Dosen UAD Atasi Kekeringan di Desa Wareng

Editor: Ivan Aditya

GUNUNGKIDUL, KRJOGJA.com – Untuk mengatasi masalah kekeringan dan membantu pengolahan dan pengelolaan hasil pertanian, Tim Program Pengabdian Masyarakat (PPM) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta menginisiasi program pemberdayaan masyarakat di Desa Wareng Wonosari Gunungkidul, Minggu (18/10/2020).

Tim PPM UAD diketuai oleh Anton Yudhana ST MT PhD dan beranggotakan Son Ali Akbar ST MEng, Safinta Nurindra Rahmadhia SSi MSc dan Phisca Aditya Rosyady SSi MSc.

Anton Yudhana menuturkan, pengabdian diwujudkan dalam bentuk penyediaan pompa air tenaga surya, pelatihan pengolahan hasil kebun dan pemasaran serta desain produk hasil pertanian. Pompa air tenaga surya akan dipasang di salah satu sumber air sehingga nantinya dapat memaksimalkan ketersediaan air pada titik tersebut.

“Dan dapat digunakan untuk pengairan lahan perkebunan warga. Setelah proses pemasangan pompa berhasil dilakukan, warga juga akan didampingi dan dilatih untuk memelihara pompa agar bisa bekerja maksimal,” ujar Anton Yudhana, melalui keterangan tertulis, Kamis (29/10/2020).

Selanjutnya Safinta Nurindra menyampaikan kegiatan lainnya yaitu pengolahan lidah buaya menjadi produk pangan. Hasil kebun warga yakni lidah buaya sangat melimpah dan potensial untuk diolah menjadi produk pangan seperti kerupuk lidah buaya.

Phisca Aditya menambahkan, kedua program yang direncanakan tersebut akan diperkuat dengan adanya pelatihan dan pendampingan pemasaran dan desain produk. Harapannya warga dapat teredukasi secara maksimal.

Sementara itu, Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Wareng Etik Ismiyati sangat mendukung adanya program yang dilaksanakan oleh Tim PPM UAD guna meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan anggotanya. Menurut Anton, dari hasil diskusi dengan warga Desa Wareng, selama ini mereka mengalami kesulitan dalam pengolahan dan pengelolaan hasil pertanian.

Warga memanfaatkan lahan pekarangan rumah untuk bercocok tanam. “Hasil panen dari kebun digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun diperjual belikan,” ungkap Anton Yudhana.

Selain itu warga Desa Wareng memiliki kesulitan dalam hal pengairan sehingga tak jarang mengalami kekeringan. Saat kekeringan melanda, warga kesulitan untuk mendapatkan air bersih guna memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan juga untuk merawat pekarangan mereka.

“Sumber air yang minim menyebabkan mereka kesulitan untuk mengairi pekarangan dan kebun yang digunakan untuk bercocok tanam,” terang Anton Yudhana. (*)

BERITA REKOMENDASI