Kemenristekdikti Dorong Hilirisasi Hasil Riset

BOGOR, KRJOGJA.com – Baru 50 persen petani menggunakan benih unggul. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk Indonesia dari tahun ke tahun, krisis pangan nasional menjadi potensi tantangan nasional di masa depan. 

Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi ( Kemenristekdikti ) Jumain Appe terus mendorong lembaga penelitian dan pengembangan (litbang) di bawah naungan Kemenristekdikti dan Kementerian Pertanian, perguruan tinggi, pelaku usaha dan masyarakat terus bersinergi demi tercapainya cita-cita swasembada pangan nasional di indonesia.  

“Saya kira dengan pemanfaatan hasil-hasil litbang tersebut cita cita kita dalam ketahanan pangan nasional bisa terjadi. Negara maju dengan teknologi yang mutakhir di bidang pertanian memberikan manfaat dalam meningkatkan produktifitas nasional, khususnya di bidang pertanian. Lembaga-lembaga litbang kita, baik dari PT, kementerian, non-kementrian dan swasta semuanya memiliki berbagai teknologi dan telah dikembangkan sejak lama, namun belum optimal," kata Jumain dalam sambutannya pada kegiatan Swasembada Pangan dengan Hilirisasi Hasil Litbang Menuju Ketahanan Pangan Nasional di IPB International Convention Center (IICC) Bogor.

Karena itu, kata Jumain pemerintah menginginkan adanya sinergi antara akademisi, pemerintah, dunia usaha serta masyarakat agar semua harapan dan cita-cita bisa tercapai.

Jumain Appe menilai produktifitas dan nilai tambah dari sektor pertanian sudah bagus, namun belum optimal. Misal pengembangan benih unggul nasional yang di pelopori oleh Institut Pertanian Bogor, belum mampu memenuhi standar nasional 6 ton/hektar. 

"Revolusi industri 4.0 merupakan momen untuk melakukan perubahan revolusioner di bidang teknologi pangan untuk menyokong ketahanan pangan nasional. Dengan bersinergi, bekerjasama, saling terbuka, melibatkan seluruh komponen pemerintahan, akademisi, dunia usaha dan masyarakat serta industri kreatif adalah kunci untuk berinovasi di masa depan," tambahnya.

Kepala Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian Kementerian Pertanian Erizal Jamal menyampaikan benih merupakan satu diantara tiga unsur utama kegiatan Budidaya Pertanian, Disamping Tanah dan Manusia. Dari proses domestikasi sampai menjadi Industri Benih saat ini, kebutuhan dan ketergantungan terhadap benih bermutu kian meningkat. 

"Semakin hilang keberagaman Hayati di masyarakat contohnya India, sebelum revolusi Hijau ada 30.000 Varietas padi ditanam petani, setelah revolusi hijau budidaya padi tergantung pada 10 Varietas saja,” ungkap Erizal. 

Benih bermutu berkontribusi nyata dalam peningkatan produksi. Persoalan pokok selama ini adalah karena sebagian besar petani masih belum menggunakan benih bermutu. “Perbenihan Padi dan Jagung yang relatif sudah mapan, namun penggunaan benih bermutu masih berkisar 50% saja,” imbuh Erizal. (Ati)

BERITA REKOMENDASI