Indonesia Kekurangan 159.000 Guru Vokasi

SERPONG, KRJOGJA.com – Indonesia saat ini kekurangan lebih dari 159.000 guru vokasi di berbagai wilayah. 
Selain itu, profesionalitas guru bidang vokasi masih kurang, ditandai dengan jumlah yang cukup tinggi pada guru yang belum memiliki sertifikat pendidik dan sertifikat kompetensi keahlian.

Hal itu disampaikan oleh Paristiyanti Nurwardani selaku Direktur Pembelajaran, Direktorat Jenderal Pembelajaran, dan Kemahasiswaan (Ditjen Belmawa), Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidian Tinggi (Kemenristekdikti) pada pembukaan Seminar Nasional Inovasi Pembelajaran Pendidikan Profesi Guru (PPG) Bidang Vokasi di Hotel Atria BSD Serpong, Banten.

Padahal, lebih lanjut Paristiyanti memaparkan bahwa sertifikasi pendidik  merupakan indikator bahwa guru tersebut telah dinyatakan layak dan lolos uji kompetensi untuk menjadi guru profesional. Sementara sertifikat kompetensi keahlian merupakan indikator bahwa guru vokasi tersebut ahli dalam sebuah bidang vokasi.

Seminar yang dihadiri oleh 63 Wakil Rektor I Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) Penyelenggara PPG, 63 Koordinator PPG, 43 Wakil Direktur Bidang Kerja sama Politeknik Negeri, serta 31 Kepala Sekolah Mitra PPG (SMK) diharapkan mampu dan mengembangkan inovasi pembelajaran di SMK melalui peranan yang dimiliki oleh masing-masing pemangku kepentingan. Hasilnya, diharapkan lulusan SMK yang siap kerja dalam persaingan dunia industri.

Paristiyanti pun menjelaskan bahwa dengan semakin bergaungnya isu Revolusi Industri 4.0, diperlukan inovasi agar para calon guru profesional sudah terpapar sejak dini akan teknologi informatika dan bagaimana menggunakan teknologi dalam proses pembelajaran. 

Seminar ini bentuk pengembangan dari peran Kemenristekdikti melalui Ditjen Belmawa dalam pemenuhan guru bidang vokasi sesuai Permenristekdikti Nomor 55 Tahun 2017 tentang Standar Pendidikan Guru (SNPG).  Program ini diperuntukkan bagi lulusan yang memiliki latar belakang beragam, yaitu: lulusan S-1 Kependidikan atau S-1 Non Kependidikan atau D-4 (yang belum/tidak menjabat sebagai guru sekolah). 

Melalui PPG Prajabatan, diharapkan dapat melahirkan guru yang professional sesuai dengan perkembangan revolusi Industri 4.0. Sebab, profesionalitas guru di Indonesia diharapkan mampu menjawab tantangan akan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi  yang berdampak pada perubahan pola pembelajaran serta meningkatkan kreativitas siswa dalam pembelajaran. Sehingga lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mampu memiliki keahlian sesuai dengan perkembangan industri.(ati)
 

BERITA REKOMENDASI