Indonesia Membutuhkan Banyak Guru Penggerak

YOGYA, KRJOGJA.com – Indonesia membutuhkan banyak guru penggerak agar kualitas pendidikan semakin meningkat. Apalagi dengan adanya krisis selama pandemi Covid-19 ini, kesenjangan antara daerah dan kota mejadi semakin terasa. Adanya fenomena tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab Kemendikbud, tapi seluruh pemangku kepentingan termasuk masyarakat dan pihak swasta harus bisa menutup kesenjangan itu dengan cara yang proaktif.

“Sebetulnya pemerintah sudah membuat program guru penggerak, dengan menatar guru guru untuk menjadi guru penggerak. Seorang guru yg telah ditatar menatar pada 20 guru (TOT). Namun di lapangan ternyata ini mengalami hambatan, karena guru senior mulai mendekati pensiun, sedangkan guru baru masih kurang. Maka terjadi hambatan dalam proses pelaksanaan program tersebut,” kata mantan Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) DIY, Ahmad Zainal Fanani SPd MA di Yogyakarta, Minggu (28/6/2020).

Menurut Zainal Fanani, dalam pelaksanaan di lapangan belum berjalan lancar, karena kendala waktu. Selain itu saat mengajar dan semangat guru masih kurang, karena dianggap sesuatu yang biasa bagi. Karena bagi guru generasi sekarang, masalah ilmu justru banyak mendapat dari media. Kondisi tersebut menuntut guru juga mengikuti siswanya yang cepat menerima media. Sehingga materi penataran guru penggerak itu kurang up to date.

“Guru generasi sekarang ini cukup bagus mengikuti media, karena tuntutan siswanya. Guru yang lama tidak menggunakan IT tentu akan ketinggalan dan sulit untuk menyesuaikan diri,” ujarnya.

BERITA REKOMENDASI