Guru Seni Budaya dan Prakarya MTs DIY Terbitkan Buku Antologi

Anita Isdarmini meminta agar nantinya Seni Budaya dan Prakarya organisasinya dipisah, karena dalam struktur kurikulum terpisah. Dirinya juga mendorong agar ada kompetisi antarsiswa madrasah dalam bidang Seni Budaya dan Prakarya. “Bila ajang kompetisi ini terlaksana akan menjadi kekuatan luar biasa untuk lebih meneguhkan madrasah hebat bermartabat,” ujar Anita.

Edih Supardi yang telah membersamai para guru SBP sejak 2012, turut bangga dengan terbitnya buku tersebut. Menurutnya buku tentang pengalaman guru dalam mengajar selama wabah pandemi Covid-19 melaksanakan pembelajaran jarak jauh, adalah sebuah gagasan dan ide yang angat bagus, sekaligus melatih guru-guru dalam rangka pengembangan diri sebagai bagian dari pengembangan keprofesian berkelanjutan.

Sutanto menambahkan, buku setebal 204 halaman tersebut sengaja diberi cover gambar Blangkon, Gamelan dan Batik sebagai cirikhas DIY sebagai Kota Budaya. Isinyacukup menarik, karena penulisnya sangat variatif latar belakangnya.
Pengalaman mengajar dengan perspektif Seni Musik, Seni Rupa, Seni Tari dan KerajinanTangan, dengan pengalaman mengajar yang sudah lebih dari 25 tahun, 10 tahun, 5 tahun, bahkan ada yang baru 2 tahun, menjadikan isi buku ini penuh warna. Beberapa guru menuliskan, Tantangan Guru di Sekolah Asrama, Goresan Hidupku,Seni Mengindahkanku Seni Tumpuan Hidupku, Belajar Seni Belajar Hati, Mengajar HarusMaton Tidak waton. Menjadi Guru Kreatif dengan WFH.

“Dengan menulis, minimal para guru telah berupaya untuk menuangkan pengalaman mengajar dengan segenap pernakperniknya. Selain itu masing-masing penulis akan menjadi aset berharga darimadrasah khususnya dan Kemenag DIY pada umumnya,” pungkas Sutanto.(Rar)

BERITA REKOMENDASI