Mahasiswa Arkeologi Tak Melulu Menggali Tanah

YOGYA (KRjogja.com) – Arkeologi biasanya identik dengan kegiatan menggali tanah. Namun nyatanya tidak hanya itu. Arkeologi juga belajar kebencanaan. 

Hal ini terbukti dengan dihelatnya kegiatan Pertemuan Ilmiah Arkeologi Mahasiswa Indonesia (PIAMI) yang ke-16 oleh Himpunan Mahasiswa Arkeologi (HIMA) Universitas Gadjah Mada (UGM) tanggal 14-20 September 2016 yang mengambil tema besar kajian Geoarkeologi untuk Manajemen Resiko Bencana pada Situs Candi.  

Menurut Ketua Pelaksana PIAMI, Siswanto (22) tema ini diambil karena banyak sekali potensi bencana yang mengancam berbagai situs di Indonesia, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Harapannya mahasiswa yang nantinya menjadi arkeolog bisa lebih paham dan mengerti bagaimana cara-cara untuk mencegah dan menanggulangi kerusakan berlebih yang akan terjadi pada situs-situs tersebut. 

Kegiatan PIAMI sendiri diikuti oleh 5 universitas di Indonesia yang memiliki jurusan arkeologi, seperti Universitas Indonesia, Universitas Jambi, Universitas Udayana, Universitas Haluoleo dan Universitas Gadjah Mada. Selama kurang lebih seminggu, peserta dari berbagai universitas tersebut akan melakukan fieldtrip atau kunjungan lapangan ke situs Candi Kedulan, Ijo, Barong, Sambisari dan Banyunibo, yang kesemuanya adalah candi yang pernah terkena dampak dari bencana alam. (MG-03)

BERITA REKOMENDASI