 Jadi Ujian Keagamaan

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJogja.com – Pandemi Covid-19 berdampak semua sendi dan segmen kehidupan, ekonomi, sosial kemasyarakatan, pendidikan sampai keagamaan.

“Pandemi Covid-19 jadi ujian keagamaan,” ujar Dr Salamatun Asakdiyah MSi, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) saat membuka Pengajian Virtual/Online di Laboratorium 216 FEB-UAD, Kampus 1 Jalan Kapas Semaki, Sabtu (08/08/2020).

Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber Rahmadi Wibowo Lc MA selaku Kepala Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), Lembaga Pusat Studi Islam (LPSI) UAD dengan host Aditya R Chistian MM.

Menurut Salamatun, pandemi Covid-19 pasti banyak tantangan yang tidak terduga. “Banyak rintangan itu haruslah dicarikan solusi secara kreatif dan inovatif. Intinya, ubah tantangan jadi peluang,” ujarnya.

Kebiasaan kegiatan dengan tatap muka terutama di lingkungan Pendidikan Tinggi bisa dialihkan secara online/virtual, seperti pengajian ini. Demikian seminar dengan tatap muka juga bisa dilakukan dengan webinar. “Kaitan dengan kuliah Tahun Ajaran baru 2020/2021 di UAD diinstruksikan Pak Rektor UAD dengan online, mulai Septenber mendatang,” ujarnya.

Salamatun Asakdiyah menegaskan, situasi yang tidak diduga, harus dicari solusi dengan menggunakan teknologi, justru lebih efektif dan efesien. Sedangkan Rahmadi Wibowo dalam materi secara online menyampaikan, pandemi Covid-19 jadi ujian banyak hal. Paling terlihat bidang ekonomi, sosial kemasyarakatan.

Selain itu bagi orang Islam tentu ujian keagamaan, cara beragama yang adaptatif sesuai situasi dan kondisi, sesuai Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). Mungkin sebelum ada Covid-19 jarang, bahkan tidak pernah menunaikan salat mengenakan masker. “Orang beragama juga harus melakukan adaptasi kebiasaan baru,” katanya.

Ujian keagamaan, paling tidak ada 4 hal, yakni soal ketaatan beragama, aturan yang rasional, mengutamakan keselamatan, akhlak dalam makan serta beragama secara realistis. Soal makan misal, orang beragama tetaplah merujuk makan yang halal, toyib dan barokah. “Beragama secara cerdas, adaptatif sangat dianjurkan,” tandasnya.

Setahu Rahmadi Wibowo, Muhammadiyah sebagai lembaga yang realistis dengan Islam yang berkemajuan. (Jay)

UAD

BERITA REKOMENDASI