FMPP : Dibutuhkan Sinergitas Tri Pusat Pendidikan

Editor: Ary B Prass

BANTUL, KRJOGJA.com- Serangkaian peristiwa kenakalan remaja yang berujung perkelahian melibatkan siswa mesti mendapat perhatian semua pihak. Jangan sampai pemuda sebagai harapan bangsa terjerumus pada tindakan yang berisiko pada hukum. Apalagi belum lama ini kasus perkelahian antar siswa sampai membawa korban jiwa. Sinergitas  Tri Pusat Pendidikan, yang meliputi orangtua,  sekolah dan lingkungan harus dioptimalkan.

“Istilah Tri Pusat Pendidikan waktu itu dipopulerkan oleh Bapak Pendidikan Nasional, yaikni Ki Hajar Dewantara. Tri Pusat Pendidikan itu sendiri ialah tiga pusat yang punya tanggungjawab terselenggaranya pendidikan, yakni lingkungan keluarga,  sekolah serta lingkungan masyarakat, ” ujar Ketua Forum Masyarakat Peduli Pendidikan (FMPP) Kabupaten Bantul,  Zahrowi, Minggu (14/11/2021).
Dijelaskan tanggung jawab terhadap siswa tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada pihak sekolah. Semua elemen masyarakat, keluarga dan sekolah harus berbagi peran untuk mencapai tujuan pendidikan.
“Ketika berbicara terjadinya perkelahian antarsiswa tentunya ada peran dari komponen Tri Pusat Pendidikan yang belum berjalan sebagaimana mestinya,”  ujarnya.
Perkelahian kata Zahrowi,  sebenarnya tidak hanya terjadi akhir-akhir ini. Sejak dulu perkelahian antarsiswa dan juga sekolah sudah sering terjadi.  Meski begitu sekarang  dibutuhkan langkah antisipasi agar kebiasan tersebut bisa diredam.
Sementara Komite Sekolah SMA 1 Pundong Bantul,  Sartono MPd mengatakan, ketika ramai dibicarakan perkelahaian antar pelajar yang membawa korban jiwa.  Menurutnya perkelahaian  sudah terjadi sejak lama. Dulu keributan biasanya disebabkan karena pasca pertandingan olahraga saling ejek.  Namun sekarang tawuran makin meresahkan. Karena mereka tidak segan melukai lawan dengan senjata tajam.
“Berbagai usaha penyelesaian  sudah di lakukan oleh pihak berwajib baik dari kepolisian, dinas pendidikan dan instansi lain.  Tetapi sampai sekarang perkelahian  antar pelajar tetap saja terjadi,” jelasnya.
Sartono berpendapat,  untuk mengurai persoalan tersebut disekolah perlu digencarkan program ekstra kegiatan sosial.  Karena dijenjang pendidikan tingkat atas karakter siswa sudah terbentuk.
“Sehingga perlu ditingkatkan  pendidikan karakter pada siswa misalnya,nilai kebersamaan, toleransi, kemanusiaan, persamaan, saling menghargai, jujur, tanggung jawab dan disipilin mulai jenjang dasar, ” ujarnya.
Hal tersebut jangan dianggap sepele,  tetapi harus diberikan secara sungguh-sungguh kepada siswa. Sehingga pada saat masuk pendidikan tingkat menengah atas. Siswa sudah membawa karakter yang baik.
Menurut Sartono kepala sekolah harus berada digarda terdepan untuk peduli terhadap perilaku siswanya. “Himbauan kepada orangtua siswa agar benar menjaga putra-pilutrinya dalam pergaulan di luar sekolah,” ujarnya. (Roy)

BERITA REKOMENDASI