KIP Jadi Penyelamat Anak Yatim Piatu

KULONPROGO, KRJOGJA.com – Kartu Indonesia Pintar (KIP) menjadi penyelamat pendidikan sekolah Artine Alit Yulita (18) dan Adita Agustine (13). Bantuan tunai dari pemerintah melalui Program Indonesia Pintar (PIP) ini tidak hanya menyelamatkan kedua anak tersebut tetapi jutaan anak usia sekolah dari keluarga tidak mampu.

Baik Artine, panggilan keseharian Artine Alit Yulita dan Adita, panggilan keseharian Adita Agustine merupakan kakak beradik dari lima saudara yang menjadi anak yatim piatu sejak 2010. Sejak ayahnya Kawidjo dan ibunya Kasni meninggal dunia, tinggal bersama kakaknya pertama Athur Sukamto (40), warga Dayakan RT 017/06, Desa/Kecamatan Pengasih, Kabupaten Kulonprogo.

“Kalau tidak menerima bantuan dari KIP, sekarang sudah tidak sekolah lagi. Pada waktu saya umur delapan tahun, ayah meninggal dunia dan ibu menyusul dua tahun kemudian,” ujar Artine.

Tidak terbayangkan bisa melanjutkan sekolah sampai di kelas XII AP (Administrasi Perkantoran) 2 SMKN 1 Pengasih. Menerima bantuan melalui program KIP sejak kelas X SMK tahun pelajaran 2015/2016. Besar bantuan Rp 1 juta per tahun yang diberikan setiap semester Rp 500 ribu dipergunakan untuk membeli buku, peralatan sekolah, tas, sepatu dan kebutuhan sekolah lainnya.

Sebelumnya bisa menyelesaikan di sekolah SMP karena menerima bantuan pendidikan melalui kartu cerdas. Tanpa ada bantuan dari pemerintah, tidak bisa melanjutkan sekolah sampai ke SMK, tuturnya.

Artine di SMKN 1 Pengasih tinggal menunggu pengumuman kelulusan. Meskipun kakaknya tidak memiliki kemampuan membiayai pendidikan, ia bertekad untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

“Saat ini saya sedang menunggu pengumuman kelulusan untuk mempersiapkan diri ikut pendaftaran bidik misi penerimaan mahasiswa baru. Harapan bisa diterima sehingga menerima bantuan biaya kuliah dari pemerintah,” jelasnya.

Guru Bimbingan Konseling (BK) SMKN 1 Pengasih, Wagiman menjelaskan lebih 50 persen dari sekitar 900 siswa mulai dari kelas X sampai XII sebagai penerima bantuan tunai usia sekolah melalui KIP. Setiap semester pihaknya membuat usulan untuk pencairan bantuan kepada siswa pemegang KIP.

Sebagian besar siswa di sini dari keluarga tidak mampu. Keseluruhan terdapat 531 siswa pemegang KIP. “Sekolah sedang mempersiapkan usulan untuk pencairan semester 2,” ujar Wagiman.

Sementara adik Artine, Adita mengungkapkan seperti kakaknya, sebagai pemegang KIP menerima bantuan untuk biaya sekolah di SMPN 1 Pengasih. Adita mengaku tidak kesulitan untuk mencairkan bantuan tersebut. Pihak sekolah memberitahukan ke siswa pemegang KIP untuk mencairkan bantuan ke bank.

“Cukup menunjukkan kartu KIP, petugas bank mencairkan bantuan yang diinginkan,” ujar Adita.

Mengikuti jejak kakaknya Artine, setelah lulus SMP bertekad melanjutkan ke sekolah kejuruan. Harapannya pada saat masuk di SMK, masih ada bantuan biaya pendidikan dari pemerintah.

Athur Sukamto mengungkapkan tanpa ada bantuan pendidikan dari pemerintah, tidak mungkin bisa menyekolahkan adiknya di SMP dan SMK. Penghasilan sebagai petugas pengumpul sampah rumah tangga hanya sekitar Rp 900 ribu per bulan.

Menurutnya, penghasilan tersebut tidak cukup untuk menutup kebutuhan dirinya bersama kedua adiknya masih sekolah. Untuk menambah penghasilan, mencari penghasilan tambahan dengan berjualan air mineral galon.

Untuk uang saku dan kebutuhan lain dua adik sudah Rp 20 ribu per hari. Selain mencukupi kebutuhan di rumah, masih untuk keperluan umum. “Bersyukur menerima bantuan KIP sehingga adik-adik bisa sekolah,” tutur Athur Sukamto.

Sejak kedua orangtuanya meninggal, Athur Sukamto mengambil alih tanggung jawab keluarga. Hanya bertiga tinggal menempati rumah peninggalan orangtuanya.

Pria usia 40 tahun ini menuturkan adiknya yang nomor dua dan nomor empat sudah berkeluarga. Adiknya nomor tiga ikut neneknya di Cilacap, Jawa Tengah. Adik nomor lima meninggal dunia setelah menyelesaikan sekolah SLTA.

“Bantuan pendidikan dari pemerintah sangat membantu saya. Sangat besar manfaatnya. Tanpa ada KIP, tidak mampu untuk menanggung biasa sekolah adik di SMP dan SMK,” katanya. (R Agussutata)

 

BERITA REKOMENDASI