Dosen UAD Dorong Kelola Sanitasi Lingkungan di Pengungsian

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Untuk menguatkan kelembagaan organisasi relawan bencana Pusat Studi Mitigasi dan Penanggulangan Bencana (PSMPB) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Dosen UAD yang tergabung dalam Tim Program Pengabdian Masyarakat (PPM) menginisiasi program pengelolaan sanitasi lingkungan dan sampah di pengungsian pasca bencana. Dilaksanakan secara daring, karena masih terkendala pandemi Covid-19, belum lama ini (15,16, 20 September, dan 21 Oktober 2020).

Tim pengusung program diketuai oleh Sulistyawati MPH dan beranggotakan Tri Wahyuni Sukesi MPH, Dr Surahma Asti Mulasari MKes, Dr Fatwa Tentama MSi, Siti Kurnia Widi Hastuti MPH, Rokhmayanti MPH dan Dr Sitti Nurdjannah MKes.

Sulistyawati menuturkan, program yang dilakukan meliputi sosialisasi dan dokumentasi pengalaman relawan, penguatan kelembagaan dalam pengelolaan sanitasi lingkungan pasca bencana. Kemudian, diskusi konsep untuk pembuatan petunjuk teknis Standar Operasional Prosedur (SOP) pengelolaan sanitasi lingkungan bagi relawan.

Dilanjutkan, diskusi konsep untuk pembuatan materi pembekalan dan buku pedoman pengelolaan sanitasi lingkungan pasca bencana bagi relawan. “Selanjutnya menyusun panduan dalam pengelolaan sanitasi lingkungan pasca bencana, dan meningkatkan pengetahuan dan sikap relawan bencana dalam pengelolaan sanitasi lingkungan pasca bencana,” ujar Sulistyawati, melalui keterangan tertulis, Kamis (29/10/2020).

Tri Wahyuni Sukesi menyampaikan, sebagai rencana tindaklanjut dari kegiatan ini adalah penyusunan materi pembekalan relawan, penyusunan SOP pengelolaan sanitasi lingkungan pasca bencana, dan penyusunan buku panduan relawan yang relevan dengan kebutuhan di lapangan.

“Sesuai dengan masukan dari PSMPB dan Lembaga Penanggulangan Bencana Muhammadiyah atau Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC ),” terang Tri Wahyuni Sukesi.

Menurut Sulistyawati, masalah sanitasi lingkungan timbul dan menjadi penting ketika pasca bencana. Karena, masyarakat harus berada di barak pengungsian untuk beberapa waktu.

Selain itu, kondisi psikologi yang belum stabil dan ketersediaan sarana prasarana yang tidak mendukung menjadikan pengungsi ataupun relawan kurang memperhatikan sampah yang dihasilkan.

“Sehingga menimbulkan penyakit misalnya diare, gangguan lingkungan, dan gangguan kenyamanan,” ungkap Sulistyawati. (*)

BERITA REKOMENDASI