Kemdikbud Susun Kurikulum SMK Film

JAKARTA, KRJOGJA.com – Direktur Pembinaan SMK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Bakrun mengakui kekurangan guru animasi karena lulusan banyak memilih bekerja sesuai dengan bidangnya.

"Guna mengantisipainya, kita mengadakan berbagai pelatihan. Diharapkan lulusan SMK terpacu untuk studi lanjut, sehingga mendapatkan kelas serta upah yang ‘prestise’ di dunia kerja," ungkap Bakrun diJakarta, Kamis (01/03/2018).

Anggota Komisi X DPR Arzetty Bilbina mengatakan ‘penyedia’ tenaga praktis, SMK di Indonesia memiliki beberapa tantangan. Dari sisi permintaan (demand), diharapkan ada keterlibatan industri secara lebih, baik dalam bentuk teaching factory, praktik kerja, maupun penyerapan lulusan. 

Sementara dari sisi penyedia (supply), kata Arzetty, SMK seharusnya memiliki kurikulum lengkap. Mulai materi umum, teori, soft skill dan kewirasaan, kualifikasi dan jumlah guru serta fasilitas memadai. 

"SMK pun sebaiknya bersistem ‘work-based learning’ dengan banyak berorientasi pada teaching factory serta praktik kerja industry (prakerin)," jelasnya.

Direktur Jendral Kebudayaan Hilmar Farid mengatakan kita  tengah menyusun kurikulum SMK bidang perfilman. Langkah ini untuk menjawab kebutuhan tenaga teknis perfilman di Indonesia. "Kita belum punya SMK bidang teknis perfilman, seperti tenaga lighting, sound dan tenaga teknis perfilman lainnya," ujar Hilmar Farid .

Hilmar menjelaskan kendala yang dihadapi adalah tenaga ahli perfilman di Indonesia belum memiliki sertifikasi dan standar kompetensi. Dengan SMK Perfilman, berharap bisa memenuhi kebutuhan tenaga teknis perfilman di dalam negeri.  Bahkan, menyiapkan lulusan yang kompeten

"Industri perfilman dari luar banyak yang masuk ke Indonesia, seharusnya tenaga teknis dari lokal. Tapi karena alasan sertifikasi dan standar kompetensi tenaga teknis kita tidak digunakan," terangnya.

Hilmar mengatakan dalam kurikulum siswa mengikuti pembelajaran selama 3 tahun dengan perbekalan khusus tentang teknis perfilman. "Target kami tiap kota provinsi punya 1 SMK Perfilman. Ini untuk menjawab kebutuhan tenaga teknis perfilman nasional," katanya. (Ati)

 

 

 

 

 

BERITA REKOMENDASI