Keren.. 55 Mahasiswa Indonesia Terima Beasiswa di AS

American Indonesian Exchange Foundation (AMINEF) memberikan beasiswa kepada 55 mahasiswa RI. Melalui program ini, diharapkan terjalin hubungan yang baik antara masyarakat Tanah Air dan Amerika Serikat, serta memanfaatkan ilmu dan kemampuan yang diperoleh saat belajar di Negeri Paman Sam untuk membangun Indonesia.

Pendidikan di luar negeri terutama di Amerika Serikat masih menjadi favorit mahasiswa asal Indonesia, sehingga mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan kesempatan beasiswa belajar di universitas-universitas terkemuka di sana.

Diaz Fitra Aksioma, mahasiswa penerima program beasiswa Fulbright, yang juga pengajar dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, memilih Amerika Serikat sebagai tempat belajar karena kualitas pendidikan yang paling baik di dunia. Beasiswa program doktoral yang diterimanya memberi biaya penuh untuk belajar, sekaligus biaya untuk hidup dan tinggal selama menempuh pendidikan.

"Profesor yang sesuai dengan bidang saya ada di sana, dan beasiswa Fulbright ini yang paling mumpunilah, dari segi segala macamnya. Mulai dari link, segi pembiayaan, istilahnya ke depannya nanti jelas. Sangat maju, sangat maju sekali, jadi itu salah satu alasan kenapa saya memilih Amerika, karena pendidikan di sana jauh lebih maju, dan istilahnya dari pusatnya ya, kenapa enggak belajar langsung di pusatnya," ujar Diaz seperti dikutip dari VOA News, Jumat (11/5/2018).

Keunggulan pendidikan di luar negeri yang telah menerapkan teknologi, juga menjadi alasan Umi Halimatus Saidah dari Jombang, mahasiswa penerima program beasiswa Fulbright.

Belajar di luar negeri, kata Umi, selain untuk menemukan jati diri, juga untuk memperoleh jaringan yang sangat luas di Amerika Serikat. Ia bercita-cita mengembangkan ilmunya nanti, untuk memajukan pendidikan di kota tempat tinggalnya, Jombang.

"Yang saya bayangkan itu untuk penerapan teknologi ke dalam kelas, Indonesia itu kan kayaknya masih kurang ya. Jadi mimpi saya itu, Indonesia itu jangan sampai kalah, teknologi itu harus juga diterapkan dalam kelas, karena mau tidak mau itu harus sejalan. Karena teknologi ini selalu berkembang, ayo kita kejar juga bisa seperti mereka, mengaplikasikan atau mengambil manfaat dari teknologi untuk dimanfaatkan di pendidikan,” tutur Umi.

Program Fulbright di Indonesia telah berusia 65 tahun, dan telah menghasilkan lebih dari 3.000 lulusan dari Indonesia, serta sekitar 1.200 orang Amerika Serikat yang berkontribusi dalam hal penelitian dan pengajaran di Indonesia.

Dari laman resmi AMINEF, di www.aminef.or.id menyebutkan sejumlah nama tokoh penting di Indonesia merupakan alumni penerima beasiswa Fulbright, seperti Anies Rasyid Baswedan, Imam Prasodjo, Saiful Mujani, Bambang Harymurti, Dien Syamsuddin, serta Amien Rais.

Direktur Eksekutif AMINEF, Alan H Feinstein mengatakan, Indonesia merupakan negara di Asia Pasifik yang menyumbang mahasiswa terbanyak untuk program Fulbright. Melalui persyaratan dan tes yang ketat, hanya 8 persen saja yang dapat diterima dari 100 persen pelamar.

Melalui program beasiswa ini, Alan berharap alumni Fulbright dapat menjadi tokoh-tokoh penting di masyarakat dan negara, dengan menyumbangkan pemikiran, pengetahuan dan kemampuannya untuk kebaikan masyarakat dan bangsa.

"Ya jelas bahasa Inggris, tapi mereka juga harus mempertahankan research proposal, usulan untuk penelitian, apakah masuk akal atau visible, jadi bisa dilakukan. Mereka sebagai leader di komunitasnya, dan kira-kira setelah kembali akan menyumbang pada negara atau pada bidangnya, pada Universitasnya atau tidak. Ya jelas, mereka berhasil sekali waktu di Amerika, dan setelah kembali menjadi pemimpin dalam bidangnya, dan menyumbangkan pengetahuannya, dan menjadi tokoh di beberapa bidang, akademik dan non-akademik," kata Alan.(*)

BERITA REKOMENDASI