Indonesia Butuh Full Day School?

MAGELANG (KRjogja.com) – Wacana Full Day School dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Muhadjir Effendy yang didasarkan pada gagasan agar anak tidak sendiri ketika orangtua bekerja benar-benar harus dikaji ulang karena Indonesia saat ini belum membutuhkan kebijakan semacam ini.

"Ada aspek sosial yang perlu dipertimbangkan. Full Day School jelas akan mengurangi waktu bersosialisasi dan bermain anak bersama teman sebaya mereka di luar sekolah. Memang di sekolah mereka ada waktu bersosialisasi dan bermain. Akan tetapi, sosialisasi dan bermain mereka hanya terbatas pada teman sekolah. Sosialisasi dan bermain mereka pun jelas diatur berdasarkan norma-norma dan ciri khas di sekolah," terang Peneliti Merapi Cultural Institute (MCI), Agustinus Sucipto dalam keterangnnya, Rabu (10/08/2016).

Padahal, sosialisasi dan bermain dengan teman di luar sekolah bersifat lebih luas dan luwes, sehingga norma-norma mereka dalam bersosialisai bukan karena ketentuan dari sekolah, tetapi karena kesadaran dan pilihan mereka.

Disamping itu, dengan diterapkannya Full Day School seakan menyerahkan tanggung jawab pendidikan kepada sekolah, termasuk pendidikan karakter. Padalah pendidikan juga merupakan tanggung jawab orangtua karena mereka lah pendidik yang pertama dan utama bagi anak.

"Kesibukan orang tua tidak bisa dijadikan sebagai alasan untuk menyerahkan pendidikan anak mereka pada institusi pendidikan. Institusi pendidikan bukan sebagai tempat penitipan anak, sehingga kesibukan kerja orangtua sebagai alasan diterapkannya Full Day School jelas tidak realistis," jelasnya.

Alasan banyak orangtua yang bekerja sampai sore sehingga anak menjadi tidak terurus sepulang sekolah perlu diteliti mendalam.

"Di Indonesia hanya sebagian kecil orangtua yang tidak bisa mengurus dan mendidik anak mereka sepulang sekolah karena alasan pekerjaan. Ini hanya terjadi di kota-kota besar dengan jumlah yang tidak besar dibandingkan dengan banyaknya ibu-ibu yang lebih memilih menjadi pendidik anak mereka di rumah daripada harus bekerja," tandas peneliti asal Magelang.

Ia menerangkan hampir semua orangtua di desa bisa mengurus anak mereka sepulang sekolah karena pekerjaan mereka tidak dibatasi waktu.

"Seandainya Full Day School dipaksakan untuk diterapkan di sekolah negeri maupun swasta maka kebijakan ini hanya mengakomodasi sebagian kecil masyarakat Indonesia dan mengorbankan sebagian besar masyarakat Indonesia yang tidak membutuhkan sistem ini," jelas peneliti yang pernah mendalami ilmu filsafat di STFT Widya Sasana Malang. (*)

BERITA REKOMENDASI