Ingin Kuliah di Luar Negeri? Ikuti Prosesnya

YOGYA (KRjogja.com) – Merasakan hidup di negeri orang untuk belajar dan bekerja nampaknya menjadi pengalaman yang menarik. Begitulah yang dirasakan oleh Herlina Wahyuni (17) dan Banar Setya Wukirtaji (18) asal SMA N 1 Gombong, Jawa Tengah.

Mereka berdua saat ini tengah menunggu visa untuk keberangkatan studinya di luar negeri. Ditemui di Hotel Harper dalam Pameran Pendidikan Luar Negeri yang diadakan oleh Naresy International Education Consultant (NIEC) Sabtu (24/09/2016), di Hotel Harper Yogyakarta, Lina dan Banar berbagi kisah persiapan mereka sebelum memulai kuliah.

Business Management menjadi jurusan yang dipilih Lina di Arbutus College Canada, sedangkan Banar memilih jurusan Hospitality di NTEC-Tertiary Group, New Zealand. Keduanya sama-sama merupakan program Diploma 3.

“Awalnya kami kenal NIEC dari teman yang kuliah di Australia, terus kami ikut expo seperti ini. Kami mencoba tes bahasa inggris yang disediakan waktu itu. Pertama menentukan college mana dulu yang diinginkan, ada yang menggunakan sistem English Placement Test (EPT), ada yang pakai IELTS. Kami pilih yang EPT. Kemudian ketika hasil tes keluar, kami mendapat student contract dan mengisi formulirnya,” jelas Lina.

Hal yang terpenting dalam pendaftaran adalah tertib mengikuti alurnya. Selain memenuhi syarat dalam tes, kemampuan bahasa, juga kelengkapan dokumen. Jangan sampai ada dokumen yang kurang, tidak jelas atau bahkan palsu. Ketika dokumen-dokumen sudah lengkap dan diserahkan ke KBRI, calon mahasiswa melakukan medical check up sesuai dengan lokasi yang sudah ditentukan oleh pihak embassy negara tujuan. Misalnya untuk Kanada dilakukan di Surabaya, sedangkan New Zealand dan Australia di Semarang. Setelah semuanya beres dan visa turun, calon mahasiswa siap untuk berangkat.

“Daftar kuliah di luar menurutku malah nggak sesusah di Indonesia kok,” ungkap Lina.

Program kuliah ini memiliki konsep belajar sambil bekerja. Calon mahasiswa hanya perlu membayar biaya semester awal dan living cost, di tahap selanjutnya mereka akan memenuhi kebutuhan biayanya dengan bekerja part time. Seberapa besar biaya yang dikeluarkan tergantung negara tujuannya.

Gaji part time di Kanada maupun New Zealand terbilang lumayan tinggi, yakni sekitar 20 dolar setempat untuk per-jamnya. Namun agar tidak mengganggu aktivitas belajar, jam kerja bagi mahasiswa dibatasi hanya 20 jam perminggu. Bahkan nantinya setelah lulus akan mendapat visa kerja.

Kondisi lingkungan dan cuaca di sana jelas berbeda dengan Indonesia. Rencana memulai masa studi di akhir tahun 2016 ini akan mempertemukan Lina dengan winter di Kanada, dan Banar dengan summer di New Zealand. Mereka sudah mempersiapkan baju yang akan dipakai selama di sana dan kondisi fisik sejak sekarang.

Sesampainya di sana, mahasiswa tidak langsung hidup sendirian. Selama 3 bulan mereka harus tinggal bersama keluarga setempat untuk beradaptasi. Banar dan Lina mengakui bahwa mereka tidak sepenuhnya berekspektasi bagus. “Nggak pernah mikir yang enak-enak aja sih, karena kita pasti butuh effort untuk hidup di sana. Harus adaptasi, membagi waktu antara kerja dan belajar, kan,” katanya.

Meski dibantu oleh NIEC, perjalanan mendaftar studi di luar negeri belum tentu mulus. Sebelum diterima di New Zealand, Banar sudah merasakan tiga kali gagal mendaftar studi di Kanada. Ia ditolak karena beberapa alasan teknis yang tidak memenuhi syarat oleh embassy negeri tersebut.

“Setelah ditolak itu ya kata orangtua ya udah jangan jauh-jauh, Australia aja. Tapi aku maunya New Zealand, ya masih deketlah sama Australia. Eh beneran diterimanya di New Zealand, jadi memang restu orang tua itu paling penting sih,” ungkapnya sambil tertawa.

Bagi yang ingin meneruskan kuliah di luar negeri, dua gadis cantik ini menyarankan untuk jangan mudah menyerah dalam mencoba, percaya diri saja, selalu berdoa, dan lagi-lagi yang paling utama adalah restu orang tua. (MG-05)

Baca Juga :

NIEC Bantu Siswa Kuliah di Luar Negeri

Ini Kesulitan Ketika Kamu Kuliah di Luar Negeri

 

BERITA REKOMENDASI