Fasilitas dan Jumlah Guru Hambat Penerapan ‘STEM’

JAKARTA, KRJOGJA.com – Direktur Pembinaan SMK Kemendikbud M Bakrun di Jakarta,Sabtu (31/03/2018) menjelaskan Indonesia tidak mungkin meniru semua moetode pembelajaran yang berkembang di negara tetangga akibat keterbatasan guru dan fasilitas.

Bakrun menilai Pendidikan Indonesia sudah dalam jalur tepat menuju proses pembelajaran abad 21.  Bagaimanapun, lanjut dia, penerapan perpaduan sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM).STEM di Indonesia tetap harus disesuaikan dengan kondisi geografis Indonesia.

“Kita harus mengembangkan pendidikan dengan cara sendiri. Tidak bisa menerapkan metode sama dengan negara lainnya,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama pengamat

Pendidikan dari Eduspec Indonesia Indra Charismiadji mengatakan kita  perlu mempertimbangkan pembelajaran berbasis perpaduan sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM).  Metode ini sudah diterapkan pada sejumlah negara dengan sebutan beragam. “Apakah kita selalu menjadi bangsa yang tertinggal? Atau kita mengejar ketertinggalan dan berada di depan,” ujarnya

Negara-negara yang sudah menerapkan STEM adalah Amerika, Inggris, Australia, Finlandia, dan Singapura. Menurut dia, Indonesia sebenarnya sudah mampu melakukannya.

Indonesia, lanjut Indra, memiliki anggaran pendidikan mencapai Rp 400 triliun. Anggaran sebesar ini dinilai cukup menerapkan pembelajaran berbasis perpaduan STEM.

“Sekitar 78 persen sekolah di Indonesia sudah menerapkan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Artinya mereka punya laboratorium komputer dan seharusnya siap menerapkan STEM,” katanya.

Indra menjelaskan, keberadaan laboratorium komputer tentu harus dimanfaatkan. Pembelajaran berbasis perpaduan STEM dapat meningkatkan kemampuan anak berpikir kritis, komunikatif, kolaboratif, dan kreatif.(ati)

 

BERITA REKOMENDASI