Di Mata Kuliah Ini, Mahasiswa Bebas Bercerita Sampai Berurai Air Mata

SLEMAN, KRJOGJA.com – Selama ini kegiatan perkuliahan hampir didominasi tatap muka antara dosen dan mahasiswa di sebuah kelas, dengan penjelasan dua arah yang mungkin menghasilkan perdebatan di mana satu pihak akan keluar sebagai yang paling benar. Namun ternyata pemandangan seperti itu tak terjadi di mata kuliah Ekspresi yang ada di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Seperti yang terjadi Kamis (15/6/2017) petang saat beberapa mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi terlihat duduk berhadapan di mana salah satunya kemudian bercerita dan yang lain mendengarkan. Bersama mereka masing-masing tampak barang yang sepertinya sederhana dan tak begitu penting.

Namun kemudian, setelah masing-masing bercerita dalam waktu kurang lebih 20 menit dengan tema dari barang sederhana yang dibawa, muncul berbagai respon baik dari si pencerita maupun pendengar cerita. Tertawa, bahagia, sedih hingga menangis tergurat dari wajah para mahasiswa tersebut karena ternyata barang yang dibawa punya kisah di hidup mereka masing-masing.

Dosen pengampu mata kuliah Ekspresi, HJ Sriyanto mengungkap di era saat ini bercerita dianggap sebagai sebuah hal yang sederhana, namun sering sekali dilupakan. Padahal ternyata ada nilai tersendiri yang bisa dimaknai mendalam oleh mahasiswa yang nantinya bakal jadi generasi pembentuk bangsa.

"Kami sebut ini proyek bertemu sebagai manusia. Melalui sepenggal cerita, saya berusaha mengajak para mahasiswa untuk berani menerima perbedaan dan membuat sebuah ruang olah batin antara sesama manusia yang sudah lama hilang," ungkapnya.

Sriyanto menilai beberapa waktu terakhir manusia semakin sibuk dengan gawai yang tak pernah ditinggalkan dalam keadaan apapun sampai lupa bersosialisasi secara nyata dengan manusia lainnya. "Inilah yang terjadi saat ini di skala manapun mulai dari rumah hingga negara. Melalui ruang-ruang alternatif inilah saya berharap agar para calon pendidik ini mampu menjadi agen yang mampu menyebarkan energi postitif yang membuat manusia kembali menjadi humanis dan menyadari dirinya adalah makhuk sosial, bukan sebaliknya," lanjutnya. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI