Daya Tahan Tubuh Dibentuk dari Gaya Hidup

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan suatu program pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan, ditujukan untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat seluruh Indonesia.

“PHBS ini mendorong masyarakat secara individu dimulai dari diri sendiri, kemudian dan meluas ke masyarakat,” ujar Dr Tri Ani Marwati SE MKes, Ketua Tim Pengabdian Kepada Masyarakat dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Jumat (18/12/2020).

Pengabdian berupa Penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) di Era Pandemi Covid-19 di Panti Asuhan Aisyiyah se-DIY’. Workshop – Penyuluhan dilakukan bersama Dr Solikhah SKM MKes dari fakultas yang sama.

Menurut Tri Ani Marwati, saat pandemiCovid-19 kebersihan merupakanhal yang utama yang harus diedukasi kepada anak-anak dan pengelola panti. “Mengingat suspect Covid-19 dari hari kehari selalu bertambah dan penularan sangat cepat .Oleh karena itu, mereka perlu dipahamkan tentang Covid-19 agar mereka bisa meningkatkan daya tahan tubuh dan dapat memutus rantai penularan. Komunitas anak panti memiliki jumlah yang banyak dengan ruang lingkup sangat sempit,” ucapnya.

Bentuk edukasi yang harus diberikan seperti berikut, virus itu melawan daya tahan tubuh, daya tahan tubuh dibentuk dari gaya hidup, program yang diinisiasi Kemenkes RI dan dilakukan semua institusi negara dan masyarakata dalah Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) dengan 3 point utama yaitu perbanyak konsumsi buah dan sayur, perbanyak olahraga, dan cek kesehatan secara rutin.

Menurut Tri Ani Marwati, salah satu upaya menuju ke arah perilaku sehat dengan melalui satu program yang dikenal dengan program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang dilaksanakan secara sistematis dan terkoordinir. “Program Perilaku HidupBersih dan Sehat (PHBS) merupakan bentuk perwujudan untuk memberikan pengalaman belajar,” katanya.

Menciptakan suatu kondisi yang kondusif bagi perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku agar dapat menerapkan cara-cara hidup sehat dalam rangka menjaga, memelihara dan meningkatkan kesehatan.

Sedangkan Dr Solikhah dalam penyuluhan menyebutkan, berdasarkan hasil Riskesdas 2013 proporsi nasional rumah tangga dengan PHBS baika dalah 32,3%. Terdapat 20 Propinsi yang masih memiliki Rumah Tangga dengan PHBS baik dibawah proporsinasional. Proporsi tertinggi pada DKI Jakarta (56,8%) dan terendah pada Papua (16,4%).

Terdapat 20 dari 33 provinsi yang masih memiliki rumah tangga PHBS baik di bawah proporsinasional (Depkes RI,2013). “Harapan setelah mengetahui tentang PHBS dan Covid mereka dapat merubah perilaku sehat sehingga mereka dapat meningkatkan derajat kesehatannya,” ucapnya.

Kegiatan workshop- penyuluhan ini dilakukan dengan memberikan edukasi terkait PHBS, pemahaman terkait Covid-19 berserta upaya memutus rantai penularan dengan mengikuti protokol kesehatan yang sudah disepakati seperti cuci tangan, memakai masker penyemprotan dengan disinfektan, menjaga jarak, cek suhu badan, gizi seimbang dan lain-lain. Serta pendampingan bagi pengelola panti dan musrifah untuk melakukan monitoring dan evaluasiter hadappelaksanaan PHBS untuk seluruh penghuni panti.

Dokter Siti Khalimah, Wakil Ketua Majelis Kesejahteraan Sosial Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Yogyakarta mengatakan, kegiatan ini merupakan langkah yang tepat dimasa pandemi seperti saat ini. Setidaknya untuk mendorong dan menyadarkan seluruh komponen masyaraka tuntuk pemutusan rantai penularan virus SARS-COV-2.

Harapannya kegiatans eperti ini nantinya bisa ditindaklanjuti untuk panti-panti di seluruh wilayah Majelis Kesejahteran Sosial Aisyiyah,maupun Muhammadiyah. Program tersebut sangat baik terutama untuk komunitas Panti Asuhan yang penghuninya sangat hiterogin dalam rangka pemutus mata rantai Covid-19. (Jay)

BERITA REKOMENDASI