Diskusi Rumah Kebangsaan, Tanamkan Karakter dan Pendidikan Anti Korupsi

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Untuk memberikan wawasan pengetahuan dan praktik tentang wawasan nusantara serta penanaman pendidikan karakter, Dosen Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta yang tergabung dalm Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) UAD melaksanakan diskusi ‘Rumah Kebangsaan’ kepada para guru SD Muhammadiyah se-Kecamatan Depok, Sleman, Senin (19/20/2020). Diskusi dilaksanakan secara virtual dengan diapndu host dari UKM Pramuka UAD, Guritno Danar Dana.

Diskusi Rumah Kebangsaan diikuti oleh 25 guru. Mereka berharap tetap dilakukan pendampingan, sehingga selain ilmu yang didapatkan maka guru-guru ingin ada tindak lanjut dari kegiatan ini.

“Semoga ilmu yang dibagi hari ini memberikan wawasan bagi saya pribadi. Yang bisa ditularkan kepada anak-anak didik saya,” kata Guru SD Muhammadiyah Condongcatur, Vira Nurohma Yalanyta SPd.

Guru lain dari SD Muhammadiyah Condongcatur, Eko Apri Anggoro SS juga mengatakan hal yang sama. “Semoga ke depan Indonesia bisa bersih dan bebas dari korupsi dan tindakan koruptif, dalam semua bidang kehidupan,” tambah

Ketua Tim PKM yang juga Dosen PGSD UAD, Suyitno MPd menekankan karakter menjadi suatu keharusan karena pendidikan tidak hanya menjadikan peserta didik menjadi cerdas. Namun, juga mempunyai budi pekerti dan sopan santun.

Pembinaan karakter yang termudah dilakukan adalah ketika anak-anak masih duduk di bangku SD. Peristiwa masa kanak-kanak sangat penting dalam membentuk kepribadian seorang individu, bahwa awal kehidupan seseorang merupakan periode kritis. Kegagalan penanaman kepribadian yang baik di usia dini akan membentuk pribadi yang bermasalah saat dewasa kelak.

“Salah satu yang penting adalah menanamkan karakter anti korupsi. Di sinilah fungsi Sekolah Dasar Muhammadiyah se-Kecamatan Depok sebagai sebuah wadah yang bertanggung jawab untuk mengadakan perubahan bagi peserta didik dan menanamkan nilai-nilai yang sesuai dengan norma bangsa Indonesia. Penguatan budaya anti korupsi untuk jangka panjang, haruslah dimotori oleh satuan pendidikan,” ujar Suyitno.

Menurut Suyitno, lembaga pendidikan memegang kunci utama penanaman karakter dan akhlak peserta didik. Diajarkan tata krama, unggah-ungguh, sopan santun, kejujuran, rasa tanggung jawab, integritas, disiplin, kerja keras, solidaritas, dan jauh dari perilaku koruptif.

“Oleh karena itu, perlunya penanaman karakter bagi peserta didik guna membentengi diri dari budaya asing yang merusak generasi bangsa kerena tidak sesuai dengan kepribadian manusia Indonesia. Peran guru pada umumnya sangatlah diperlukan untuk mengantarkan pemahaman peserta didik akan jati diri bangsa dan budaya ketimuran Indonesia sehingga tindak penyimpangan yang kemungkinan dilakukan oleh peserta didik dapat diatasi melalui pendidikan karakter,” ungkap Suyitno.

Ditegaskan bahwa kegiatan penyuluhan wawasan nusantara bagi guru SD Muhammadiyah se-Kecamatan Depok Sleman ini menekankan tentang urgensi wawasan nusantara bagi warga negara, terutama warga negara muda. Guru sebagai sasaran penyuluhan ini, diharapkan dapat menyisipkan penguatan lebih banyak dalam hal wawasan nusantara yang sekarang ini kian memudar, saat pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dengan peserta didik.

Suyitno berharap, peserta didik sebagai sasaran penyuluhan ini nantinya dalam kehidupan sehari-hari maupun di sekolah, dapat menunjukan karakter kebangsaan yang kuat sebagai bagian dari jati diri bangsa. Gerakan habiatuasi karakter kebangsaan di sekolah ini berbentuk pembudayaan nilai-nilai karakter melalui pembiasaan perilaku baik di sekolah.

“Salah satu faktor pendukung kesuksesan program penguatan perilaku baik di sekolah ini adalah pembuatan media-media yang berbasiskan pada langkah persuasif dalam pengolahan perilaku baik peserta didik,” terang Suyitno.

Anggota Tim PKM, Dosen PPKn UAD, Trisna Sukmayadi MPd menyampaikan, Indonesia memiliki kualitas SDM berkualitas yang diakui oleh dunia Internasional. Namun, sikap nasionalisme di kalangan siswa dewasa ini tergolong memprihatinkan. Seperti kurang khidmat mengikuti upacara bendera, kurang hafal lagu-lagu nasional, dan tidak hafal pancasila dan sebagainya. Oleh karena itu perlu adanya upaya untuk menumbuhkan kembali nasionalisme dan patriotisme di kalangan siswa.

“Pengabdian bertajuk ‘Rumah Kebangsaan’ ini bertujuan membudayakan karakter kebangsaan sebagai jati diri bangsa melalui habituasi karakter kebangsaan di sekolah, dengan cara sosialisasi dan penyuluhan bagi guru dan peserta didik,” jelas Trisna Sukmayadi yang bersama Suyitno, sudah mengantongi Sertifikasi Penyuluh Anti Korupsi Pratama dari KPK RI ini.

Trisna Sukmayadi menuturkan, pendekatan yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan adalah pendekatan partisipatif, yakni pelibatan secara aktif oleh guru dan peserta didik. Harapannya peserta memahami dan bisa melaksanakan konsep wawasan nusantara dan pembudayaan karakter kebangsaan di sekolah sejak

Wawasan Nusantara sebagai konsepsi geopolitik, Kata Trisna Sukmayadi, menekankan kesadaran bagi warga negara akan pentingnya wilayah sebagai ruang hidup (living space), sekaligus menumbuhkan sikap nasionalisme bangsa Indonesia. Sikap nasionalisme ini mendorong masyarakat untuk mendahulukan kepentingan bangsa diatas kepentingan pribadi dan golongan, serta mendorong bangsa Indonesia untuk menunjukan harkat dan martabatnya diantara bangsa-bangsa lain di dunia.

“Semangat nasionalisme ini sangat diperlukan untuk tetap menjaga integritas dan identitas bangsa Indonesia, semangat nasionalisme yang mendorong bangsa Indonesia untuk siap bersaing dengan bangsa-bangsa lainnya,” ucap Trisna Sukmayadi. (*)

BERITA REKOMENDASI